Keluh Kesah Pedagang Pasar Senen Jelang HUT RI, Harga Bahan Baku Pernak Pernik Naik tapi Omzet Turun 70 Persen

Stok pernak-pernik untuk perayaan 17-an tahun ini mengalami penurunan yang signifikan.

Linda Maulina Khairunnisa
Keluh Kesah Pedagang Pasar Senen Jelang HUT RI, Harga Bahan Baku Pernak Pernik Naik tapi Omzet Turun 70 Persen
Siti Kusmayati (48) sedang melayani pembeli yang datang ke tokonya. (Foto:Linda/Liputan6) (© 2025 Liputan6.com)

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, suasana ceria dengan atribut merah putih terlihat di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Meskipun lorong-lorong pasar dipenuhi dengan bendera dan perlengkapan upacara, kenyataannya omzet para pedagang mengalami penurunan yang signifikan, bahkan mencapai 70 persen dibandingkan tahun lalu.

Siti Kusmayati (48), pemilik Toko Tunas Karya Mandiri mengatakan bahwa omzet yang diperoleh tahun ini sangat jauh menurun. "Turunnya 70 persen. Jauh, jauh banget. Kalau tahun kemarin masih mending, sekarang jauh berbeda," ujar Siti kepada Liputan6.com, Selasa (12/8).

Siti juga menambahkan bahwa stok barang yang disiapkan untuk tahun ini berkurang drastis, dari lebih dari seribu meter kain kini hanya tersisa sekitar seribu meter saja.

Pengalaman serupa dirasakan oleh Sri Yati (40), penjaga Toko Sheraton Advertising. "Omzet tahun ini terjun bebas. Sejak pandemi Covid-19 memang sudah turun setengahnya, tapi sekarang lebih parah lagi," kata Sri.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan omzet ini adalah meningkatnya persaingan dari penjualan online. Munculnya berbagai platform e-commerce membuat konsumen lebih memilih berbelanja secara daring, sehingga jumlah pembeli di pasar tradisional menurun drastis.

Jumlah Pedagang Meningkat

Pilu Pedagang Pasar Senen Jelang HUT RI, Omzet Anjlok 70%
Siti Kusmayati (48) sedang melayani pembeli yang datang ke tokonya. (Foto:Linda/Liputan6) © 2025 Liputan6.com

Walaupun demikian, Siti dan Sri juga memanfaatkan penjualan online untuk memperluas jangkauan pelanggan. Sayangnya, kontribusi dari penjualan daring terhadap total omzet mereka masih belum cukup berarti.

"Penjualan online dan offline hampir seimbang, tetapi jumlah pembeli di online tidak sebanyak sebelumnya karena kini banyak yang juga berjualan," jelas Sri.

Siti menambahkan bahwa banyak orang masih lebih memilih untuk berbelanja secara langsung karena mereka dapat melihat dan memilih barang secara fisik. Akan tetapi, terdapat kendala teknis yang membuat Siti tidak dapat mengoptimalkan penjualan secara daring, seperti keharusan untuk melakukan siaran langsung (live) yang bukan merupakan keahliannya.

Persaingan yang semakin ketat di era digital juga memberikan tekanan pada bisnis mereka. Selain itu, kenaikan harga bahan baku memaksa para pedagang untuk menaikkan harga jual. Namun, pelanggan sering kali masih melakukan tawar-menawar dengan harga lama.

"Setiap tahun, harga bahan baku pasti naik, terutama saat musim pesta seperti ini. Namun, pembeli kadang tetap menawar dengan harga lama. Kami harus menerima keadaan ini, selama masih ada sedikit keuntungan untuk membayar gaji dan biaya operasional," ujar Siti.

Harga Bahan Baku Alami Fluktuasi Signifikan

Sri mengungkapkan bahwa harga bahan baku terus mengalami kenaikan setiap tahunnya, bahkan bisa mencapai ratusan ribu rupiah, tergantung pada jenis produk.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Siti dan Sri tetap berharap usaha mereka dapat kembali sepopuler sebelumnya. Yang terpenting bagi mereka adalah dapat bertahan agar para karyawan yang bergantung pada toko tersebut tetap mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rekomendasi