Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jakarta diminta fokus pada sektor jasa, industri pindah ke Bekasi

Jakarta diminta fokus pada sektor jasa, industri pindah ke Bekasi Diskusi IAP. Istimewa ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI), Hari Ganie meminta kepada Gubernur DKI Jakarta yang baru nantinya lebih fokus pada hal-hal strategis perkotaan yang terkait fungsinya sebagai kota jasa dan perdagangan. Kalau tidak, maka Jakarta bukan saja akan tertinggal dari kota-kota dunia lainnya, namun juga dengan kota-kota peyangga di sekitarnya (Bodetabek).

"Fungsi Jakarta adalah sebagai kota jasa dan perdagangan. Jangan kemana-mana, jangan melebar ke semua fungsi. Saya kira Jakarta fokus saja bagaimana melayani kebutuhan warga, stakeholder, investor, dan pelaku usaha," ujar Hari dalam acara diskusi 'Menggagas Jakarta Masa Depan' yang diadakan Ikatan Ahli Perencana (IAP) di Jakarta.

Menurutnya, sejumlah kawasan industri yang masih beroperasi di Pulo Gadung, Cakung dan Daan Mogot harusnya dialihkan ke Bekasi atau Tangerang. Begitu juga fungsi sebagai tujuan wisata biar dilakukan daerah peyangga yang ada di selatan seperti Bogor dan Cianjur.

"Yang lebih penting yang harus dilakukan Gubernur DKI Jakarta terpilih nantinya adalah membangun koordinasi dan komunikasi yang baik dengan pemerintah daerah yang ada di sekitar Jakarta untuk menjamin kebutuhan dan infrastruktur sebagai kota jasa perdagangan terpenuhi," katanya.

Dilain hal, dia menyebut bahwa Jakarta sudah memasuki kondisi rawan air bersih, karena pasokan air dari Waduk Jatiluhur semakin berkurang. Jika dibiarkan, maka bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan Jakarta mengalami krisis air bersih.

"Persoalan-persoalan penting seperti kepastian pasokan air bersih ini seharusnya mendapat perhatian, dan secepat mungkin ada konsensus-konsensus dengan daerah-daerah peyangga terkait kebutuhan dasar warga Jakarta," tegas praktisi perencana kota tersebut.

Tak hanya itu, Jakarta saat ini menghadapi tantangan-tantangan lain yang membuat fungsi kota tidak nyaman lagi. Antara lain harga tanah yang semakin mahal dan tidak terkendali. Akibatnya banyak pengembang mulai memilih kota lain di luar Jakarta untuk melakukan pembangunan terutama proyek hunian. Demikian juga saat ini banyak perguruan tinggi yang memilih memindahkan kampusnya ke daerah peyangga.

"Kenapa ini terjadi? Karena mereka menilai kalau tetap ada di Jakarta maka kehidupan tidak lagi produktif. Macet dimana-mana, sehingga ada kekhawatiran kehidupan mereka terganggu. Ini tantangan untuk Jakarta," papar dia.

Tantangan lain yang dihadapi adalah Jakarta memiliki pesaing-pesaing akibat tumbuhnya kota-kota baru di sekitarnya. Hari menyebutkan Bodetabek saja, kini terus melebar. Kalau dulu di wilayah barat pertumbuhan kota hanya sampai Tangerang, maka sekarang sudah sampai ke Maja. Begitu pula di wilayah timur, tidak hanya Bekasi yang tumbuh pesat, tetapi juga sudah mencapai Cikarang dan Kerawang. Inilah pesaing-pesaing langsung Jakarta di regional Bodetabek.

Dengan begitu, Jakarta sebenarnya bukan bersaing dengan kota-kota besar dunia lainnya, karena secara fungsi Jakarta justru menghadapi persaingan dengan kota-kota di sekitarnya. Ini kata Hari Ganie yang harus diantisipasi Jakarta.

"Salah satunya dengan memperkuat kerja sama dengan stakeholder dunia usaha. Dunia usaha jangan dianggap musuh, tapi jangan juga sampai kebijakan penataan kota didominasi dunia usaha. Sekali lagi, komunikasi yang baik dibutuhkan untuk pembangunan Ibukota," kata Hari.

Ketua IAP DKI Jakarta, Dhani Muttaqin menyebutkan, permasalahan kota yang kini melanda Jakarta terjadi akibat adanya dominasi yang berlebihan dari salah satu aktor dalam perkotaan. Dominasi sepihak dari salah satu atau beberapa stakeholder kota sebisa mungkin harus dihindari. Aktor yang dimaksud antara lain dari korporasi badan swasta, pemimpin yang populis, ataupun dari birokrasi yang prosedural-mekanistis.

Bila korporasi swasta terlalu mendominasi dalam mempengaruhi rencana dan kebijakan kota, ujar Dhani, maka pembangunan kota cenderung berorientasi pada kegiatan ekonomi, tanpa memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. "Sedangkan bila birokrat terlalu mendominasi kebijakan perkotaan, maka kemajuan perkotaan akan sangat bergantung dari inisiatif dan kinerja dari para pengelola kota tersebut," tegas dia.

IAP Jakarta berharap siapa pun nantinya yang terpilih sebagai DKI-1 harus lebih mengerti dan memahami persoalan tata ruang. Terutama dalam mengawal realisasi produk tata ruang dan menegakkan hukum terhadap pelanggaran tata ruang. Apalagi saat ini, realitas perkembangan kota Jakarta telah banyak pelanggaran terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP