Ini penyebab ekspor makanan dan minuman Indonesia masih melempem
Merdeka.com - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) mengakui ekspor makanan dan minuman Indonesia masih belum meningkat hingga saat ini. Penyebabnya, permintaan dunia sedang turun, serta adanya perubahan aturan di beberapa negara tujuan, seperti aturan registrasi dan pelabelan komposisi bahan (ingredients).
"Penyesuaian cukup lama, karena harus ganti ingredients, dicoba dulu ingredients. Kesulitan UKM (Usaha Kecil Menengah), jumlah kecil-kecil kesusahan. Perusahaan besar masih berani, tapi UKM suruh pesan kemasan segitu besar kan kasihan," ujar ketua Gapmmi Adhi Lukman, Di Jakarta, Kamis (29/9).
Perubahan aturan tersebut salah satunya telah diterapkan di Kanada, Korea Selatan, China dan Australia. Terlebih lagi di china ada beberapa produk makanan dan minuman yang di tarik kembali.
"China ada beberapa produk kita yang harus ditarik balik engga boleh kirim dulu karena ada perubahan ingredients. Jadi harus ubah ingredients, label. Mamin susahnya gitu. Termasuk biskuit."
Untuk mengurus registrasi tersebut memakan waktu yang cukup lama. Antar negara ASEAN saja seperti ke Myanmar atau Filipina perlu proses yang menghabiskan waktu satu tahun. "Kita keluhkan ke pemerintah, mau ke Myanmar, Filipina setahun lebih. Di sini ngeluh ke BPOM lama ke sana lebih lama lagi," ujarnya.
Target nilai ekspor makanan dan minuman 2016 sebesar USD 6,6 miliar namun sampai Juli 2016 baru mencapai USD 3,3 miliar.
"Kalau baru USD 3,3 miliar sampai Juli kemungkinan agak sedikit naik. Tapi, yang agak bagus balance sheetnya mengecil, sampai Juli kemarin defisitnya sekitar USD 250 juta. Sudah ada kemajuan,"
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya