Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

DPR: Dahlan gegabah jual TelkomVision

DPR: Dahlan gegabah jual TelkomVision Situasi Kantor Pusat TelkomVision, Jakarta. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Erik Satrya Wardhana menilai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan gegabah karena menjual TelkomVision kepada PT TransCorp.

Anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang berbisnis televisi berlangganan itu dianggap masih berpotensi meraup keuntungan. Erik justru mempertanyakan, apa alasan Dahlan ngotot menjual Telkomvision ke Chairul Tanjung, meski sudah diingatkan DPR.

"Dahlan Iskan seharusnya tidak gegabah dalam memutuskan penjualan TelkomVision kepada Transcorp, karena Komisi VI DPR sudah merekomendasikan kepada pemerintah untuk membatalkan rencana penjualan TelkomVision tersebut," kata Erik melalui siaran pers di Jakarta, Selasa (5/11).

Pada 8 Oktober lalu, Telkom menjual 1,03 miliar lembar saham TelkomVision atau setara 80 persen saham perusahaan itu kepada TransCorp senilai Rp 926,5 miliar.

Politikus dari Fraksi Hanura ini beralasan, memang sempat muncul gagasan menjual TelkomVision lantaran kerap merugi. Namun, dari data terakhir terlihat bahwa nominal kerugian perseroan terus menurun, khususnya 5 tahun terakhir.

"Artinya, prospeknya cerah dan masih terbuka peluang bisa meraup keuntungan asalkan dikelola lebih baik," kata Erik.

Diberitakan sebelumnya, Dahlan memutuskan menjual TelkomVision sejak empat bulan lalu karena merugi terus-terusan. "Telkomvision sudah 16 tahun. Selalu rugi, perusahaan yang rugi terus, ya gimana," kata Dahlan di Jakarta (18/6).

Kabar pembelian TelkomVision oleh CT, panggilan akrab bos TransCorp itu, muncul sejak 5 Juni lalu. Anak perusahaan Telkom itu tak sepenuhnya dilepas. BUMN itu berperan sebagai penyedia infrastruktur, sedangkan TransCorp akan menyediakan konten layanan televisi berbayar itu.

"Bersama Telkom, kami berkomitmen untuk memajukan industri TV berbayar bagi masyarakat Indonesia melalui TelkomVision," kata Chairul saat peresmian akuisisi dengan Telkom.

Komisi VI heran lantaran Kementerian BUMN sempat meminta masukan DPR soal penjualan TelkomVision. Tapi ketika sudah diagendakan rapat, rencana pembahasan itu batal.

Anggota parlemen mempertanyakan motivasi Dahlan dan direksi Telkom menjual TelkomVision. Sebab, kebijakan itu merugikan jika mengingat prospek bisnis televisi berlangganan di Tanah Air.

Riset Media Partners Asia (2012) menunjukkan Indonesia bakal memiliki pertumbuhan pelanggan TV berlangganan tertinggi di Asia Pasifik sebesar 26,7 persen hingga 2016 mendatang. Potensi ini lebih tinggi dibandingkan Malaysia (4,6 persen), Singapura (4,6 persen), atau Korea Selatan (3,4 persen).

"Ada beberapa TV berlangganan yang lebih belakangan beroperasi namun bisnisnya tetap dipertahankan oleh masing-masing pemiliknya. Berarti, pada umumnya para pelaku industri ini masih optimis dan serius mengelola. Ironisnya, TelkomVision yang sudah berdiri sejak 1997 dan beroperasi pada 1999 malah dijual," urai Erik. (mdk/ard)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP