Kisah Sjafrie Sahabat Prabowo Kawal Soeharto Tembus Medan Perang Sarajevo

Kisah Sjafrie sahabat Prabowo yang pernah kawal Soeharto tembus medan perang Sarajevo.

Tantiya Nimas Nuraini
Oleh Tantiya Nimas Nuraini - Reporter
Kisah Sjafrie Sahabat Prabowo Kawal Soeharto Tembus Medan Perang Sarajevo
Kisah Sjafrie Sahabat Prabowo Kawal Soeharto Tembus Medan Perang Sarajevo. Instagram prabo ©2023 Merdeka.com

Menhan RI Prabowo Subianto mengunggah foto lawas dirinya dalam akun media sosial miliknya. Tidak sendiri, terlihat Prabowo muda berpose dengan satu sosok pria.

Rupanya, pria tersebut merupakan sahabat seperjuangan Prabowo sejak taruna Akademi Militer. Lantas bagaimana kisah Sjafrie sahabat Prabowo yang pernah kawal Soeharto tembus medan perang Sarajevo?

Melansir dari akun Instagram prabowo, Selasa (16/1), simak ulasan informasinya berikut ini.

Ikuti berita Prabowo Subianto di Liputan6.com

Prabowo membagikan foto lawas dirinya bersama dengan sang sahabat di akun Instagram miliknya. Diungkapkan oleh Menhan RI ini, keduanya sudah menjadi sahabat sejak taruna di Akademi Militer.

"Bersama sahabat seperjuangan sejak taruna akademi militer," tulisnya dalam keterangan foto.

"Ada yang mengenali siapa beliau?," tutup Prabowo.

Sahabat Prabowo yang ada di dalam foto tersebut adalah Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin. Sjafrie bukanlah orang sembarangan. Ia pernah menjadi Wakil Menteri Pertahanan Indonesia sejak 6 Januari 2010 hingga 20 Oktober 2014. Ia juga merupakan mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan. Kedua jabatan tersebut tetap Ia rangkap dari April 2005. Sebelumnya, Ia juga menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI pada tahun 2002–2005. Menariknya, Ia penah mengawal Soeharto tembus medan perang Sarajevo.

Kisah tersebut berawal pada tahun 1992-1995, di mana konflik di Balkan memakan korban ribuan rakyat Bosnia. Tentara Serbia menggelar aksi kejam untuk memusnahkan etnis Bosnia. Pembantaian yang terjadi terhadap Muslim Bosnia tercatat sebagai genosida paling mengerikan setelah Perang Dunia II usai.Di tengah baku tembak antara Bosnia dan Serbia itu, Presiden Soeharto tengah berkunjung ke Balkan. Setelah bertemu Presiden Kroasia Franjo Tudjman, di Zagreb pada tahun 1995, Presiden Soeharto pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Sarajevo, ibu kota Bosnia Herzegovina.

Demikian dikisahkan dalam Buku 'Pak Harto The Untold Stories' yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2011.Anggota rombongan kaget. Baru saja mereka mendengar kabar pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus PBB Yasushi Akashi ditembaki ketika terbang ke Bosnia. Namun, insiden penambakan tersebut tidak menyurutkan langkah pemimpin negara Non Blok ini berangkat ke Bosnia.Setelah berdebat, PBB mengizinkan Soeharto terbang ke Bosnia. Syaratnya, Soeharto harus menandatangani surat pernyataan risiko. Artinya PBB tak bertanggung jawab jika suatu hal menimpa Presiden RI kedua ini nantinya di Sarajevo.

Presiden Soeharto langsung meminta formulir kepada Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Grup A Pasukan Pengaman Presiden. Dia langsung menandatangani surat itu tanpa ragu.Sjafrie ketar-ketir juga. Terlebih ketika Soeharto menolak mengenakan helm baja. Dia juga tak mau menggunakan rompi antipeluru seberat 12 kg yang dikenakan oleh setiap anggota rombongan."Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (jinjing) saja," ujar Soeharto pada Sjafrie.Pak Harto tetap menggunakan jas dan kopiah. Sjafrie pun ikut-ikutan mengenakan kopiah yang dipinjamnya dari seorang wartawan yang ikut. Tujuannya untuk membingungkan sniper yang pasti akan mengenali Presiden Soeharto di tengah rombongan."Ini dilakukan untuk menghindari sniper mengenali sasaran utamanya dengan mudah," terang Sjafrie.Suasana mencekam. Saat mendarat di Sarajevo, Sjafrie melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk menembak jatuh pesawat terbang terus bergerak mengikuti pesawat yang ditumpangi rombongan Presiden Soeharto.Saat konflik, lapangan terbang itu dikuasai dua pihak. Pihak Serbia menguasai landasan dari ujung ke ujung, sementara kiri-kanan landasan dikuasai Bosnia. "Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah," beber Sjafrie.

Setelah mendarat, bukan berarti masalah selesai. Mereka harus melewati Sniper Valley, sebuah lembah yang menjadi medan pertarungan para penembak jitu Serbia dan Bosnia. Sudah tak terhitung banyaknya korban yang jatuh akibat tembakan sniper di lembah itu.Pak Harto naik panser VAB yang sudah disediakan Pasukan PBB. Walau di dalam panser, bukan berarti mereka akan aman 100 persen dari terjangan peluru sniper. Tapi Presiden Soeharto santai-santai saja.Akhirnya mereka sampai di Istana Presiden Bosnia yang keadaannya sangat memprihatinkan. Tidak ada air mengalir, sehingga air bersih harus diambil dengan ember. Pengepungan yang dilakukan Serbia benar-benar meluluh-lantakan kondisi Bosnia.Presiden Bosnia Herzegovina Alija Izetbegovic menyambut hangat kedatangan Presiden Soeharto. Dia benar-benar bahagia Soeharto tetap mau menemuinya walaupun harus melewati bahaya.

Setelah meninggalkan istana, Sjafrie pun bertanya pada Soeharto mengapa nekat mengunjungi Bosnia yang berbahaya. Termasuk menyampingkan keselamatan dirinya."Ya kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok," jawab Pak Harto."Tapi resikonya sangat besar, Pak" kata Sjafrie lagi."Ya itu bisa kita kendalikan. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik, mereka jadi tambah semangat," kata Pak Harto.Kata-kata itu membekas di hati Sjafrie. Bahkan sampai puluhan tahun kemudian, dia masih ingat kata-kata Presiden Soeharto tersebut."Kalimat yang diucapkannya bermuatan keteladanan yang berharga bagi siapa pun yang hendak menjadi pemimpin," tutup Sjafrie.

Rekomendasi