Putin Kecam AS-Israel Bunuh Ali Khamenei: Pelanggaran Semua Norma Moralitas Manusia dan Hukum Internasional

Putin mengungkapkan bahwa serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel telah membawa kawasan Timur Tengah berada di tepi kehancuran.

Teddy Tri Setio Berty
Oleh Teddy Tri Setio Berty - Reporter
Putin Kecam AS-Israel Bunuh Ali Khamenei: Pelanggaran Semua Norma Moralitas Manusia dan Hukum Internasional
Putin menyatakan bahwa tentara Rusia berhasil merebut 189 permukiman Ukraina tahun ini dan menyebut 2024 sebagai "tahun penting" dalam pencapaian tujuan operasi militer khusus. (© 2024 merdeka.com)

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengutuk kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai tindakan pembunuhan yang "sinis" dan melanggar norma-norma hukum internasional. Meskipun menyampaikan rasa belasungkawa, Kremlin tidak menunjukkan dukungan konkret terhadap Iran.

Dalam pesan resmi kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, Putin menyampaikan simpati kepada keluarga Khamenei, pemerintah, dan rakyat Iran. Demikian dikutip dari laman Japan Today pada Senin, 2 Maret 2026.

"Terimalah belasungkawa mendalam saya sehubungan dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Seyed Ali Khamenei, dan anggota keluarganya, yang dilakukan dengan pelanggaran sinis terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional," demikian pernyataan Putin, seperti dikutip Kremlin.

Khamenei (86) dilaporkan tewas akibat serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Februari 2026, menurut pengumuman dari media pemerintah Iran.

Kemunduran Strategis Moskow

Kematian Khamenei merupakan pukulan terbaru bagi jaringan sekutu Rusia. Dalam 15 bulan terakhir, pemimpin yang didukung Rusia di Suriah dan Venezuela juga telah terguling.

Kejadian ini dinilai mempersempit pengaruh Rusia di kawasan yang selama ini menjadi arena perebutan geopolitik. Pemerintah Rusia menilai bahwa serangan AS dan Israel telah membawa Timur Tengah ke tepi kehancuran.

Namun, beberapa sumber di Iran mengungkapkan bahwa Moskow belum memberikan bantuan nyata dalam krisis terbesar Iran sejak Revolusi 1979 yang menggulingkan Shah pro-AS.

Tahun lalu, ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka berspekulasi tentang kemungkinan perubahan rezim di Iran, Putin memperingatkan bahwa tekanan eksternal justru bisa menyatukan rakyat Iran di belakang kepemimpinan mereka.

Hubungan Dekat yang Teruji

Putin dan Khamenei memiliki komunikasi yang sangat erat. Kunjungan luar negeri pertama Putin setelah invasi Ukraina pada 2022 adalah ke Teheran untuk bertemu Khamenei.

Mereka sering bertukar pesan tertulis atau menggunakan utusan khusus, mengingat kekhawatiran akan penyadapan oleh intelijen AS. Meskipun Rusia membeli drone dan persenjataan dari Iran untuk perang di Ukraina serta menandatangani perjanjian kemitraan strategis selama 20 tahun dengan Teheran, hubungan kedua negara tidak mencakup klausul pertahanan bersama.

Moskow juga secara berulang kali menegaskan penolakannya terhadap pengembangan senjata nuklir Iran, dengan alasan risiko perlombaan senjata di Timur Tengah. Fyodor Lukyanov, pemimpin redaksi majalah Russia in Global Politics, membandingkan kematian Khamenei dengan tumbangnya Muammar Gaddafi pada 2011 dan eksekusi Saddam Hussein pada 2006.

Ia menilai peristiwa di Iran mempertegas skeptisisme Moskow terhadap negosiasi dengan Washington.

Analisis Aspek Politik dan Ekonomi

Jerman dan Belgia Menolak Bergabung dalam Serangan AS--Israel ke Iran
Orang-orang menyaksikan kepulan asap membubung di langit Teheran, Iran, setelah terjadinya ledakan, Sabtu (28/2/2026) akibat serangan Israel dan Amerika Serikat. (Dok. AP) © 2026 Liputan6.com

Hingga saat ini, Kremlin belum menunjukkan indikasi untuk berkonfrontasi secara langsung dengan Presiden AS Donald Trump mengenai isu Iran. Sebaliknya, Moskow tampak lebih berhati-hati dalam menanggapi perkembangan terbaru, sembari tetap memprioritaskan kepentingan nasionalnya.

Dalam situasi ketidakpastian mengenai kepemimpinan setelah Khamenei, kemungkinan terjadinya gangguan pada pasokan minyak dari Teluk Persia menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Apabila pasokan global terganggu dan harga minyak melonjak, Rusia, sebagai salah satu eksportir energi utama, berpotensi mendapatkan keuntungan tambahan yang dapat mendukung ekonomi dalam situasi perang yang tengah dihadapinya.

Bagi Moskow, kematian Khamenei bukan hanya sekadar kehilangan seorang sekutu lama, tetapi juga merupakan tantangan bagi kemampuan Rusia dalam mempertahankan pengaruhnya di tengah perubahan lanskap geopolitik yang terus berlangsung.

"Kematian Khamenei bukan hanya kehilangan sekutu lama, tetapi juga ujian atas kemampuan Rusia mempertahankan pengaruhnya di tengah lanskap geopolitik yang terus berubah."

Dalam konteks ini, Rusia perlu merumuskan strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan baru yang muncul akibat perubahan kepemimpinan di Iran dan dampaknya terhadap stabilitas regional serta hubungan internasional yang lebih luas.

Rekomendasi