Krakatau Steel Restrukturisasi Utang 4 Bank, Tenor Diperpanjang 10 Tahun
Merdeka.com - Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), Silmy Karim, mengungkapkan restrukturisasi atau penyelesaian utang perusahaan bakal diperpanjang hingga 10 tahun ke depan terhitung mulai 2019 ini. Adapun utang tersebut berasal dari empat bank, yaitu CIMB Niaga, Standard Chartered, OCBC, dan DBS.
"Skemanya adalah, satu, kita melakukan reschedule utang. Kita langsung akhir saja ke 10 tahun dan dengan cicilan bersahabat dengan kemampuan Krakatau Steel secara bertahap," kata dia saat ditemui di Kantor BKPM, Jakarta, Jumat (13/12).
Utang perusahaan di keempat bank tersebut porsinya 22 persen dari total utang yang harus direstrukturisasi. Namun, Silmy enggan mengungkapkan lebih jauh detail utang perusahaan.
Dia menjelaskan bahwa Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir turun langsung dalam membantu restrukturisasi utang perusahaan pelat merah itu.
"Update-nya sangat baik dalam arti Pak Menteri bersama Wamen yang ditugaskan luar biasa. Jadi saya sampaikan tinggal sedikit lagi kita bisa selesaikan restrukturisasi utang jadi 100 persen. Semangat Krakatau Steel bisa diselesaikan Desember ini dengan potensi tidak lebih dari Januari bisa selesai," ujarnya.
Bangun Pabrik Baru, Krakatau Steel Targetkan 10 Juta Produk Baja
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPT. Krakatau Steel (Persero) Tbk terus berupaya untuk mencapai target kapasitas produksi hingga 10 juta ton di tahun 2019. Untuk mencapai tujuan itu, mereka bekerjasama dengan sejumlah mitra strategis seperti POSCO Korea dan Nippon Steel dari Jepang.
Senior Manager External Communication PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Vicky Muhammad mengungkapkan, industri baja adalah industri dasar suatu negara, sehingga kebedaraannya harus selalu ada dan berkembang.
"KS (PT. Krakatau Steel) sebagai industri baja milik negara terus mengembangkan kapasitas produksinya yang akan menjadi 10 juta kluster baja di Kota Cilegon. Kita tidak sendirian, kita menggandeng dengan mitra strategis seperti POSCO dari Korea dan Nippon Steel dari jepang, sudah membuat pabrik dan akan terus dikembangkan," kata Vicky di kantornya.
Selain bekerjasama dengan mitra strategis, untuk mencapai target produksi 10 juta ton, PT. Krakatau Steel juga tengah membangun pabrik Hot Strip Mill (HSM) untuk yang kedua. Dengan adanya pabrik baru ini, maka produksi baja diperkirakan bisa meningkat menjadi 4,6 juta ton.
"Pabrik HSM nomor 2 yaitu kapasitas 1,5 juta ton sehingga akan menambah kapasitas kita menjadi sekitar 4,6 juta ton per tahun. Artinya butuh pengembangan lagi untuk capai 10 juta ton. Target HSM 2 sampai 2019 ini semester 1 itu sudah mulai beroperasi," terangnya.
PT. Krakatau Steel, kata Vicky, akan terus memikirkan opsi dalam upaya meningkatkan produksi baja. "Jadi sebenarnya industri baja didedikasikan untuk negaranya sendiri. Tetapi tidak menutup kemungkinan, dalam porsi tidak terlalu banyak KS juga mengekspor produknya seperti Australia, Spanyol dan beberapa negara lain," tuntasnya.
Untuk informasi, PT. Krakatau Steel bersinergi dengan beberapa BUMN dalam penggunaan produksi baja mulai dari pembangunan infrastruktur di Pelabuhan Patimban, pasokan baja untuk proyek elevated Toll Road Jakarta-Cikampek 2, Tol Kunciran Serpong hingga membantu dalam penyediaan baja bagi pembuatan transportasi seperti penyediaan pelat untuk reparasi kapal, pembuatan gerbong kereta dan pembangunan stasiun dengan KAI Balai Yasa.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya