Aktivitas Jual-Beli Kembali Bergairah, Pemulihan Pasar Aceh Tamiang Pascabanjir Membawa Angin Segar
Setelah dilanda banjir, aktivitas jual-beli di Pasar Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, berangsur pulih, menandai Pemulihan Pasar Aceh Tamiang dan harapan ekonomi warga kembali bangkit.
Aktivitas jual-beli di Pasar Pagi Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, kini berangsur pulih pascabencana banjir yang melanda wilayah tersebut. Pedagang telah kembali membuka kios mereka, dan warga mulai memadati pasar untuk berbelanja kebutuhan pokok harian. Meskipun daya beli masyarakat belum sepenuhnya normal, kondisi ini menunjukkan tren positif menuju Pemulihan Pasar Aceh Tamiang.
Warga seperti Nurlia Tullaila dari Kampung Sriwijaya, Kuala Simpang, menjadi salah satu saksi pemulihan ini. Ia rutin berbelanja di Pasar Kuala Simpang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga setelah kondisi pasar kembali dibuka normal. Para pedagang seperti Wais Alkarni dan Hendi Hidayat juga merasakan langsung dampak positif dari normalnya kembali kegiatan pasar, meskipun dengan tantangan tersendiri.
Pemulihan ini terjadi setelah banjir surut, dengan pedagang mulai berjualan kembali sejak pertengahan Desember 2025. Kondisi pasar kini relatif stabil, sangat berbeda dengan masa-masa awal pascabanjir yang penuh ketidakpastian. Normalisasi harga dan ketersediaan barang menjadi kunci utama dalam menggerakkan kembali roda perekonomian lokal yang sempat terhenti.
Harga Kebutuhan Pokok Kembali Stabil
Kondisi harga kebutuhan pokok di Pasar Kuala Simpang kini relatif stabil dibandingkan awal pascabanjir, ketika pasar belum sepenuhnya beroperasi. Nurlia Tullaila mengungkapkan, harga barang sudah normal dan kebutuhan pun sudah tersedia semua. Sebelumnya, beberapa komoditas sempat mengalami lonjakan harga yang signifikan.
Sebagai contoh, cabai rawit yang sempat mencapai Rp20.000 seperempat kilogram, kini telah turun menjadi sekitar Rp12.000. Komoditas lain seperti telur juga menunjukkan penurunan harga, dari Rp75.000 per rak menjadi sekitar Rp50.000–Rp52.000 per rak. Penurunan harga ini sangat melegakan warga, mengingat kondisi ekonomi pascabanjir masih membutuhkan banyak biaya untuk membersihkan rumah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bantuan sembako dari pemerintah, berupa beras, gula, minyak goreng, dan kebutuhan lainnya, juga sangat membantu meringankan beban warga. Hal ini memungkinkan warga untuk sementara hanya membeli lauk-pauk dan sayuran di pasar. Kondisi ini secara bertahap mendorong Pemulihan Pasar Aceh Tamiang dan daya beli masyarakat.
Tantangan dan Harapan Pedagang di Tengah Pemulihan
Wais Alkarni, seorang pedagang sembako, mengaku mulai membuka kiosnya sejak banjir surut, setelah sebagian besar barang dagangannya berhasil diselamatkan ke lantai dua kios. Ia bahkan sempat menjual barang-barang yang terkena banjir karena pasokan dari Medan terhenti dan masyarakat sangat membutuhkan kebutuhan mendesak. Harga kebutuhan pokok sempat melonjak tajam tiga hari setelah banjir surut akibat kelangkaan barang, sebelum perlahan kembali normal.
Meskipun pasar mulai ramai, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Wais menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh stok bantuan sembako yang masih tersedia di rumah warga, serta akses jalan dari perkampungan menuju kota yang masih terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang dalam mengoptimalkan penjualan mereka.
Para pedagang berharap perbaikan infrastruktur jalan segera dipercepat agar distribusi barang menjadi lancar, harga tetap stabil, dan aktivitas ekonomi Pasar Aceh Tamiang dapat kembali normal sepenuhnya dalam waktu dekat. Harapan ini selaras dengan keinginan warga agar bencana banjir serupa tidak kembali terjadi, mengingat dampak besar yang dirasakan, mulai dari kerusakan rumah hingga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Sektor Lain Turut Bergerak dalam Pemulihan Ekonomi
Selain pedagang sembako, pedagang sayuran seperti Hendi Hidayat juga telah membuka kiosnya sejak dua minggu setelah air surut. Ia menjajakan berbagai komoditas pangan seperti cabai merah keriting seharga Rp24.000 per kilogram dan bawang putih Rp38.000 per kilogram. Kehadiran kembali pedagang sayuran ini melengkapi ketersediaan kebutuhan pokok di pasar.
Tidak hanya itu, sejumlah pedagang lainnya juga telah membuka toko mereka, termasuk toko pakaian. Kawasan pertokoan yang berada di depan pasar juga mulai beroperasi, menjual alat-alat kelistrikan dan barang pecah belah. Hal ini menunjukkan bahwa Pemulihan Pasar Aceh Tamiang tidak hanya terbatas pada sektor pangan, tetapi juga merambah ke sektor-sektor lain yang mendukung kehidupan masyarakat.
Bergeraknya berbagai sektor ekonomi ini menjadi indikator positif bahwa masyarakat Aceh Tamiang sedang berupaya bangkit dari dampak bencana. Dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, sangat penting untuk memastikan Pemulihan Pasar Aceh Tamiang dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews