Menteri-Eks Wapres RI Tak Bisa Beli Rumah & Mobil, Pilih Nyicil Ketimbang Korupsi

Pejabat negara tak mampu beli rumah sampai harus nyicil

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Menteri-Eks Wapres RI Tak Bisa Beli Rumah & Mobil, Pilih Nyicil Ketimbang Korupsi
Pejabat Negara yang Hidup Sederhana. ©2022 Merdeka.com

Memiliki jabatan penting di pemerintah rupanya tak lantas membuat semua orang terlena untuk memanfaatkan kekuasaan dan fasilitas yang diberikan. Setidaknya, hal itu yang dilakukan oleh sejumlah mantan menteri hingga eks wakil presiden (wapres) RI berikut ini.

Siapa sangka, jika sederet mantan pejabat negara di bawah ini ternyata pernah kesusahan dan tak mampu membeli rumah atau kendaraan pribadi secara tunai.

Bahkan, ada yang sampai harus mencicilnya sampai 15 tahun. Simak ulasannya:

Wapres RI ke-6 Try Sutrisno

Eks Wapres sekaligus mantan Panglima ABRI Jenderal Try Sutrisno, belum lama ini bercerita soal asal-usul rumah pribadinya yang disebut dibeli dengan cara nyicil.

Meski pernah menjabat sebagai wakil presiden ke-6 dan menjadi orang nomor satu di militer, Try megaku tak pernah memiliki banyak uang. Hal itu diungkapkan langsung olehnya dalam video yang diunggah di kanal Youtube Irma Hutabarat-HORAS INANG.

Dalam video, dia menceritakan bahwa setelah selesai menjabat sebagai Kasad pernah ditawari untuk membeli rumah dinas agar bisa ditempati menjadi kediaman pribadinya. Namun, pada saat itu Try mengaku tidak memiliki uang yang cukup.

Beruntung, dia diperbolehkan untuk membeli rumah yang dulu ditawarkan dengan harga Rp85 juta itu dengan mencicilnya selama 15 tahun.

"Waktu saya pindah saya dipersilahkan boleh beli rumah dinas, tapi saya bilang saya enggak punya duit. Ini harganya (dulu) Rp85 juta tahun sekitar 86 lebih. Tapi harga itu bisa dicicil 15 tahun," cerita Try.

"Ini rumah saya bukan korupsi pak ini rumah dari angkatan darat. Jadi setiap kasad boleh beli rumah dinas," ungkapnya.

Dr. Sahardjo


Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Dr. Sahardjo juga salah satu pejabat pemerintahan yang pernah hidup dengan sangat sederhana. Berbagai jabatan strategis yang diembannya tidak membuatnya bergelimang harta. Bahkan, dia masih menumpang di rumah mertua dan tidak punya rumah pribadi.Meski begitu, karena integritasnya yang tinggi Sahardjo tidak pernah mau menerima pemberian atau hadiah bahkan dari kantornya sendiri. Banyak pegawainya bahkan beberapa kali disebut sering membujuknya agar bisa memiliki rumah sendiri. Hingga pada akhirnya, Sahardjo berhasil didesak dan dibujuk untuk mau menempati rumah dinas saat dia sudah dalam kondisi sakit-sakitan. Rumah tersebut bahkan dikatakan kurang layak ditempati menteri. Tapi Sahardjo tidak mempersoalkan apakah rumah itu sesuai kedudukannya atau tidak. Dia menerima saja kondisi rumah apa adanya. Setelah delapan bulan menempati rumah tersebut, Sahardjo meninggal dunia pada November 1963 karena pendarahan di otak.

Jenderal Hoegeng

Bagi sebagian besar orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama Jenderal Hoegeng. Dia dikenal sebagai sosok polisi yang disebut-sebut sangat jujur. Sampai saat ini, sosoknya bahkan dikatakan masih menjadi kapolri ideal sepanjang sejarah RI. Terutama, terkait integritas pribadinya.Setelah pensiun dari kepolisian, mantan orang nomor satu Polri itu tidak memiliki mobil ataupun rumah pribadi. Saat masih menjabat, dia bahkan pernah mengembalikan sepeda motor yang diberikan padanya oleh seorang pengusaha otomotif. Hal ini dikarenakan dia enggan menerima hadiah secara cuma-cuma. Hingga pada akhirnya, kejujuran dan keprihatinan Hoegeng pun mengundang perhatian dari Kapolri penggantinya, Mohammad Hasan dan sejumlah Kapolda. Hasan kemudian berinisiatif mengalihkan kepemilikan rumah dinas menjadi atas nama Hoegeng. Kemudian, sejumlah Kapolda ikut melakukan iuran dan membelikan mobil Holden Kingswood. "Itu satu-satunya mobil setelah Bapak pensiun," kata Aditya S Hoegeng dalam tulisannya, Saya Bangga Menjadi Anak Pak Hoegeng dikutip dari laman Liputan6 (17/11).

Menteri Sutami

Selanjutnya ada nama mantan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Insinyur Sutami, yang juga dikenal sebagai sosok sangat sederhana. Menjabat sebagai menteri selama 14 tahun, tak membuat Sutami kaya raya dan hidup bermewah-mewahan. Padahal, dia merupakan sosok penting dan berjasa dalam pembangunan infrastruktur besar yang hingga kini menjadi kebanggaan bangsa, di antaranya Gedung DPR, Jembatan Semanggi, Jembatan Ampera, hingga Bandara Ngurah Rai Bali.Meski menjadi menteri selama belasan tahun, ternyata Sutami sosok yang selalu enggan memanfaatkan fasilitas negara. Bahkan, dia juga sampai harus membeli rumah secara susah payah dengan cara dicicil. Rumah tersebut bahkan baru lunas setelah Sutami pensiun. Setelah pensiun, Sutami mengembalikan semua fasilitas yang dimilikinya. Meski pensiunan menteri, Sutami hidup dalam kesederhanaan.

Baharuddin Lopa

Mantan Jaksa Agung Baharuddin Lopa juga dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana. Meski dikenal sering menangani kasus-kasus besar, namun rupanya Lopa memiliki rumah di daerah Jakarta Timur yang sederhana dan tidak luas. Lopa bahkan melarang keluarganya untuk menggunakan fasilitas negara. Mobil yang dipakainya untuk menjalani aktivitas bahkan dibelinya dengan cara kredit.

Rekomendasi