Ini Peluang dan Tantangan Ekonomi Indonesia di 2020 Versi Sri Mulyani

Selasa, 7 Januari 2020 19:59 Reporter : Dwi Aditya Putra
Ini Peluang dan Tantangan Ekonomi Indonesia di 2020 Versi Sri Mulyani Sri Mulyani. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis perekonomian nasional pada tahun ini akan lebih baik dibandingkan 2019. Hal ini tercermin dari kondisi ekonomi tahun lalu yang tercatat membaik dari beberapa lembaga internasional.

"Kita harap 2020 kita harap ada pemulihan, namun kita juga lihat masih ada risiko untuk outlook 2020," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani di Kantornya, Jakarta, Selasa, (7/1).

Seperti diketahui, pada pertengahan 2019 Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sempat merevisi ke bawah ekonomi tahun ini. Namun, pertumbuhan ekonomi diyakini masih akan lebih baik dibandingkan dengan perekonomian tahun lalu.

"Namun risk yang muncul masih ada. Seperti brexit dan tensi geopolitik. Ini jadi tantangan kita, tapi sekaligus jadi ada optimisme maupun risiko di 2020," jelasnya.

Sri Mulyani menambahkan pada tahun ini pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,3 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pertumbuhan itu ditopang oleh sektor konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utamanya.

Akan tetapi, beberapa risiko masih akan mempengaruhi ekonomi 2020, yaitu ketidakpastian perang dagang, brexit, perlambatan ekonomi beberapa negara berkembang seperti India dan Tiongkok, pemilu di Amerika Serikat (AS), peningkatan utang yang berisiko pada stabilitas sistem keuangan, serta tensi politik dan geopolitik.

1 dari 1 halaman

Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Hingga ICP APBN 2019 Meleset

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengakui ada beberapa realisasi asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang meleset. Salah satunya realisasi pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan hanya menyentuh 5,05 persen.

Menurutnya, meski angka ini belum final, namun capaiannya jauh dari target yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar 5,3 persen. Akan tetapi, capaian tersebut disebut tetap positif di tengah banyaknya tekanan dari sisi ekonomi global.

"Dengan tekanan tadi kita tetap mampu menjaga pertumbuhan kita di atas 5 persen. APBN growth yang diestimasi 5,3 persen realisasinya 5,05 persen estimasi," kata Menteri Sri Mulyani di Kantornya, Jakarta, Selasa (7/1).

Kemudian untuk lifting minyak dan gas tidak sesuai dengan estimasi. Lifting minyak pada 2019, realisasinya hanya mencapai 741.000 barel per hari. Sementara, target di APBN sebesar 775.000 barel per hari.

Lifting gas, realisasi pada 2019 hanya sebanyak 1.050.000 barel setara minyak per hari. Di mana, target sebesar 1.250.000 barel setara minyak per hari.

Realisasi lifting migas tersebut, lanjut Menteri Sri Mulyani, mempengaruhi pendapatan negara dari sektor migas pada 2019. Di mana, patokan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP), tercatat terealisasi sebesar USD62 per barel. Lebih rendah dibandingkan target harga sebesar USD70 per barel.

Terakhir untuk tingkat suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan di APBN 2019 dinilai buruk. Di mana, ditargetkan sebesar 5,6 persen dari estimasi realisasi 5,3 persen. [idr]

Baca juga:
Kemenkeu Siapkan Rp5 Triliun untuk Dana Darurat Bencana di 2020
Kemenkeu Siap Berikan Dana Talangan Untuk Tambahan Kapal Amankan Laut Natuna
Desember 2019, Utang Pemerintah Turun Menjadi Rp4.778 Triliun
Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Hingga ICP APBN 2019 Meleset
Gaji Pegawai KPK Dalam 2 Tahun Transisi Jadi PNS Dibayar Penuh
Berkat Rokok, Kinerja Penerimaan Bea Cukai 2019 Tembus Rp213 Triliun

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini