Seiring berjalannya waktu, penyakit Alzheimer semakin banyak diderita oleh manusia. Umumnya, penyakit 'pikun' ini terjadi pada seseorang yang sudah berusia di atas 60 tahun alias lanjut usia (lansia).
Namun beberapa waktu lalu, para peneliti menemukan sebuah fakta yang mengejutkan. Bagaimana tidak, cara bernapas ternyata bisa ungkap tanda tersembunyi penyakit Alzheimer.
Lantas bagaimana fakta yang ditemukan oleh para peneliti? Benarkan cara bernapas bisa ungkap tanda tersembunyi penyakit Alzheimer?
Melansir dari berbagai sumber, Senin (24/2), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
Sebelum membahas soal fakta terbaru para peneliti, ada baiknya untuk mengetahui lebih dalam mengenai penyakit Alzheimer. Melansir dari Alodokter, penyakit Alzheimer merupakan penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara serta perubahan perilaku.
Penyakit yang termasuk ke dalam salah satu jenis penyakit degeneratif ini dikatakan dapat berkembang seiring berjalannya waktu dan akan mempengaruhi beberapa fungsi otak. Sehingga nantinya membuat para penderita tidak mampu lagi melakukan aktivitas atau pekerjaan sehari-hari.
Pada tahap awal, para penderita akan mengalami gangguan daya ingat namun masih bersifat ringan. Seperti tidak mengingat nama benda, percakapan maupun peristiwa yang belum lama terjadi. Saat kondisi sudah semakin parah, penderita dapat mengalami linglung atau cemas dan selalu curiga terhadap orang lain.
Advertisement
Beberapa waktu lalu, para peneliti mengungkapka fakta yang mengejutkan mengenai penyakit Alzheimer ini. Melansir dari ScienceAlert, para peneliti dari Inggris dan Slovenia menemukan aktivitas otak tertentu dan pola pernapasan mampu menjadi tanda tersembunyi penyakit Alzheimer.
Tim ini memulai penelitian dengan mempelajari bagaimana oksigenasi otak mungkin dikaitkan dengan penyakit neurodegeneratif, membandingkan ukuran oksigenasi otak, detak jantung, gelombang otak, dan upaya pernapasan. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 19 pasien Alzheimer dengan 20 orang tanpa Alzheimer.
Analisis mereka menemukan perbedaan dalam neuron yang terkait dengan pembuluh darah dan bagaimana kadar oksigen darah berfluktuasi saat neuron diaktifkan. Sinkronisasi aliran darah dan aktivitas otak tampaknya sangat terganggu pada otak penderita Alzheimer.
Tak disangka, pasien Alzheimer memiliki laju pernapasan lebih tinggi dibandingkan pasien kontrol sekitar 17 napas per menit dibandingkan dengan 13 napas per menit. Hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan cara pembuluh darah di otak terhubung dengan jaringan saraf yang lebih dalam untuk menyediakan pasokan oksigen yang banyak.
"Ini merupakan penemuan yang menarik. Menurut saya merupakan penemuan revolusioner, yang mungkin membuka dunia baru dalam studi penyakit Alzheimer," kata ahli biofisika Aneta Stefanovska, dari Lancaster University di Inggris.
"Kemungkinan besar ini mencerminkan peradangan, mungkin di otak, yang setelah terdeteksi mungkin bisa diobati dan kondisi Alzheimer yang parah mungkin bisa dicegah di masa depan," lanjutnya.
Advertisement
Penyiapan analisis ini melibatkan berbagai sensor listrik dan optik pada kulit kepala. Akan tetapi, tidak memerlukan sampel darah atau jaringan apa pun, serta lebih murah dan cepat dibandingkan banyak pilihan diagnosis lainnya.
Meskipun pola pernapasan saja belum cukup untuk mendeteksi Alzheimer, dengan banyaknya variabel lain yang berperan, para peneliti kini dapat melihat laju pernapasan dalam penelitian selanjutnya untuk mendapatkan gambaran gejala Alzheimer yang lebih lengkap.
Hal ini mendukung hipotesis bahwa penyakit Alzheimer dipicu oleh gangguan fungsi sistem pembuluh darah otak. Sehingga mengurangi efisiensi aliran oksigen dan pembersihan bahan beracun.
"Sistem pembuluh darah dan otak bekerja sama untuk memastikan otak menerima energi yang cukup," kata ahli saraf Bernard Meglič, dari Universitas Ljubljana di Slovenia.
Faktanya, otak memerlukan sebanyak 20 persen konsumsi energi tubuh secara keseluruhan. Meski hanya menyumbang sekitar 2 persen dari berat tubuh.
Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan mengenai penyakit Alzheimer. Mulai dari gejala hingga faktor risiko yang kemungkinan besar disebabkan oleh kombinasi penyebab. Namun penelitian seperti ini membantu kita lebih memahami perkembangan penyakit ini.
"Kami menunjukkan hasil yang jelas dari pendekatan kami dan bagaimana Alzheimer dapat dideteksi secara sederhana, non-invasif, dan murah," ujar Stefanovska.
"Metode ini memiliki potensi besar, dan kami sedang mendiskusikan kemungkinan untuk mendirikan perusahaan spin-out atau start-up untuk melanjutkannya. Tentu saja, diperlukan lebih banyak penelitian," tambahnya.