Ekonomi Indonesia tertinggi setelah China

Kamis, 9 Agustus 2012 20:16 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo
Ekonomi Indonesia tertinggi setelah China apartemen. Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah membanggakan capaian kinerja pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup positif pada triwulan II tahun ini. Ekonomi yang mampu tumbuh 6,4 persen diklaim sebagai salah satu yang tertinggi. Bahkan merupakan yang tertinggi setelah China.

pada Juli lalu, produk domestik bruto (PDB) China meningkat 7,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun capaian ini turun dari 8,1 persen pada tiga bulan sebelumnya.

"PDB kita tertinggi kedua setelah China," ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana di kantornya, Kamis (9/8).

Menurutnya, capaian ini merupakan pencapaian yang positif dalam memberi sinyal positif kepada lembaga pemeringkat untuk menaikkan peringkat Indonesia. Saat ini, hanya lembaga pemeringkat Standart and Poor (SnP) yang belum memberikan predikat layak investasi (investment grade) pada surat utang Indonesia. Sementara lembaga pemeringkat lainnya yakni Moody's, Fitch dan JBIC telah memberikan investment grade terlebih dahulu.

Pemerintah berharap kinerja ekonomi triwulan II bisa mendorong SnP memberi peringkat layak investasi bagi Indonesia. "Mereka akan datang kesini setiap 6 bulan sekali. Jadi mudah-mudahan ya," harapnya.

Armida melanjutkan terkait pertumbuhan tahun depan, pemerintah memperkirakan target pertumbuhan akan tercapai pada batas bawah. Dalam pembahasan RAPBN 2013, asumsi pertumbuhan ekonomi ditetapkan di kisaran 6,8 hingga 7,2 persen.

Menurutnya, dengan kondisi perekonomian dunia yang masih diliputi ketidakpastian, pemerintah mencoba realistis. "Namun angka 6,8 persen itu sudah termasuk tinggi di saat ini," tuturnya.

Perekonomian Indonesia, kata dia, masih menunjukkan kinerja yang baik dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan. Terlihat pada pertumbuhan tinggi dan inflasi yang terkendali. "Malaysia saja defisitnya tinggi saat ini," imbuhnya. [oer]

Topik berita Terkait:
  1. Ekonomi Indonesia
  2. Bappenas
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini