Asia Diramal Bakal Hadapi Krisis Pangan dalam 10 Tahun ke Depan

Sabtu, 30 November 2019 08:00 Reporter : Merdeka
Asia Diramal Bakal Hadapi Krisis Pangan dalam 10 Tahun ke Depan sawah. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Asia diramal akan menghadapi krisis pangan dalam 10 tahun ke depan. Untuk menghindari ini, Asia membutuhkan investasi hingga USD 800 miliar atau Rp11.000 triliun (USD 1= Rp14.100) untuk pangan. Ini mengacu pada laporan dari PwC, Rabobank, dan perusahaan investasi Temasek.

Asia Food Challenge Report, seperti mengutip laman CNBC, juga mengungkapkan bahwa pengeluaran makanan akan naik lebih dari dua kali lipat. Dari USD 4 triliun pada 2019, menjadi lebih dari USD 8 triliun pada tahun 2030.

"Asia tidak dapat memberi makan dirinya sendiri, dan perlu menginvestasikan USD 800 miliar lagi, dalam 10 tahun ke depan untuk menghasilkan lebih banyak makanan, dan memenuhi kebutuhan kawasan," menurut sebuah laporan.

Prediksi ini juga melihat populasi di Asia mengalami pertumbuhan, sehingga menuntut pangan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan.

Sementara itu, populasi Asia dapat tumbuh sekitar 250 juta pada sepuluh tahun mendatang, hal itu termasuk dengan Indonesia.

"Jika investasi ini tidak terwujud, kami percaya industri akan berjuang untuk memenuhi permintaan, menghasilkan hasil makanan yang lebih buruk untuk populasi Asia," menurut penulis laporan yang disusun oleh PwC, Rabobank, dan perusahaan investasi Singapura Temasek .

Jika tidak segera diantisipasi terkait pangan, maka akan berada dalam posisi yang buruk dalam 10 tahun mendatang. Dengan investasi USD 800 miliar, dapat digunakan untuk industri pangan pertanian Asia, serta untuk bidang teknologi dan inovasi, yang bisa menjadi jalan keluar mengatasi permasalahan pangan.

"Peluang terbesar untuk sektor pertanian pangan di Asia mungkin di China," kata Anuj Maheshwari dari Temasek.

1 dari 2 halaman

Investasi Berpeluang Masuk ke China

Alasan investasi berpeluang masuk ke China, karena perusahaan pertanian di negara tersebut sudah menggunakan teknologi canggih, dalam mengelola lahan pertanian.

Misalnya, DJI yang berbasis di Shenzhen memproduksi drone pertanian, yang menyemprotkan pestisida dan pupuk, yang mampu mengantisipasi wabah penyakit.

Menurut perusahaan analisis drone Skylogic Research, perusahaan teknologi China itu, menyumbang lebih dari 70 persen pangsa pasar drone sipil dunia pada tahun 2018.

Itulah sebabnya kota-kota di China seperti Shenzhen, Beijing, dan Shanghai bisa menjadi pusat inovasi agri-pangan yang potensial.

Tempat-tempat ini memiliki pengalaman pertanian pangan, lingkungan peraturan yang kuat untuk startup, dan bakat kompetitif, dan secara bersama-sama, mereka siap untuk mendorong inovasi dan investasi dalam industri. Selain China, Singapura dan kota India di Bangalore, juga menjadi pusat inovasi agri-pangan.

2 dari 2 halaman

Alasan Asia Hadapi Masalah Pangan

Menurut laporan yang dirilis (20/11), Asia tidak dapat memberi makan dirinya sendiri, melainkan mengandalkan impor dari Amerika, Eropa, dan Afrika, dalam jangka waktu yang panjang. Tentu saja, hal itu sesuai dengan hasil penelitian dari Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB tahun 2018.

"Secara umum, negara-negara di Amerika Latin, Afrika Timur dan Asia Selatan adalah pengekspor makanan bersih, sementara sebagian besar negara Asia dan Afrika lainnya tetap menjadi pengimpor pangan netto," kata Statistik dan Tren Utama dalam Perdagangan Internasional.

"Makanan, ini adalah topik sensitif, dan banyak perang dan banyak pemberontakan internal telah memperebutkan makanan dalam sejarah yang terletak. Dan itu mungkin akan terus terjadi, " kata Richard Skinner dari PwC.

Selain bergantung, Asia juga dipengaruhi oleh iklim dan pertumbuhan populasi, yang menyebabkan timbulnya masalah pasokan pangan, dan perubahan harga.

Cuaca ekstrem dapat mengurangi hasil panen dan mengubah struktur penanaman. Sehingga jumlah lahan subur untuk setiap orang di Asia diperkirakan akan menurun 5% pada tahun 2030.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [idr]

Baca juga:
Seperti BBM, Bos Bulog Ingin Ada Beras Satu Harga
Stok Masih Cukup, Pemerintah Tak Akan Impor Pangan Hingga Akhir Tahun
Kemendag Terjunkan Tim Jaga Stabilitas Harga Pangan Jelang Natal dan Tahun Baru
Bos Bulog Beberkan Alasan Impor Daging Sapi dari Brasil Dibatalkan
Masuk Musim Tanam, Petrokimia Gresik Gencar Kampanye Pemupukan Berimbang
Pengusaha Keluhkan Minimnya Investasi dan Pembiayaan di Sektor Pertanian

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini