Cerita Mashuri, ABK kapal STS-15 yang tak digaji agen penyalur

Rabu, 18 April 2018 17:22 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Cerita Mashuri, ABK kapal STS-15 yang tak digaji agen penyalur ABK STS-15 Mashuri. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Satgas 115, yang terdiri dari TNI AL, Polri, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap kapal ikan bernama 'STS-50' di sisi Tenggara Pulau Weh, Kamis 6 April 2018, pukul 17:30. Dari operasi penangkapan ini ditemukan 20 orang Anak Buah Kapal (ABK) berkebangsaan Indonesia.

Salah satu ABK kapal STS-50, Mashuri mengaku berangkat dari tempat asalnya Cirebon, Jawa Barat dengan harapan meraup pendapatan yang lebih baik. Oleh agen penyalur, dia dan ke-19 rekan yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan diiming-imingi upah sebesar USD 350 sampai USD 380 sesuai dengan pengalaman.

Sayangnya, setelah berada di atas kapal upah yang diterima tidak sesuai perjanjian. Dia dan rekan mendapatkan upah jauh lebih kecil.

"Sekitar Rp 4 jutaan (upah yang dijanjikan). (Kenyataannya) ada yang terima Rp 3,5 juta, ada yang Rp 3,4 juta. Tidak sesuai. Kalau di PT (agen penyalur) lain kan ada yang USD 400, sampai USD 500," jelas Mashuri kepada Merdeka.com, di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Rabu (18/4).

Tak hanya ingkar janji soal nilai uang yang diterima per bulan, gaji para ABK selama 2 bulan pertama ditahan sebagai jaminan penyelesaian kontrak. "Kita ngomong (soal upah yang tak sesuai perjanjian). Cuma gimana lagi," katanya.

Dia mengisahkan perlakuan di atas kapal cukup baik. Pembagian kerja dilakukan secara merata di antara ABK. Total ada 30 ABK di STS-50 yang terdiri dari 20 ABK Indonesia, 8 orang ABK berkebangsaan Rusia, 2 orang ABK asal Ukraina.

"Tidak ada masalah. Aman. Tidak disiksa. Cuma pembagian saja. Kalau orang Indonesia kan sedikit dibedakan. Kalau orang Rusia itu makannya lebih enak. Pembagian waktu kerja sama," jelas dia.

Ke-20 ABK asal Indonesia diberangkatkan oleh agen penyalur, PT GSJ, dalam tiga kelompok. Kelompok pertama, diberangkatkan ke Vietnam 25 Mei 2017 sebanyak 4 orang. Kelompok kedua, berjumlah 10 orang, juga diberangkatkan ke Vietnam pada 10 Agustus 2017.

Kelompok ketiga, berjumlah 6 orang, diberangkatkan ke Tiongkok pada 12 Desember 2017. Mashuri berada di kelompok terakhir ini. Agus mengatakan mereka semua bakal berangkat mencari ikan di Atlantik.

"Saya kelompok yang ketiga. Cuma 4 bulan di atas kapal. Naiknya di Beijing. Lalu perjalanan ke Atlantik."

Mencari hidup di atas kapal penangkap ikan transnasional semacam STS-50, membawa pria 26 tahun dan sudah berkeluarga ini melanglang buana ke berbagai laut dan teritori. Sebelum akhirnya tertangkap.

"Mampir ke Malaysia untuk ambil jaring, berangkat lagi mau ke Atlantik. Di tengah jalan kapal rusak. Kita lempar jangkar dekat Madagaskar. Di situ kira-kira 1 bulan. Terus jalan lagi. Pas ketangkap itu kita dalam perjalanan ke Singapura. Untuk ambil bahan bakar. Langsung ke Korea. Lanjut kayak gitu. Dari Korea kemana, tidak tahu," ujarnya.

Bekerja di kapal ilegal dan pengalaman terjaring operasi Satgas 151 memang bukan pengalaman yang menyenangkan apalagi membanggakan bagi Mashuri. Diaa mengaku akan pikir-pikir lagi untuk terjun kembali manjadi ABK.

"Masih ini belum ada rencana karena masih trauma, lihat saja ke depan bagaimana. Saya akan pilih agen yang baik, jelas dan resmi. Tidak seperti yang ini. Semoga bisa agen yang lebih baik. Jangan seperti saya. Ceroboh," tutup dia. [azz]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini