Najwa Shihab Kenang Momen Pernikahan Penuh Haru, Tunjukkan Kertas Undangan hingga Souvenir

Najwa Shihab mengenang pernikahan di tahun 1997 dengan Ibrahim Assegaf, dari usia muda, adat Solo, hingga undangan bernuansa Al-Qur’an.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Najwa Shihab Kenang Momen Pernikahan Penuh Haru, Tunjukkan Kertas Undangan hingga Souvenir
Kenangan Masa Lalu Najwa dan Suami saat Menikah, Tak Ingin Tunda Kebahagiaan (Kenangan Masa Lalu Najwa dan Suami saat Menikah, Tak Ingin Tunda Kebahagiaan)

Najwa Shihab, seorang jurnalis senior dan figur publik yang terkenal dengan keberaniannya di televisi, baru-baru ini membagikan momen yang sangat emosional di media sosial. Dalam postingan tersebut, ia mengajak masyarakat untuk mengingat kembali perjalanan cinta yang ia jalani bersama suaminya, Ibrahim Sjarief Assegaf, yang telah meninggal dunia pada 20 Mei 2025.

Di dalam video singkat yang ia unggah, Najwa menunjukkan berbagai memorabilia dari pernikahannya, seperti undangan nikah, buku karya ayahnya yang dijadikan souvenir, serta dokumentasi akad nikah yang masih tersimpan dengan baik. Unggahan ini tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menjadi pengingat bahwa cinta sejati tak lekang oleh waktu, bahkan setelah maut memisahkan.

Pernikahan yang dilangsungkan pada 11 Oktober 1997 itu kini telah lebih dari dua dekade berlalu. Bagi Najwa, peristiwa tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan juga simbol dari perjalanan panjang yang telah mereka jalani bersama.

Dalam dokumen yang diunggah oleh Najwa, terlihat bahwa undangan pernikahan mereka didominasi oleh warna biru dan silver. Warna-warna tersebut belakangan ini dianggap sebagai simbol dari perayaan "silver wedding."

Namun, aspek yang paling mengharukan adalah bagaimana undangan ini mencerminkan kepribadian serta latar belakang spiritual kedua mempelai. Nama panggilan "Nana" dan "Baim" digunakan sebagai identitas yang penuh kehangatan. Selain itu, souvenir pernikahan yang berupa buku tafsir karya Quraish Shihab menunjukkan betapa dalamnya nilai-nilai religius yang dipegang oleh keluarga ini.

Najwa mengisahkan bahwa ia menerima lamaran saat berusia 19 tahun dan resmi menikah pada usia 20 tahun. Meskipun angka tersebut mungkin terasa mengejutkan di era sekarang, keputusan itu diambil setelah melalui pertimbangan yang mendalam dan didasari oleh cinta yang tulus.

Walaupun sering kali usia muda diasosiasikan dengan emosi yang tidak stabil, cerita Najwa menunjukkan bahwa dengan adanya fondasi yang kuat, seperti saling percaya dan nilai-nilai keagamaan yang mantap, usia bukanlah penghalang untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis.

Meskipun Najwa dan Ibrahim memiliki latar belakang keluarga keturunan Arab, mereka memutuskan untuk melaksanakan pernikahan dengan menggunakan adat Solo, yang merupakan tempat lahir sang suami. Keputusan ini menunjukkan bahwa cinta dapat menyatukan dua budaya yang berbeda dalam satu ikatan yang sarat dengan rasa saling menghormati.

Penggunaan busana adat Solo pada saat prosesi pernikahan mencerminkan sikap terbuka dan fleksibel dalam merayakan keberagaman. Momen penting ini terekam dalam foto-foto lama yang kini menjadi dokumen sejarah yang penuh makna.

Dalam video kenangan yang ditampilkan, Najwa memperlihatkan bukan hanya undangan, tetapi juga tanda parkir serta koleksi foto-foto akad nikah yang masih terjaga dengan baik. Keberadaan dokumen-dokumen ini mengisyaratkan bahwa kenangan tersebut disimpan dengan penuh kasih sayang dan rasa hormat.

Bukan sekadar arsip fisik, melainkan juga memori emosional yang terjalin dalam setiap rincian pernikahan. Hal ini meliputi pengaturan tempat duduk, desain dekorasi, hingga daftar tamu yang hadir dalam momen penting tersebut.

Najwa, sebagai putri dari ulama terkemuka Quraish Shihab, pastinya merasakan kedalaman nilai-nilai religius dalam pernikahannya. Souvenir berupa buku yang ditulis oleh ayahnya mencerminkan misi keluarga untuk menyebarkan pengetahuan dan kebaikan kepada masyarakat.

Dalam pernikahan tersebut, Quraish Shihab tidak hanya berperan sebagai seorang ayah, tetapi juga sebagai simbol dari integritas spiritual. Kehadiran beliau membuat acara itu menjadi lebih dari sekadar perayaan cinta antara dua insan, melainkan juga sebagai pengingat akan cinta Ilahi yang abadi.

Najwa dan Ibrahim, sebagai pasangan yang berasal dari latar belakang keluarga terkemuka, menggelar pernikahan yang dihadiri oleh banyak tokoh penting di tingkat nasional. Hal ini menunjukkan bahwa acara tersebut tidak hanya sekadar sebuah seremoni, melainkan juga sebuah peristiwa sosial yang sarat dengan makna simbolis.

Kehadiran para tokoh nasional dalam acara tersebut merupakan wujud penghormatan kepada dua keluarga besar yang telah banyak berkontribusi di bidang pendidikan, hukum, dan dakwah.

Pada tanggal 20 Mei 2025, berita sedih menyelimuti: Ibrahim Sjarief Assegaf telah meninggal dunia. Meskipun perpisahan tersebut membawa duka, Najwa Shihab memilih mengenang pernikahannya dengan penuh rasa syukur atas setiap momen yang telah mereka lalui bersama.

Q: Siapa suami Najwa Shihab dan kapan mereka menikah?

A: Suami Najwa Shihab adalah Ibrahim Sjarief Assegaf. Mereka menikah pada 11 Oktober 1997.

Q: Berapa usia Najwa saat menikah?

A: Najwa menikah pada usia 20 tahun, setelah dilamar saat berusia 19 tahun.

Q: Apakah Najwa dan suami memiliki anak?

A: Mereka memiliki dua anak, yakni Izzat dan Namiya. Namun Namiya meninggal dunia tak lama setelah dilahirkan.

Q: Apa tradisi pernikahan yang digunakan?

A: Meskipun keturunan Arab, mereka menggunakan adat Solo dalam prosesi pernikahan.

Rekomendasi