Deretan Keunggulan Inovasi Benih Bawal Hybrid dari Batam
Merdeka.com - Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam berhasil mengembangkan benih bawal bintang hybrid yang diberi nama Bawal Sakti. Bawal Bintang hasil inovasi ini mampu beradaptasi dari habitat alamnya di daerah subtropis ke lingkungan perairan Indonesia.
"Bawal bintang hasil produksi BPBL Batam yakni telah terbukti mampu beradaptasi dari habitat alaminya di daerah subtropis ke lingkungan perairan Indonesia," kata Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, Toha Tusihadi dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (11/3).
Benih bawal ini dapat dikembangkan pada kisaran salinitas cukup lebar antara salinitas 19 ppt sampai dengan 34 ppt. Sedangkan fenotip bawal emas yang diharapkan akan muncul pada benih turunannya. Munculnya warna keemasan pada permukaan tubuh ikan, daging yang lebih tebal dan karakteristik morfologi sirip yang dimilikinya.
"Kelebihan lain dari Bawal hybrid yang diharapkan muncul adalah pertumbuhannya yang lebih cepat dibandingkan Bawal Emas," kata dia.
Proses hibridisasi ini diharapkan mampu memperbaiki performance ikan bawal bintang baik dari sisi pertumbuhan maupun kualitas produk. Sehingga kelebihan-kelebihan fenotip bawal emas menyebabkan ikan tersebut lebih diminati di pasar internasional dibandingkan dengan bawal bintang.
Toha menambahkan hibridisasi yang dilakukan oleh BPBL Batam sebagai usaha untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya genetik yang telah dimilikinya untuk mendukung percepatan pembangunan perikanan budidaya laut. Saat ini tengah dilakukan uji multilokasi untuk pengujian performa produksi benih bawal hybrid selain di wilayah Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Riau.
Adapun tiga lokasi lainnya yakni Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung dan Balai Perikanan Air Laut dan Payau Kotabaru Kalimantan Selatan.
Untung Rp40.000 Per Kilogram dan Punya Pasar yang Menjanjikan
Dari sisi ekonomi, budidaya bawal bintang sangat menguntungkan. Harga jual rata-rata Rp95 ribu per kilogram. Sedangkan biaya produksi seperti pakan, benih, obat-obatan, listrik, tenaga kerja dan lain lain sebesar Rp55 ribu per kilogram.
"Maka margin keuntungan yang dapat diperoleh sekitar Rp 40 ribu per kilogram," kata Toha.
Selama masa pandemi ini, hasil dari bawal bintang bintang mampu untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Terlebih saat ini kebutuhan pasar di kota Batam masih perlu sekitar 2 ton per bulan.
"Jadi pasarnya cukup menjanjikan, apalagi nanti setelah masa pandemi ini berakhir," ungkap Toha.
Seperti diketahui, BPBL Batam telah berhasil memproduksi sekitar 200 ribu ekor benih bawal hybrid pada tahun 2020 untuk memenuhi permintaan benih di Provinsi Kepri dan sekitarnya. Saat ini BPBL Batam memiliki 120 ekor induk bawal emas dan 200 ekor calon induk dan induk bawal bintang untuk memproduksi benih bawal hybrid secara massal.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya