Harga TBS Dalam Negeri Anjlok, Petani Sawit Minta DMO dan DPO Segera Dihapus

Rabu, 29 Juni 2022 14:45 Reporter : Merdeka
Harga TBS Dalam Negeri Anjlok, Petani Sawit Minta DMO dan DPO Segera Dihapus Kelapa Sawit. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Petani sawit meminta pemerintah untuk menghapus kebijakan domestic market obligation (DMO) dan domestic price obligation (DPO). Sebab, Kebijakan DMO dan DPO serta flush out (FO) ini dinilai menjadi biang kerok lambatnya ekspor CPO dan anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung mengatakan, saat ini harga rata-rata TBS berada dikisaran Rp845 per Kg untuk petani nonmitra dan Rp1.441 per Kg untuk petani mitra. Harga TBS bagi petani yang bermitra dengan produsen sawit ini pun masih berada di bawah harga yang ditetapkan Dinas Perkebunan.

"Begitu tragisnya nasib petani sawit saat ini, hari demi hari (harga TBS) terus berkurang," kata dia dikutip Rabu (29/6).

Gulat menjelaskan, selama ini mekanisme perhitungan harga TBS sawit di Indonesia tidak pernah menggunakan komponen biaya produksi atau harga pokok produksi (HPP), melainkan dengan melihat hasil tender internasional di Rotterdam, yang kemudian ditender di dalam negeri.

"Harga tender di dalam negeri sangat mencengangkan yaitu hanya Rp8.000, sedangkan harga tender CPO internasional itu mencapai Rp20.400," tutur dia.

2 dari 2 halaman

Harga TBS Luar Negeri Beda dengan Indonesia

Menurut Gulat, perbedaan harga TBS di dalam negeri dan internasional ini disebabkan oleh sejumlah aturan yang ditetapkan pemerintah seperti DMO dan DPO.

"Itu karena beban DMO, DPO, FO, BK dan PE, ini semuanya beban. Maka tergerus lah harga dari Rp20.400 menjadi Rp8.000. Ini sangat mencengangkan. Jadi harga CPO dunia ketika ditender di Indonesia anjlok lebih dari 60 persen," jelasnya.

Oleh sebab itu, petani berharap pemerintah segera menghapuskan 'beban-beban' yang selama ini membuat harga TBS petani anjlok. Setidaknya, ada dua beban yaitu DMO dan DPO yang bisa segera dihapuskan agar bisa kembali mengerek harga TBS petani di dalam negeri.

"Jadi kalau dibilang anjloknya harga TBS itu karena apa? ya karena beban-beban tadi. Kalau untuk BK (Bea Keluar) dan PE (Pungutan Ekspor) kami setuju tetap dilanjutkan. Tapi kalau untuk yang 3 beban (DMO, DPO dan FO) itu harus dihapus.

Itulah salah satunya cara untuk mendongkrak harga TBS petani. Jadi bukan malah membebani TBS petani dengan berbagai pungutan," tutup dia.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Harga Minyak Sawit Mentah Anjlok, Kini Hanya Rp8.443 per Kilogram
Ini Tujuan Jaksa Agung Gandeng BPKP: Audit Korupsi Sentuh Rakyat Kecil
Mendag Zulhas Minta Produsen Minyak Beli Sawit Rakyat Rp1.600 per Kg
Harga Minyak Goreng Sudah Stabil, Petani Sawit Masih Rasakan Imbas Kelangkaan
OTK Serang Petani dan Lukai Anak-Anak di Kampar, Polisi Amankan 17 Orang
Mendag Zulkifli: Masalah Minyak Goreng Bukan karena Mafia, tapi Kenaikan Harga CPO

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini