Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jangan sampai jengkol dan petai juga diimpor

Jangan sampai jengkol dan petai juga diimpor Jengkol. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Harga jengkol dan petai saat ini mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah bangsa ini. Harga jengkol naik gila-gilaan. Dari biasanya hanya Rp 8.000-10.000 per kg, kini sudah bertengger di kisaran harga Rp 50.000-60.000 per kg.

Hal serupa juga terjadi pada petai yang belakangan ini harganya mulai merangkak, mengikuti jejak jengkol. Biasanya, harga petai hanya Rp 5.000 per papan. Kini, harganya naik tiga kali lipat.

Rata-rata, harga petai di pasar tradisional mencapai Rp 25.000 per papan. "Penyebab harga petai naik sama seperti jengkol, pasokannya minim," ungkap ketua asosiasi pedagang pasar seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran kepada merdeka.com, Kamis (6/6).

Meskipun sempat menyita perhatian pemerintah, sejauh ini belum ada langkah strategis yang dilakukan untuk membuat harga jengkol normal. Biasanya, jika harga komoditas pangan melejit, jurus yang diambil pemerintah adalah mengimpor bahan makanan tersebut dari negara lain. Dengan alasan untuk memenuhi permintaan dan menjaga pasokan tetap normal. Lalu bagaimana penyikapan untuk jengkol dan petai yang harganya meroket tajam karena minimnya pasokan?

"Jangan sampai jengkol dan petai juga diimpor hanya untuk menjaga harga tetap normal," tegasnya.

Dia menyebutkan, selain Indonesia, ada dua negara yang kualitas produksi jengkol dan petai cukup bagus. "Filipina dan China. Tapi ya syukurlah selama ini kita belum pernah impor jengkol," katanya.

Menurutnya, lebih baik pemerintah tidak perlu repot-repot mengurusi masalah harga jengkol dan petai yang terus merangkak naik. Apalagi jika cara yang digunakan justru memalukan.

"Kebangetan kalau impor jengkol dan petai. Mending pemerintah tidak usah urusin jengkol. Urusin korupsi saja," ucapnya. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP