Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kereta buatan lokal lebih bermartabat daripada beli bekas Jepang

Kereta buatan lokal lebih bermartabat daripada beli bekas Jepang pabrik INKA. ©2013 Merdeka.com/Ardyan Mohammad Erlangga

Merdeka.com - Selama ini, Indonesia adalah salah satu negara yang rajin membeli alat transportasi bekas negara lain. Mulai dari pesawat, kapal feri bekas Inggris, hingga seperti gerbong kereta bekas Jepang. Padahal, industri dalam negeri menyatakan siap untuk memenuhi kebutuhan alat transportasi nasional.

Pemerintah pun mulai malu dengan kebiasaan membeli transportasi bekas tersebut. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro menyebut kebiasaan itu membuat Indonesia tidak bermartabat. Membeli kereta bekas dari Jepang membuat Indonesia dipandang rendah di mata dunia.

"Bekas Jepang kita senang-senang saja ya kalau hibah gratis enggak apa apa. Tapi menggunakan gerbong buatan Indonesia lebih bermartabat, ini lho buatan Indonesia," ucap Bambang dalam acara diskusi Kadin di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (24/6).

Lantaran merasa malu menggunakan transportasi bekas dari negara lain, pemerintah berencana memberikan pinjaman modal kepada PT INKA sebesar Rp 118,5 miliar dalam pengadaan 1200 unit gerbong PPCW di PT INKA.

"Rp 118,5 miliar untuk pinjaman modal kerja dengan mekanisme PIP. Dana ini kita akan gunakan untuk membuat gerbong tadi," katanya.

Sekadar diketahui, PT Industri Kereta Api (INKA) sudah mampu memproduksi kereta listrik (KRL) untuk kebutuhan angkutan umum Jabodetabek. Namun PT KAI selaku operator jalur commuter line dua tahun ini lebih memilih mendatangkan kereta bekas dari Jepang.

Direktur Utama INKA Agus Purnomo memaklumi pilihan PT KAI yang memilih impor kereta bekas ketimbang membeli kereta dari INKA. Sebab, pemerintah mewajibkan operator layanan kereta menetapkan batas maksimal harga tiket.

Karena harus murah, maka KAI pasti lebih suka bila biaya pengadaan kereta baru terjangkau untuk menutup kebutuhan operasional.

"Harga satu KRL bisa USD 1 juta satu gerbong, di luar negeri seperti Jepang KRL baru malah USD 1,8 juta. Tapi tarifnya diatur pemerintah, tidak boleh tinggi, sehingga yang saya tahu, bagaimana investasi ini kembali sehingga kalau beli baru tidak balik duitnya," ungkap Agus di Kantor Pusat KAI, Madiun, beberapa waktu lalu.

INKA pertama kali memasok KRL untuk PT KAI pada 2011. Jumlahnya 40 kereta. Perusahaan pelat merah ini belajar membuat KRL dari Perusahaan Jepang Hitachi. Kini insinyur-insinyur INKA sudah mampu mendesain KRL sendiri.

Untuk memperluas pasar KRL buatan Indonesia, INKA menggandeng konsorsium Bombardier. Perusahaan berpusat di Kanada itu memiliki cabang di Swedia yang khusus memproduksi kereta api. Dengan nama besar Bombardier diharapkan dapat mendongkrak INKA saat mengikuti tender. Khususnya ketika bersaing dengan kereta asal China.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan juga pernah mengungkapkan keprihatinannya. Dia berambisi menggunakan kereta buatan dalam negeri. Dahlan menegaskan, tiga tahun lagi, KAI tidak akan mengimpor kereta bekas. Saat ini, lanjut dia, PT INKA sedang meningkatkan kualitas pembuatan keretanya.

Nantinya, kereta buatan PT INKA akan dipakai oleh KAI. "INKA saat ini sedang memenuhi keinginan kualitas yang diminta dari KAI. Tiga tahun ke depan mereka bisa dan KAI tidak lagi menggunakan kereta bekas," ucap Dahlan.

Bahkan, Dahlan berencana mengekspor kereta buatan PT INKA jika kualitasnya sudah memenuhi standar dunia.

"Saya lebuh fokus PT INKA maju lagi karena pekerjaan mereka kereta api banyak dan kualitasnya masih harus ditingkatkan lagi. Karena kereta api KRL kita pasar kita besar kalau bagus kan nanti bisa ekspor. Jangan ganggu-ganggu dengan bukan bidangnya (mobil)," kata Dahlan. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP