Bos BI beberkan alasan ekonomi RI tahan goncangan ekonomi dunia

Gubernur Bank Indonesia mengatakan kondisi sistem keuangan tetap stabil didukung oleh ketahanan industri perbankan dan stabilitas pasar keuangan. Pada Desember 2016, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 22,7 persen dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 20,9 persen.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bos BI beberkan alasan ekonomi RI tahan goncangan ekonomi dunia
Agus Marto belanja pakai uang baru. Anggun ©2016 Merdeka.com

Gubernur Bank Indonesia mengatakan kondisi sistem keuangan tetap stabil didukung oleh ketahanan industri perbankan dan stabilitas pasar keuangan. Pada Desember 2016, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 22,7 persen dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 20,9 persen.

"Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 2,9 persen (gross) atau 1,2 persen (net). Selama periode Januari-Desember 2016, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial telah dapat menurunkan suku bunga deposito 122 bps dan suku bunga kredit sebesar 79 bps," ujar Agus di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (16/2).

Berdasarkan jenis kreditnya, suku bunga kredit modal kerja turun 110 bps, suku bunga kredit investasi turun 91 bps dan suku bunga kredit konsumsi turun 29 bps. Pertumbuhan kredit Desember 2016 tercatat sebesar 7,9 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 10,5 persen (yoy).

"Hal ini lebih disebabkan oleh masih rendahnya permintaan kredit sejalan dengan konsolidasi yang dilakukan oleh korporasi dan masih lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia," ungkap Agus.

Selanjutnya, Agus menjelaskan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Desember 2016 tercatat sebesar 9,6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,3 persen (yoy) yang didorong dana repatriasi tax amnesty yang tinggi di akhir 2016.

Sementara itu, pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, seperti penerbitan saham (IPO dan right issue), obligasi korporasi, dan medium term notes (MTN) terus mengalami peningkatan.

"Ke depan, sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan dampak pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan sebelumnya, pertumbuhan kredit dan DPK pada tahun 2017 diperkirakan lebih baik, masing-masing dalam kisaran 10-12 persen dan 9-11 persen," pungkasnya.

Rekomendasi