Mengenal Mulyono, Driver Go-Jek Pertama di Indonesia

Minggu, 6 Januari 2019 15:30 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Mengenal Mulyono, Driver Go-Jek Pertama di Indonesia Driver Go-Jek Pertama Mulyono. ©2019 Merdeka.com/Yayu

Merdeka.com - Jumlah pengemudi (driver) ojek online kian hari makin bertambah. Saat ini, jumlahnya diperkirakan sudah mencapai jutaan orang. Lalu siapakah yang menjadi driver pertama di Indonesia ?

Adalah Pak Mulyono, driver Go-Jek dengan nomor registrasi 0001 alias orang yang tercatat pertama kali sebagai driver online.

Pria berusia 52 tahun ini bercerita bahwa awalnya dia berprofesi sebagai ojek pangkalan (opang) bersama 14 orang rekan sesama opang. Kemudian dengan info yang didapat dari seorang teman, dia nekat mendaftar sebagai driver Go-Jek pada tahun 2010.

"Waktu itu Pak Nadiem (founder Gojek) pun masih kuliah. Jadi saya dapat info dari teman kalau mau masuk Go-Jek datang ke Pasar Mayestik. Saya tanya-tanya, saya cari info apa itu Go-Jek. Saya langsung gabung," kata Mulyono saat ditemui dalam acara safety riding di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Minggu (6/1).

Tak butuh waktu lama. Seminggu kemudian Mulyono mendapat panggilan dan mengobrol langsung dengan Nadiem. "Ditanya benar gak mau gabung Go-Jek. Ajak teman-teman yang lain," ujarnya.

Mulyono kemudian mengajak rekan-rekannya di pangkalan. Namun hanya dua orang yang ikut bergabung dengannya. "Saya ini driver pertama jadi (nomor registrasiny) 0001. Saya sendiripun tidak tahu," ungkapnya.

Dia menambahka, saat itu seragam Go-Jek belum hijau seperti sekarang. Yakni seragam berwarna abu-abu. Cara memesannya pun belum segampang sekarang.

"Awal gabung Go-Jek itu kan belum pakai aplikasi tapi by phone. Jadi kita ditelfon oleh call center ditawarkan orderan mau ambil atau enggak. Kalau ambil, nanti dikirim SMS berisi alamatnya," ungkapnya.

Perjuangan Mulyono baru dimulai. Di masa awal kehadiran ojek online kerap kali mendapat intimidasi dari opang. Di beberapa lokasi dia pernah dihadang oleh para opang.

"Saya pernah ditipu, pernah dikalungin golok. Tapi saya pasrah kalau bapak mau habisin saya, saya mencari nafkah saya tidak mengganggu. Di Cikarang juga pernah diuber-uber opang," kenangnya.

Namun saat ini intimidasi seperti itu sudah tidak pernah terjadi lagi. Sebab profesi sebagai ojek online sudah dikenal dan diterima masyarakat luas.

Semenjak menjadi driver ojek online, kehidupan ekonomi keluarganya menjadi lebih baik. Rata-rata dia mampu mengantongi penghasilan Rp 6.000.000 hingga Rp 7.000.000 setiap bulannya.

"Kalau saya bicara ekonomi terus terang dari pada saya ngopang saya lebih bagus gabung di Go-Jek, sangat menunjang. Apalagi dulu saat lagi booming. Masa jayanya 2 tahun," ujarnya.

Selain itu, Mulyono mengungkapkan beberapa kelebihan menekuni profesi sebagai ojek online. Yaitu waktu kerja yang fleksibel. "Kita mau istirahat atau ngebid kapanpun terserah kita. Jadi fleksibel," ujarnya.

Sebagai bentuk rasa syukurnya, Mulyono bahkan menamai anak bungsunya yang kini berusia dua tahun Nadiem Saputra. "Nadiem Saputra karena saya terobsesi dengan Pak Nadiem yang punya pemikiran cemerlang," tuturnya.

Mulyono pun memiliki harapan agar para pengemudi driver online bisa semakin mendapat perlindungan saat bekerja dengan regulasi yang jelas. Baik dari pihak perusahaan maupun pemerintah.

"Juga semakin memperhatikan mitra-mitranya, tolonglah kami-kami ini dimanusiakan dalam hal segi apapun baik penghasilan, keamanan dan sebagainya," tutupnya. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini