Kelapa Sawit, si Pohon Rakus
Merdeka.com - Memiliki ribuan hektar hutan kelapa sawit tak menjamin kelestarian alam Indonesia. Sejumlah riset dan jurnal menyampaikan bahwa penanaman hutan kelapa sawit secara masif akan membahayakan ekosistem.
Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan WALHI Nasional, Uli Artha Siagian menuturkan, bahwa merujuk riset yang pernah dipublikasi, jumlah air yang diserap melalui akar pohon kelapa sawit sangat besar. Hal ini dipahami mengingat bentuk pohon sawit yang besar.
"Beberapa riset menyebutkan bahwa untuk 1 batang pohon sawit dalam satu hari membutuhkan paling tidak 100 liter air," ujar Uli kepada merdeka.com, Minggu (9/10).
Uli pun menyampaikan dengan jumlah air yang diserap sangat besar, akar serabut pohon kelapa sawit disebut sebagai pohon rakus. "Akar sawit lebih rakus, pada air dan oksigen" pungkasnya.
Dampak dari pembukaan lahan untuk kelapa sawit secara masif kemudian menimbulkan kerugian ekosistem. The Center for Science in the Public Interest (CSPI) bahkan pernah menerbitkan jurnal mengenai ancaman bahaya pembukaan lahan untuk kelapa sawit secara masif.
Kebanyakan hewan tidak dapat bertahan hidup di hutan kelapa sawit. Hal ini disebutkan dalam jurnal CSPI, bahwa hutan kelapa sawit seperti gurun biologis.
Begitu kelapa sawit ditanam, pohon-pohon tersebut secara otomatis menggantikan berbagai macam ratusan jenis pohon, sulur, perdu, lumut, dan tumbuhan lainnya yang ditemukan di setiap hektar hutan hujan dataran rendah.
Sebagai tanaman industri perkebunan, dalam jurnal juga disebutkan, kelapa sawit ditanam sebagai monokultur. Yang artinya, tanaman lain sulit tumbuh di sekitar pohon kelapa sawit.
"Karnivora seperti harimau juga tidak dapat bertahan hidup. Perkebunan menyediakan habitat hanya 20 persen atau kurang dari mamalia yang sebelumnya tinggal, reptil, dan burung," demikian penjelasan jurnal yang dikutip pada Minggu (9/10).
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya