Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengapa smelter tak menguntungkan bagi pebisnis pertambangan?

Mengapa smelter tak menguntungkan bagi pebisnis pertambangan? Ilustrasi pabrik pengolahan. ©2012 Merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan menganalisa, pembangunan smelter di Indonesia sangat tidak menarik bagi pengusaha migas. Margin dari pembangunan smelter sangat kecil. Padahal smelter dibutuhkan dalam rangka hilirisasi, sebagai implementasi UU Minerba No 4 Tahun 2009 tentang tambang mineral dan batu bara.

Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Astera Primanto Bakti menuturkan, untuk membangun smelter dibutuhkan investasi cukup besar. Namun tidak mendatangkan untung. Primanto menganalogikan, membangun smelter seperti tukang jahit yang tidak untung.

"Kami mencermati tata kelola proses bisnis di smelting dan memang perlu menjadi perhatian kita. Seolah-olah barang punya penambang mereka cuma dapat bayaran seperti tukang jahit seolah-olah marginnya sedikit. Ini jadi bahan diskusi membuat ini jadi lebih menarik," ucap Primanto di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (19/12).

Menurut Primanto, pembangunan smelter masuk tak terpisahkan dari proses hilirisasi dan menjadi frame implementasi UU Minerba yang mulai efektif berlaku 12 Januari 2014.

"Penyiapan smeltingnya sendiri dalam UU bukan setiap perusahaan wajib bukan setiap tambang. Mereka bisa saweran, join membangun smelter. Bisa juga berikan suplainya ke perusahaan smelting yang sudah ada," jelasnya.

Pemerintah masih mencari cara dan kebijakan lain agar pembangunan smelter menjadi menarik di Indonesia dan memberikan margin yang menggiurkan.

"Sekarang kondisi penyiapan untuk ini belum berjalan dengan baik. Isu yang dinaikkan isu pembuatan smelter, nanti cari-cara lain," tutupnya. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP