Kondisi Memilukan Gaza Pasca Tentara Israel Hengkang: Jenazah & Tulang Belulang Manusia di Reruntuhan Bangunan

Ratusan jenazah masih terpendam di bawah puing-puing bangunan di Rafah, Gaza.

Mardani
Oleh Mardani - Reporter
Kondisi Memilukan Gaza Pasca Tentara Israel Hengkang: Jenazah & Tulang Belulang Manusia di Reruntuhan Bangunan
Otoritas kesehatan Palestina memperkirakan 10.000 orang kemungkinan tewas di bawah reruntuhan Gaza. Kini satu per satu warga menemukan jasad dan tengkorak ketika mereka kembali ke rumah mereka. (© 2025 merdeka.com)

Ratusan barang berserakan di Rafah, Gaza, mencerminkan tragedi yang dialami oleh warga Palestina di Gaza. Tas ransel anak-anak yang berwarna-warni, sepatu lari, dan berbagai perabot rumah tangga yang rusak menjadi saksi bisu dari aksi biadab tentara Israel.

Barang-barang ini sering kali milik mereka yang hilang dan terpendam di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan Israel. Direktur Layanan Darurat dan Ambulans di Rafah, Haitham al-Homs melaporkan bahwa sejak penarikan tentara Israel, pihaknya telah menerima sekitar 150 panggilan dari warga yang mencari keberadaan jenazah kerabat mereka.

Bau Busuk Jenazah, Potongan Tulang dan Kain

Otoritas kesehatan Palestina memperkirakan ada sekitar 10.000 orang yang hilang akibat konflik ini. Tim pencarian sering kali tidak menemukan tanda-tanda jelas di permukaan tanah, sehingga mereka mengandalkan informasi dari kerabat atau tetangga.

Aroma menyengat dari mayat yang membusuk sering kali menjadi petunjuk bagi tim pencari. Di setiap akhir hari, Haitham mencatat nama-nama orang yang telah ditemukan, namun sering kali yang ditemukan hanyalah potongan tulang dan kain.

Serangan bom berdaya ledak tinggi Israel telah mengakibatkan banyak korban jiwa di Gaza.

Kerangka Manusia di Rumah-Rumah

Osama Saleh, salah satu warga Rafah, mengisahkan penemuan kerangka manusia di rumahnya setelah gencatan senjata. Dia memperkirakan bahwa tubuh tersebut telah tergeletak selama empat hingga lima bulan.

"Kami adalah manusia yang memiliki perasaan... Saya tidak dapat menyampaikan kepada Anda betapa menyedihkannya tragedi ini," ujarnya dikutip dari BBC, Selasa (28/1/2025).

Pengalaman traumatis ini juga dialami oleh banyak keluarga yang mencari sisa-sisa jenazah kerabat mereka di rumah sakit.

Keluarga yang Mencari Jenazah

Di halaman Rumah Sakit Eropa, terlihat kumpulan tulang dan pakaian di atas kantong jenazah. Zaki, salah satu pengunjung, mencari keponakannya, Abdul Salam al-Mughayer, yang hilang di daerah Shaboura.

"Shaboura adalah tempat yang tidak akan pernah Anda datangi lagi jika pergi ke sana selama perang," ucapnya.

Dia meyakini bahwa satu set tulang dan pakaian di depannya adalah milik Abdul Salam. Zaki menunggu kedatangan saudara laki-laki Abdul Salam untuk memastikan identitas jenazah tersebut.

Identifikasi yang Menyakitkan

Ketika saudara laki-laki Abdul Salam tiba, dia membawa foto keponakannya. Dengan hati-hati, dia membuka penutup kantong jenazah dan menyentuh tengkorak serta pakaian yang ada di dalamnya.

Air mata menetes di matanya saat identifikasi selesai. Di tempat yang sama, sebuah keluarga terlihat berjalan di sepanjang deretan kantong jenazah, merasakan kesedihan yang mendalam saat mereka mencari anggota keluarga yang hilang.

Kisah Aya al-Dabeh

Aya al-Dabeh, seorang gadis berusia 13 tahun, menjadi salah satu korban dalam konflik ini. Ibu Aya, Lina al-Dabah, menceritakan bagaimana putrinya ditembak oleh sniper Israel saat pergi ke kamar mandi.

"Aya adalah gadis yang sangat baik hati, dan semua orang mencintainya," kenang Lina.

Setelah militer Israel mengambil alih sekolah tempat Aya bersekolah, Lina terpaksa meninggalkan putrinya di tempat dia terbaring.

Kabar Memilukan tentang Jenazah Aya

Setelah gencatan senjata, Lina meminta kerabat di utara untuk memeriksa kuburan Aya. Kabar yang diterima sangat memilukan, di mana bagian-bagian tubuh Aya ditemukan terpisah.

"Ketika saya melihatnya, saya tidak mengerti bagaimana putri saya dikeluarkan dari kuburnya," ungkap Lina.

Kerabatnya telah mengumpulkan tulang-tulang Aya, dan Lina berencana untuk membawanya pulang untuk dimakamkan dengan layak.

Kesedihan yang Tak Berujung

Kesedihan yang dialami Lina dan banyak orang tua lainnya di Gaza tidak ada habisnya. Mereka terus bertanya-tanya tentang apa yang bisa mereka lakukan setelah perang menghancurkan segalanya.

"Saya tidak bisa membawanya dari tempat dia dikuburkan," kata Lina.

Pertanyaan yang sama terus menghantui mereka, "Kemana saya bisa membawanya?" Upaya untuk mencari dan menguburkan kembali jenazah menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi yang sulit.

Rekomendasi