Rusia Makin Galak, Usai Serang Ukraina Kini Ancam Finlandia & Swedia
Merdeka.com - Perang antara Rusia dan Ukraina akhirnya meletus usai pasukan Rusia melancarkan serangan ke negara berbendera biru kuning itu, Kamis (24/2). Serangan dilancarkan tentara merah setelah Presiden Putin mengumumkan secara resmi operasi militer Rusia ke Ukraina.
Salah satu alasan utama Rusia 'nekat' menyerang karena rencana Ukraina bergabung dengan NATO alias Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Rusia khawatir jika Ukraina yang notabene tetangga langsungnya itu bergabung dengan NATO maka keamanan nasionalnya akan terancam.
Saat perang sedang berkecamuk, Rusia kembali memberi kejutan. Negeri Stalin itu memberi ancaman kepada dua negara tetangga lainnya yakni Swedia dan Finlandia.
Rusia mengancam 'konsekuensi militer' jika Swedia dan Finlandia bergabung dengan NATO. Hal itu terjadi kala invasi Rusia ke Ukraina meningkat, Sabtu (26/2) waktu setempat.
Simak ulasan selengkapnya berikut ini, seperti dihimpun dari Dailymail, Minggu (27/2).
Ancam Finlandia dan Swedia

dailymail.co.uk ©2022 Merdeka.com
Rusia memperingatkan dua negara tetangganya yakni Finlandia dan Swedia bahwa mereka akan menghadapi 'konsekuensi militer dan politik' jika bergabung dengan NATO.
Seorang juru bicara kementerian luar negeri Rusia mengatakan, "Finlandia dan Swedia tidak boleh mendasarkan keamanan mereka dengan merusak keamanan negara lain," ujarnya dikutip dari Dailymail.
Seperti diketahui, Swedia dan Finlandia adalah dua negara terdekat dengan Rusia di Lingkaran Arktik.
Akan Ada Konsekuensi Serius
Kementerian luar negeri Rusia kemudian mengulangi ancaman tersebut di laman Twitter.
"Kami menganggap komitmen pemerintah Finlandia terhadap kebijakan non-blok militer sebagai faktor penting dalam memastikan keamanan dan stabilitas di Eropa utara," tulis departemen itu.
Jika Finlandia dan Swedia bergabung dengan NATO dan ikut campur, hal itu tentu berimbas pada kondisi hubungan politik. Langkah Swedia atau Finlandia berpotensi memicu kemarahan serupa.
"Finlandia dan Swedia tidak boleh mendasarkan keamanan mereka pada perusakan keamanan negara lain dan aksesi mereka ke NATO dapat memiliki konsekuensi yang merugikan dan menghadapi beberapa konsekuensi militer dan politik," kata juru bicara urusan luar negeri Maria Zakharova dalam jumpa pers.
Ukraina ingin Gabung NATO

©2022 Merdeka.com
Seperti diketahui, Ukraina merupakan bekas negara Uni Soviet, dan Presiden Rusia Vladimir Putin tampaknya belum rela Ukraina merdeka dan menjadi negara sendiri. Selain itu, alasan utama lainnya Rusia menyerang Ukraina karena alasan ancaman NATO yang ingin ekspansi ke Eropa Timur, yakni dengan rencana masuknya Ukraina yang berbatasan dengan Rusia menjadi anggota NATO.
Hal itu dianggap mengganggu keamanan nasional Rusia. Para pemimpin Ukraina ingin negaranya bergabung dengan NATO. Tapi Rusia sangat menentang langkah itu.
Baik NATO maupun Presiden Joe Biden mengatakan Amerika Serikat akan membela aliansi 30-anggota jika serangan terus dilancarkan.
Biden bertemu secara virtual dengan anggota NATO pada Jumat pagi (25/2) waktu setempat. Untuk meyakinkan sekutu timur bahwa mereka akan dilindungi saat pasukan Rusia bersiap memasuki Kyiv.
Sikap Presiden Ukraina

Volodymyr Zelensky dan Vladimir Putin ©AFP PHOTO
Federasi Rusia sudah melancarkan serangan ke Ukraina sejak Kamis (24/2). Selain serangan militer, dilakukan pula serangan siber dan serangan informasi yang merugikan Ukraina.
Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina mengecam AS dan sekutunya karena meninggalkan negaranya untuk berperang sendirian.
"Siapa yang siap bertarung bersama kita? Saya tidak melihat siapa pun. Siapa yang siap memberi Ukraina jaminan keanggotaan NATO? Semua orang takut. Kami membela negara kami sendiri," katanya, Kamis (24/2) malam.
Sementara itu, Kremlin menawarkan untuk mengirim delegasi ke Belarus untuk bernegosiasi dengan Ukraina. Tapi hanya jika dalam kondisi yang sulit. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia siap mengirim delegasi ke Minsk, ibu kota Belarus.
Namun Peskov menjelaskan bahwa Rusia mengharapkan 'denazifikasi dan demiliterisasi' Ukraina, yang berarti penyerahan Kyiv. Beberapa negara NATO rupanya telah mengambil langkah-langkah defensif saat agresi Rusia tumbuh.
Setelah pertemuan antara AS dan NATO, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan organisasi yang beranggotakan 30 negara itu akan mengirim bagian-bagian dari Pasukan Respons NATO. Ini adalah pertama kalinya kekuatan itu digunakan untuk membela sekutu NATO.
"Kami sekarang mengerahkan Pasukan Respons NATO untuk pertama kalinya dalam konteks pertahanan kolektif. Kami berbicara tentang ribuan tentara. Kami berbicara tentang kemampuan udara dan maritim," terang Stoltenberg.
(mdk/kur)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya