Fakta Unik DKP Sulsel: Ganti Jutaan Botol Plastik Demi Budi Daya Ramah Lingkungan, Ini Alasannya!

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel galakkan budi daya ramah lingkungan dengan mengganti botol plastik petani rumput laut. Simak inovasi dan dampaknya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik DKP Sulsel: Ganti Jutaan Botol Plastik Demi Budi Daya Ramah Lingkungan, Ini Alasannya!
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel galakkan budi daya ramah lingkungan dengan mengganti botol plastik petani rumput laut. Simak inovasi dan dampaknya! (Merdeka.com)

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Selatan secara aktif menggalakkan praktik budi daya ramah lingkungan di seluruh wilayahnya. Inisiatif ini bertujuan untuk menghasilkan produk perikanan yang berkualitas tinggi sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut. Berbagai program inovatif telah diluncurkan untuk mencapai target tersebut.

Salah satu fokus utama adalah penanganan limbah plastik dalam budi daya rumput laut. DKP Sulsel berupaya menyadarkan petani agar tidak lagi menggunakan botol plastik sebagai pelampung. Sebagai gantinya, mereka menyediakan bantuan bibit dan pelampung khusus berbahan HDP yang lebih awet dan ramah lingkungan.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah provinsi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Ini juga sejalan dengan upaya menjaga jenama Sulsel sebagai penghasil produk perikanan dari proses yang berkelanjutan. Program ini juga didukung penuh oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan.

Kepala DKP Sulsel, Muhammad Ilyas, menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya budi daya ramah lingkungan. "Kita mencoba sadarkan petani untuk mengurangi plastik di laut dan diganti dengan pelampung berbahan HDP," ujarnya di Makassar, Kamis (11/9).

Program ini secara spesifik menargetkan penggantian botol plastik bekas yang selama ini digunakan petani rumput laut. Botol-botol ini dinilai tidak ramah lingkungan dan cepat rusak. Petani diminta menukar 500 botol plastik bekas mereka dengan 250 pelampung khusus rumput laut yang lebih tahan lama dan dapat didaur ulang.

Target ambisius DKP Sulsel adalah mengumpulkan satu juta botol plastik dari perairan. Botol-botol yang terkumpul kemudian akan dijual kepada pengepul. "Target kami terkumpul satu juta botol plastik. Botol itu kemudian dijual ke pengepul, hasilnya tetap diberikan ke petani sebagai tambahan, sementara mereka sudah mendapat pelampung baru dari pemerintah," kata Ilyas.

Inisiatif ini tidak hanya mengurangi sampah plastik di laut, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi petani. Ini menunjukkan pendekatan holistik dalam mendorong praktik budi daya ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Selain rumput laut, DKP Sulsel juga fokus pada peningkatan kualitas komoditas perikanan lainnya. Produksi rumput laut basah di Sulsel pada tahun 2024 mencapai empat juta ton. DKP Sulsel berharap terjadi peningkatan signifikan pada tahun 2025 melalui pemberian 2.000 paket bibit rumput laut kepada petani di seluruh Sulawesi Selatan.

Pihaknya juga mendorong penggunaan teknologi bioplog pada tambak ikan nila. Teknologi ini penting untuk menjaga unsur hara tanah dan melestarikan lingkungan tambak. Penggunaan bioplog merupakan bagian dari upaya pelestarian lingkungan yang lebih luas.

Potensi ekspor ikan nila dinilai sangat menjanjikan. "Sambil kita ekspor nila. Jadi sambil kita cari pasar, komoditas ekspor. Itulah yang kita harus petakan di mana ekspor nila memungkinkan," jelas Muhammad Ilyas. Ini menunjukkan visi DKP Sulsel untuk tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada pemasaran global.

Dalam budi daya udang, telah terjadi transfer teknologi yang diinisiasi oleh Jepang dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Konsep pendekatan ramah lingkungan ini sangat penting. Permintaan pasar global cenderung lebih tinggi untuk produk organik, terutama udang vaname yang dikenal tahan terhadap perubahan lingkungan.

Program-program budi daya ramah lingkungan ini merupakan prioritas utama Gubernur Andi Sudirman Sulaiman bersama Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Sulawesi Selatan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan pendapatan dan keberlanjutan mata pencarian mereka.

Pemerintah provinsi berkomitmen penuh untuk mendorong pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Ini mencakup upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kualitas produk perikanan. Dengan demikian, ekosistem laut tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Inisiatif ini menunjukkan sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat. Tujuannya adalah menciptakan sektor perikanan yang produktif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat maksimal bagi seluruh lapisan masyarakat. Fokus pada budi daya ramah lingkungan adalah kunci keberhasilan jangka panjang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi