Freeport Janjikan Kapasitas Produksi Kembali Normal di 2022

Rabu, 12 Februari 2020 18:29 Reporter : Merdeka
Freeport Janjikan Kapasitas Produksi Kembali Normal di 2022 Freeport. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi di Papua sepanjang 2019 kemarin minus 15,72 persen. Salah satu penyebab utamanya yakni adanya penurunan produksi tambang di Freeport.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas tak mengelak jika pertumbuhan ekonomi Papua memang banyak bergantung pada hasil produksi perusahaannya. Dia mengatakan, produksi Freeport memang berkurang 50 persen sejak beralih ke tambang bawah tanah.

"Jadi produksi saat ini memang berkurang 50 persen. Tadi dikatakan pertumbuhan ekonomi di Papua minus, tidak bertumbuh. Itu memang antara lain karena produksi Freeport turun separuh," ujar dia saat rapat dengan Komite II DPD RI di Jakarta, Rabu (12/2).

Tony pun berjanji akan meningkatkan hasil produksi tambang mulai tahun depan, sehingga hingga kembali normal 100 persen pada 2022. "Memang harapannya tahun depan sudah 75 persen dan tahun berikutnya sudah normal kembali 100 persen," sambungnya.

Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto, menyebutkan pertumbuhan ekonomi Papua defisit lantaran adanya peralihan sistem tambang Freeport ke penambangan bawah tanah. "Papua terkontraksi sejak kuartal IV 2019 karena Freeport ada peralihan tambang di sana," kata Suhariyanto beberapa waktu lalu.

1 dari 1 halaman

Freeport Investasi Rp225 Triliun untuk Tambang Bawah Tanah

Dia mengemukakan, PT Freeport Indonesia telah berinvestasi USD 15 miliar atau sekitar Rp225 triliun sejak resmi berganti status dari Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada 2018 lalu. Tak berhenti di situ, pihaknya tetap akan berinvestasi hingga masa izin kontrak selesai pada 2041.

"Dan ke depannya sampai dengan 2041 masih akan investasi lagi sekitar USD 15-20 miliar atau sekitar Rp225-280 triliun dalam pengembangan tambang bawah tanah ini," kata Tony.

"Kita akan terus melakukan investasi sekitar USD 15-20 miliar di Provinsi Papua. Khususnya mengenai penambangan Freeport. Tambang bawah tanah ini sesuai IUPK sampai 2041, tapi sumber daya yang ada di tempat itu bisa lebih dari 2041," pungkasnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com

[bim]

Baca juga:
Gara-Gara Freeport, Ekonomi Papua Anjlok 7,4 Persen di 2019
Produksi Tembaga di Papua Turun, Saham Freeport McMoran Anjlok Parah
Menteri Arifin Minta Freeport Perbanyak Pegawai Asli Papua Garap Tambang Bawah Tanah
Siap-siap, Erick Thohir Bakal Rombak Pimpinan Anak Usaha Holding BUMN Pertambangan
Setor Rp4,2 Triliun, Freeport jadi Perusahaan Tambang Penyumbang PNBP Terbesar
Menteri BUMN Tunjuk Wadirut Freeport Orias Petrus Moedak Sebagai Dirut Inalum
ESDM: Pembangunan Smelter Freeport Sesuai Rencana

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini