Berebut jasa pembantu rumah tangga di Jakarta
Merdeka.com - Hampir selama 10 hari, Ria (32), harus mencari pembantu rumah tangga (PRT). Berbagai cara dia lakukan untuk mendapatkan PRT, setelah ditinggal pembantu lamanya pulang kampung saat Lebaran. Mencari lewat teman, agen pemasok atau yayasan pengelola pembantu di Jakarta dan ke berbagai daerah di luar Jakarta dia lakukan. Namun hasilnya harus gigit jari.
Tidak mendapatkan pembantu, akhirnya, demi menjaga anaknya, pegawai BUMN ini merelakan mempekerjakan perawat anak yang upahnya lebih mahal ketimbang pembantu. Namun, pilihan itu lebih murah ketimbang harus menitipkan anaknya di day care.
Paling tidak selama 10 hari kerja, dia harus merogoh kocek Rp 1,8 juta dan ongkos administrasi yang mencapai Rp 700 ribu untuk mendatangkan perawat anak. "Saya harus bekerja, dan itulah pilihan logis," ujar warga Bendungan Hilir, Jakarta ini pada merdeka.com, Senin (1/10).
Setelah mencari, akhirnya dia mendapatkan pembantu yang cocok untuk mengurus pekerjaan rumah, sekaligus menjaga anak balitannya saat dirinya dan suaminya bekerja. Namun, gaji yang harus dikeluarkan meningkat drastis. Saat ini dia harus merogoh kocek lebih dari Rp 1 juta per bulan dan saat mengambil dari yayasan biaya administrasi yang dikeluarkan mencapai Rp 800 ribu. "Ya, biasanya usai lebaran, mencari pembantu itu sangat sulit, mereka pun menunggu penawaran gaji yang lumayan tinggi," katanya.
Yayasan penyalur tenaga kerja mengaku ada peningkatan biaya administrasi dan gaji bulanan pembantu yang harus dikeluarkan pengguna jasa. Saat ini gaji bulan pembantu yang disalurkan antara Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta per bulan, dari awalnya sebesar Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu per bulan."Biaya administrasi Rp 800 ribu," ujar seorang pengelola penyalur tenaga kerja dari Yayasan Melati, Nina saat dihubungi merdeka.com.
Dia mengakui saat ini kebutuhan pembantu rumah tangga buat daerah Jakarta dan Batam sangat tinggi. Bahkan, pihaknya sudah tidak bisa memenuhi permintaan."Sangat banyak yang minta. Bahkan kami sudah tak sanggup memenuhi," katanya.
Kenaikan upah yang diminta para penyedia jasa, karena meningkatnya keahlian para pembantu, bukan sekedar tingginya permintaan jasa mereka."Saya kira sudah wajar ada kenaikan upah pembantu,"ungkapnya.
Badan Pusat Statistik memaparkan masyarakat harus rela mengeluarkan uang yang lebih tinggi, untuk mempekerjakan pembantu rumah tangga. Hal ini akibat sulitnya untuk mendapatkan pembantu rumah tangga di dalam negeri. Tingginya permintaan pembantu rumah tangga (PRT) tidak sebanding dengan penawaran yang disediakan sehingga menyumbang inflasi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin, mengatakan tingginya permintaan upah PRT saat ini menyebabkan sumbangan inflasi sebesar 0,04 persen. Hal ini menyebabkan perubahan harga upah PRT sekitar 2,42 persen. "Perubahan ini menyebabkan tingkat kesejahteraan PRT turut meningkat," ujarnya. Akibat naiknya upah PRT, inflasi di 20 kota indeks harga konsumen (IHK) dengan kenaikan tertinggi terjadi di Jakarta sebesar 10 persen. (mdk/arr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya