CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, memproyeksikan bahwa perdagangan aset kripto global akan memasuki fase konsolidasi hingga akhir tahun 2025. Prediksi ini muncul di tengah ketidakpastian ekonomi global yang mendorong sikap wait and see dari para pelaku pasar. Kondisi makroekonomi yang tidak menentu menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga aset digital secara signifikan.
Pelemahan ini terlihat jelas pada Bitcoin yang mengalami penurunan tajam, mencapai angka 84.537,42 dolar AS pada Sabtu lalu. Situasi ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mungkin akan menunda pemotongan suku bunga yang sebelumnya diantisipasi pada Desember. Penundaan ini memiliki implikasi besar terhadap likuiditas pasar dan sentimen investor.
Meskipun volatilitas global tinggi, pasar kripto di Indonesia menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan kondisi global. Data dan tren menunjukkan bahwa minat serta kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap aset digital tetap terjaga. Hal ini mengindikasikan fondasi ekosistem kripto domestik yang semakin kuat di tengah gejolak pasar internasional.
Advertisement
Advertisement
Pasar kripto global baru-baru ini diwarnai dengan pelemahan signifikan, terutama pada aset utama seperti Bitcoin. Penurunan harga ini terjadi setelah munculnya kekhawatiran mengenai kebijakan moneter The Fed. Calvin Kizana menjelaskan bahwa pasar bereaksi terhadap kemungkinan penundaan pemotongan suku bunga yang diantisipasi sebelumnya.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan angka lebih kuat dari ekspektasi. Dengan tambahan 119.000 tenaga kerja pada September, jauh di atas proyeksi 50.000, pasar kembali meragukan prospek penurunan suku bunga. Probabilitas penurunan suku bunga kini hanya sekitar 40 persen, menurut CME FedWatch, yang memicu volatilitas pada pasar kripto global.
Volatilitas pasar kripto global ini secara langsung memengaruhi aktivitas perdagangan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun demikian, para analis melihat bahwa kondisi ini lebih mengarah pada pendinginan pasar daripada pembalikan tren besar. Indikator on-chain, adopsi pengguna, dan aktivitas pengembang masih menunjukkan stabilitas yang cukup baik.
Advertisement
Advertisement
Di tengah gejolak pasar internasional, pasar kripto Indonesia menunjukkan ketahanan yang patut diperhitungkan. Meskipun nilai transaksi kripto di Indonesia sepanjang Januari-Oktober 2025 mencapai Rp409,56 triliun, turun 13,77 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, ada sinyal positif lainnya. "Volatilitas yang terjadi di pasar global memang memengaruhi aktivitas perdagangan di Indonesia. Namun, menariknya adalah meskipun nilai transaksi turun, jumlah pengguna kripto di Indonesia terus meningkat. Ini menunjukkan kepercayaan dan minat masyarakat terhadap aset digital tetap terjaga, bahkan ketika pasar sedang cooling down," ujar Calvin Kizana.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa jumlah pengguna kripto justru naik menjadi 18,61 juta pada September 2025. Angka ini meningkat 3,05 persen hanya dalam satu bulan, dengan pertumbuhan investor kripto yang konsisten di atas 3 persen per bulan. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan dan minat masyarakat terhadap aset digital tetap terjaga, bahkan ketika pasar sedang cooling down.
Situasi ini mengindikasikan bahwa investor lokal tidak sepenuhnya keluar dari pasar, melainkan memilih pendekatan yang lebih hati-hati dalam menambah portofolio mereka. Pasar domestik dinilai tetap resilien, dengan minat masyarakat yang terus tumbuh. Ini menjadi sinyal positif bahwa ekosistem kripto di Indonesia semakin matang dan siap berkembang dalam jangka panjang.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Indonesia memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekosistem aset digital domestik. Melalui kebijakan perpajakan yang jelas, rencana implementasi bursa aset kripto tambahan, serta program edukasi publik, pemerintah berupaya memperkuat pondasi pasar. Upaya-upaya ini diharapkan dapat memberikan kepastian dan perlindungan bagi investor.
Melihat ke tahun 2026, Calvin Kizana menilai pasar kripto memiliki peluang untuk bergerak lebih terarah dan menunjukkan pemulihan. Skenario pemulihan ini dapat terjadi jika kondisi makroekonomi global membaik, termasuk potensi penurunan suku bunga, peningkatan minat risiko, serta masuknya likuiditas baru ke pasar. Faktor siklus empat tahunan pasca-halving Bitcoin yang secara historis mendorong penguatan harga juga dapat menjadi pendorong tambahan.
Meski demikian, investor perlu tetap waspada dan memahami risiko yang ada. Jika tekanan makro berlanjut, pasar berpotensi bergerak sideways dalam waktu yang lebih panjang. "Investor perlu tetap waspada, melakukan analisis, dan memahami risiko," sebut Calvin, menekankan pentingnya kehati-hatian dalam berinvestasi di pasar kripto. Namun, minat masyarakat Indonesia yang terus tumbuh menjadi fondasi kuat bagi perkembangan jangka panjang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews