Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, hasil FOMC (Federal Open Market Committee) Amerika Serikat menunjukkan perkiraan terjadinya inflasi hanya dalam jangka waktu pendek. The Fed meyakini tekanan inflasi yang terjadi tahun ini bersifat temporer.
Terlebih tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam itu masih tinggi yakni 4,5 persen, lebih tinggi di atas ketetapan long term 3,6 persen.
"Kalau kita lihat inflasi akan meningkat jangka pendek dan The Fed meyakini temporer," kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur, Jakarta, Kamis (17/6).
Dia memperkirakan tekanan inflasi baru akan terjadi dalam jangka panjang pada tahun 2022-2023. Kebijakan moneter fundamentalnya dipengaruhi inflasi ke depan dan seberapa jauh kecepatan ekonomi di Amerika Serikat. Sehingga menurunkan tingkat pengangguran yang mengarah ke long term atau account low.
Pernyataan FOMC menunjukan The Fed akan tetap akomodatif dalam kebijakan moneternya. Selain itu, mereka berpandangan masih terlalu dini untuk pengurangan stimulus. Sehingga The Fed masih melanjutkan pembelian surat berharga sampai perkembangan substansial, inflasi dan tenaga kerja. Dari dua aspek penting ini, Perry melihat tapering The Fed tidak terjadi tahun ini.
"Kami melihat tapering The Fed tidak terjadi tahun ini. Maka terus kami pantau kalau ada indikator-indikator baru jika ada perubahan. Tapering Fed (kemungkinan) akan dilakukan tahun depan," kata dia.
Sehingga The Fed akan melakukan pengurangan pembelian surat berharga. Hal ini diperkirakan mulai akan dilakukan pada kuartal I-2022. Selain itu kemungkinan Fed Fund Rate akan naik di tahun 2023.
Advertisement
Dampak Kebijakan The Fed terhadap Indonesia
Secara fundamental dan teknikal Bank Indonesia memahami kerangka kerja dari The Fed ini. Perry melihat pasar semakin memahami faktor-faktor, dan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat tersebut. Akibatnya berimplikasi pada US Treasury (UST) dan keputusan FOMC akan akomodatif.
"Terlalu dini membicarakan tapering. Kami melihat tidak terjadi kenaikan yang besar signifikan pada UST yield, tidak banyak berpengaruh dalam negeri, baik ke NTR atau yield SBN," kata Perry.
Perry melanjutkan arah kebijakan The Fed akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi NTR dan berkoordinasi dengan pemerintah agar pengaruh ke yield SBN dalam batas-batas yang normal. Sehingga respon ke spillover akan terus dilakukan.
"Ini sudah kita lakukan sejak covid-19 dan sejak Februari ketika ada kenaikan yield ust pernah mencapai 1,9 persen. Ini langkah-langkah yang terus kami lakukan. Sehingga kami masih akan mengarahkan moneter dan likuiditas, makroprudensial mendukung pemulihan ekonomi nasional.
Kondisi ini pun akan terus berlanjut hingga tahun depan. Namun itu pun tergantung pada perkembangan inflasi di Indonesia. Baik itu mengalami kenaikan melebihi target atau sebaliknya. Pun dengan pertumbuhan ekonomi tahun depan yang sudah mendekati atau melebihi tingkat output potensial.
"Kalau di Amerika Serikat account law, dan perkiraan inflasi dan pertumbuhan ekonomi atau disebut output gap," tandasnya.