Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jalan tol di atas laut jadi solusi masalah Tanjung Priok

Jalan tol di atas laut jadi solusi masalah Tanjung Priok SBY uji coba jalan Tol Bali. ©2013 Rumgapres/Abror Rizki

Merdeka.com - Banyaknya antrean di Pelabuhan Tanjung Priok akibat lamanya waktu bongkar muat menyebabkan kemacetan di sepanjang Pelabuhan Tanjung Priok. Pemerintah diminta memanfaatkan peran Cikarang Dry Port (CDP) sebagai pengganti pelabuhan tersebut.

Ketua Forum Transportasi Laut Masyarakat Transportasi Indonesia (FTL-MTI) Ajiph Anwar mengatakan Cikarang Dry Port tersebut memang dikelola swasta. Tetapi, jika tidak dimanfaatkan akan merugikan kepentingan nasional karena lamanya pelayanan di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Cikarang Dry Port itu investasi nasional meski dikelola swasta. Jika tak dimaksimalkan jelas kerugian nasional," ujar dia di Jakarta, Rabu (31/7).

Ajiph menegaskan pemerintah beralasan tidak bisa mendistribusikan peti kemas ke CDP secara maksimal karena akses jalan macet. Menurut dia, masalah macet merupakan masalah klasik yang selalu dijadikan alasan pemerintah.

Dia menjelaskan pemerintah sebenarnya pernah memiliki rencana untuk membangun jalur khusus terintegrasi untuk menghubungi antara Pelabuhan Tanjung Priok menuju Karawang melalui jalur laut seperti yang sudah sukses dibangun di Tanjung Benoa, Bali. Ajiph yakin pemerintah bisa membangun jalur khusus laiknya jalan tol Tanjung Benoa di atas laut.

"Jalur khusus itu satu hal ideal dan mestinya bisa direalisasikan. Ketimbang membuka jalan tol baru di darat di mana pembebasan lahan sangat mahal," tegas dia.

Jika jalur khusus seperti itu terwujud, lanjut dia, penumpukan peti kemas tidak akan terjadi di masing-masing pelabuhan termasuk Cikarang Dry Port. "Dengan rencana membangun tol, tidak akan terkejar dan masalah akan terus terulang," kata dia.

Di sisi lain, kesemrawutan peti kemas sekarang ini juga lantaran PT Pelindo II dan Bea Cukai kinerjanya tidak efisien. Bea Cukai dan Pelindo memang bertugas untuk mengawal pendapatan negara dan menyeleksi barang masuk. Namun, kenyataannya Pelindo dan Bea Cukai malah memperlambat peredaran arus barang.

"Pelabuhan di luar sangat lancar, kenapa Pelindo tidak bisa. Misal Bea Cukai malah memperpendek jam kerja sehingga ada penumpukan, kini diperpanjang lagi," kata dia.

Dia meminta Bea Cukai dan Pelindo untuk berkomunikasi lebih terbuka agar persoalan penumpukan peti kemas seperti sekarang ini tidak terulang. "Mereka harus lebih efisien seperti yang dilakukan CDP. Pelindo tambah juga peralatan agar mempercepat, kemudian bea cukai membuka komunikasi dengan pihak luar terkait pengeluaran barang, jangan semua melalui jalur merah," pungkas dia. (mdk/bmo)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP