Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli baru-baru ini menegaskan bahwa pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK) harus bersifat inklusif. Penekanan ini bertujuan untuk memperluas kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, termasuk penyandang disabilitas.
Langkah ini mencakup penyandang disabilitas, memastikan mereka memperoleh akses pelatihan serta pekerjaan yang layak. Pernyataan ini disampaikan Menaker Yassierli dalam keterangannya di Jakarta pada Jumat, 23 Januari.
Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk bekerja dan hidup sejahtera, sehingga peluang harus dibuka seluas-luasnya tanpa terkecuali. Inklusivitas BLK menjadi kunci utama dalam mewujudkan kesetaraan ini.
Advertisement
Advertisement
Menaker Yassierli secara tegas menyatakan komitmen pemerintah untuk memastikan bahwa BLK dapat diakses oleh setiap individu. Ini termasuk penyandang disabilitas yang seringkali menghadapi hambatan dalam mencari pekerjaan.
Prinsip inklusivitas ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan pelatihan yang adil, di mana setiap peserta dapat mengembangkan potensi diri sepenuhnya. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.
Dengan demikian, BLK tidak hanya berfungsi sebagai pusat pelatihan, tetapi juga sebagai jembatan menuju kesempatan kerja yang lebih luas. Ini adalah langkah konkret dalam mewujudkan kesetaraan hak bagi seluruh warga negara.
Advertisement
Advertisement
Pengembangan BLK harus senantiasa selaras dengan dinamika kebutuhan industri masa kini dan masa depan yang terus berkembang pesat. Menaker Yassierli menyoroti pentingnya pelatihan di bidang teknologi informasi, digital marketing, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pelatihan vokasi dianggap sebagai solusi strategis untuk mengatasi tantangan ketenagakerjaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan. Revitalisasi BLK menjadi bagian integral dari strategi nasional ini.
Tujuannya adalah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing tinggi. SDM ini diharapkan siap bersaing baik di pasar kerja domestik maupun di kancah internasional.
Advertisement
Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut juga menyarankan agar BLK merancang kelas pelatihan khusus. Selain itu, BLK perlu menjalin komunikasi erat dengan pihak yang memiliki akses penempatan tenaga kerja sesuai keahlian yang telah diperoleh.
Advertisement
Langkah revitalisasi dan pemindahan BLK ke pusat kabupaten dinilai akan sangat memperluas jangkauan layanan pelatihan. Ini secara khusus akan bermanfaat bagi masyarakat yang selama ini terkendala oleh jarak dan biaya transportasi.
Dengan akses yang lebih baik, BLK diharapkan mampu berperan aktif dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal di berbagai daerah. Hal ini akan mendukung pemerataan kesempatan kerja.
Menaker Yassierli juga melihat potensi besar di daerah sebagai sumber tenaga kerja unggul yang belum sepenuhnya tergali. Potensi ini memerlukan dukungan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan spesifik industri setempat.
Advertisement
Oleh karena itu, pengembangan BLK tidak hanya berfokus pada peningkatan infrastruktur fisik semata. Namun juga mencakup pembaruan tata kelola dan program pelatihan agar lebih adaptif terhadap perubahan cepat di dunia kerja.
Sumber: AntaraNews