Airlangga: Revitalisasi Industri Tekstil Indonesia Fokus Perkuat Sektor Menengah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Revitalisasi Industri Tekstil Indonesia akan difokuskan pada penguatan sektor menengah untuk daya saing global dan target ekspor.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa industri tekstil Indonesia akan mengalami 'reborn' atau kelahiran kembali. Fokus utama revitalisasi ini adalah memperkuat sektor midstream atau menengah, yang meliputi proses pembuatan kain, benang, pencetakan, pewarnaan, dan penyelesaian. Pernyataan ini disampaikan Airlangga dalam agenda The World Engineering Day for Sustainable Development 2026 di Jakarta, pada Rabu, 4 Februari 2026.
Penguatan sektor menengah ini dianggap krusial karena selama ini terdapat ketidakseimbangan antara sektor hulu dan tengah industri tekstil. Pemerintah berencana membentuk badan usaha milik negara (BUMN) baru khusus sektor tekstil, sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Langkah ini bertujuan menjadikan industri tekstil dan garmen sebagai garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif dari Amerika Serikat.
Pembentukan BUMN baru ini diharapkan dapat mengatasi kendala struktural yang ada, sekaligus mendorong inovasi dan efisiensi. Dengan demikian, industri tekstil nasional dapat bersaing lebih kuat di pasar global. Inisiatif ini menandai komitmen pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor manufaktur yang strategis.
Strategi Penguatan Sektor Menengah dan Pembentukan BUMN Tekstil
Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa strategi revitalisasi industri tekstil akan berpusat pada sektor menengah, yang selama ini dinilai kurang terintegrasi dengan hulu. Penguatan ini mencakup seluruh rantai produksi dari pembuatan benang hingga proses dyeing dan finishing. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem industri tekstil yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Sebagai bagian dari rencana ini, pemerintah akan membentuk BUMN baru yang secara khusus menangani sektor tekstil. Pembentukan BUMN ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat struktur industri dan meningkatkan kapasitas produksi. Kehadiran BUMN diharapkan dapat menjadi motor penggerak modernisasi dan peningkatan kualitas produk tekstil nasional.
Industri tekstil dan garmen memiliki peran penting sebagai benteng pertahanan ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi gejolak pasar internasional. Risiko kebijakan tarif dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat membutuhkan respons yang cepat dan terstruktur. BUMN tekstil baru ini diharapkan dapat menjadi solusi efektif dalam mitigasi risiko tersebut.
Proyeksi Investasi dan Target Ekspor Industri Tekstil
Untuk mendukung pembentukan BUMN baru dan revitalisasi industri, BPI Danantara telah menyiapkan dana sebesar 6 miliar dolar AS. Dana investasi ini akan dialokasikan untuk pengadaan barang modal, penerapan teknologi terkini, serta upaya peningkatan ekspor produk tekstil. Investasi besar ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memajukan industri strategis ini.
Setelah studi awal rampung, pemerintah akan melanjutkan dengan penyusunan peta jalan (roadmap) penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Peta jalan ini menargetkan peningkatan ekspor yang ambisius, dari 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam sepuluh tahun ke depan. Target ini didasari potensi pertumbuhan permintaan tekstil global dan pendalaman rantai nilai industri.
Airlangga juga menyoroti potensi pasar yang besar, terutama di Eropa, di mana bea masuk akan menjadi 0% pada tahun 2027. Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan ekspor produk tekstil Indonesia. Industri ini juga terus tumbuh seiring tren high fashion dan lifestyle yang berkembang pesat di seluruh dunia.
Sumber: AntaraNews