4 Jawaban Mendag yang memicu kontroversi soal harga pokok naik
Merdeka.com - Kenaikan harga pokok beberapa kali terjadi. Terbaru, harga telur ayam mengalami kenaikan cukup tinggi. Di pasaran harga telur ayam mencapai Rp 30.000 per kg dari sebelumnya sekitar Rp 20.000 per kilogram.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, beberapa kali pula menjelaskan pemicu kenaikan harga pokok yang terjadi. Namun penjelasan-penjelasan atau jawaban Mendag tak jarang menimbulkan kontroversi. Berikut ulasannya.
Saat telur naik
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comBeberapa hari belakangan, harga telur mengalami kenaikan. Tentunya kenaikan ini menyebabkan gejolak di masyarakat. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, mengatakan salah satu penyebab meroketnya harga telur adalah pagelaran Piala Dunia. Di mana saat Piala Dunia berlangsung permintaan telur ayam meningkat sebagai konsumsi rumah tangga.
"Karena tengah malam itu (makan) nasgor (nasi goreng) pakai telor, Indomie telur, dan kornet, pakai telur juga," katanya di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (16/7).
Bawang putih mahal
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKenaikan harga bawang putih beberapa waktu lalu membuat pedagang dan masyarakat 'menjerit'. Saat itu harga bawang putih di pasaran cukup mahal yaitu Rp 32.000 per kilogram.
Mengetahui kenaikan itu Mendag cukup santai menghadapinya. Dia bahkan menyarankan masyarakat tidak usah makan bawang putih jika harganya mahal. "Tidak usah makan bawang putih, tidak apa kan," canda Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sembari tertawa saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (25/4).
Meski pernyataan itu bercanda akan tetapi menimbulkan kontroversi di berbagai pihak.
Harga cabai rawit merah meroket
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comCabai rawit merah sering kali mengalami kenaikan. Khususnya jelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Beberapa waktu lalu, harga cabai rawit merah sempat tembus Rp 90.000 per kilogram. Kenaikan tersebut membuat semua pihak terkejut.
Kala itu, Mendag Enggartiasto Lukita mengimbau agar masyarakat menanam sendiri kebutuhan pokok ini. Hal tersebut dianggap salah satu jalan keluar apabila ada kenaikan yang teramat tinggi. "Tanam sendiri cabai, kita ada solusi yang tidak ilmiah," katanya beberapa waktu lalu.
Ketika beras mahal
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPernyataan Mendag Enggartiasto Lukita yang memicu kontroversi ketika beras mahal. Saat itu beras medium mencapai Rp 14.000 per kilogram. Dengan begitu, menurut Enggar, masyarakat harus bisa menawar harga beras.
Sebab terkadang pedagang memberikan harga lebih mahal sebagai strategi dagang. "Iya kan harusnya (beras) ditawar kan (belinya) di pasar," ucapnya beberapa waktu lalu.
Pernyataan Mendag Enggar ini sempat disindir oleh politikus PKS, Mardani Ali Sera melalui akun twitternya. "Beras naik, suruh diet jangan banyak makan. Cabe mahal, suruh nanam sendiri. Daging mahal, makan keong sawah. Daging melonjak, makan jeroan. Sarden ditemukan cacing, sehat berprotein. Yang terbaru: harga beras mahal, tawar aja," cuit Mardani.
(mdk/has)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya