Baterai mobil listrik berbasis nikel disebut masih lebih efisien ketimbang LFP.
Advertisement
Perdebatan soal lithium ferrophosphate (LFP) dan nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik tengah menghangat.
Masing-masing diklaim punya kelebihan.
LFP secara biaya lebih murah. Sedangkan nikel dinilai lebih punya daya tahan tinggi.
Untuk beberapa aspek, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves, Jodi Mahardi menganggap baterai mobil listrik berbasis nikel masih lebih efisien ketimbang LFP.
Khususnya pada tingkat kepadatan energi karena baterai listrik dengan komponen nikel punya daya lebih besar.
Namun secara ukuran lebih kecil dari LFP.
"Yang saya tahu lithium phosphate itu energy density-nya tetap enggak bisa mengungguli nickel based lah. Dan itu baterainya nanti akan membutuhkan baterai ukuran besar. Jadi enggak seefisien yang nickel based,"
Advertisement
kata Jodi di Pullman Jakarta Indonesia Thamrin CBD, Selasa (23/1).
Advertisement
"Correct me if I'm wrong, setahu saya energy density-nya (LFP) belum bisa ngalahin yang nickel based," imbuh Jodi.
merdeka.com
Advertisement
Meskipun pabrikan mobil listrik China saat ini menggunakan LFP. Termasuk dengan Tesla yang membuat mobil listrik Model 3 yang diproduksi di pabrik Shanghai.
"Tesla itu kan menggunakan nikel based juga, yang di Amerika. Yang di China mungkin menggunakan LFP, itu kan mungkin di city (penggunaan dalam kota) aja yang distance-nya enggak jauh," ungkap Jodi.
Terkait pengembangan di Indonesia, Jodi lebih memilih untuk membesarkan nikel yang bahan bakunya sudah ada di Indonesia ketimbang menggunakan LFP.
Advertisement
"Kita sih pinginnya mengembangkan yang nickel based, karena kita yang punya nikelnya," pungkas Jodi.