Luhut Beberkan Bukti Indonesia Tetap Jadi Incaran Investor di Tengah Pandemi Corona

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan Indonesia baru saja menandatangani perjanjian kerjasama dengan Amerika Serikat. Nilai kontrak kerjasama antara perusahaan Bakrie di Kalimantan Timur dengan perusahaan Amerika Serikat itu senilai USD 2,5 miliar.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Luhut Beberkan Bukti Indonesia Tetap Jadi Incaran Investor di Tengah Pandemi Corona
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. ©2020 Humas Kemenko Kemaritiman

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan Indonesia baru saja menandatangani perjanjian kerjasama dengan Amerika Serikat. Nilai kontrak kerjasama antara perusahaan Bakrie di Kalimantan Timur dengan perusahaan Amerika Serikat itu senilai USD 2,5 miliar.

"Tadi malam kita baru tanda tangan (perjanjian kerjasama) USD 2,5 miliar untuk methanol antara Bakrie dengan produk dari Amerika Serikat," kata Menko Luhut dalam Bincang Khusus Sesi IV RRI, Jakarta, Sabtu (16/5).

Dia menambahkan nilai kerjasama akan meningkat dalam dua tahun mendatang hingga USD 7 miliar. Sehingga, kata Menko Luhut, Indonesia masih dipandang berpotensi meski saat ini tengah pandemi Covid-19.

"Jadi walaupun kondisi Indonesia seperti ini tetap seksi, buat orang lain investasi di sini," kata Menko Luhut.

Kerjasama ini, kata dia, hasil pembicaraan kelima antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat. Dalam prosesnya Presiden Joko Widodo dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga telah berkomunikasi intensif.

Bahkan, Presiden Jokowi meminta Menko Luhut untuk lebih sering menawarkan kerjasama dengan negeri paman sam itu. "Karena rupanya presiden dan Trump janjian kalau bisa tiap bulan tawarkan atau tiap nunggu malah lewat telpon sama Trump."

Pemerintah Disarankan Gandeng China dan AS Pulihkan Ekonomi Usai Corona

Konglomerat sekaligus Chairman Lippo Group, Mochtar Riady, mengatakan Indonesia akan sulit untuk kembali memulihkan ekonomi pasca wabah virus corona (Covid-19) usai. Dia lantas membandingkan kondisi saat ini dengan masa pemulihan krisis ekonomi yang melanda dunia pada 2008 silam.

"Ini adalah satu krisis ekonomi yang sangat serius. Maka pandemi ini berapa tahun, sungguh tidak satu orang mengetahui," kata dia dalam sesi bincang-bincang virtual, Kamis (14/5).

Mochtar Riady menyarankan agar pemerintah mampu menjalin hubungan yang lebih dekat dengan negara maju seperti China dan Amerika Serikat (AS). Sebab, negara adidaya tersebut dianggapnya punya modal sumber daya manusia hingga teknologi yang sangat baik.

Menurut dia, tanpa menjalin hubungan dengan negara-negara tersebut maka ke depan ekonomi Indonesia akan kurang maksimal. "Kita perlu mengandalkan kewaspadaan sedia payung. Saya sebagai orang tua hanya bisa memberikan warning nothing to lose," imbuh dia.

Sebagai gambaran, wabah corona disebutnya telah menimbulkan efek domino yang mengacaukan perekonomian dunia. Dia mencontohkan, banyak perusahaan besar yang bangkrut akibat kondisi ini.

"Domino effect terjadi setelah 10 hari (pandemi tersebar). Singapore Airline kesulitan, perusahaan minyak raksasa bangkrut 10 hari kemudian, satu perusahaan raksasa bangkrut, perusahaan minyak raksasa bangkrut," tutur dia.

Rekomendasi