Kisah anak kampung menjadi perwira tinggi TNI kali ini begitu inspiratif. Perwira dari Angkatan Udara itu adalah Komandan Komando Sektor III Koopsud III, Marsekal Pertama Wastum.
Marsekal bintang satu ini memiliki julukan Wastum "Conda". Merupakan lulusan terbaik Akademi Angkatan Udara tahun 1996.
Terdapat salah satu kisah unik semasa Wastum muda. Ia mengaku sempat melanggar aturan Taruna demi bisa membantu ayahnya di sawah. Bahkan, menolak dikunjungi rumahnya di pelosok.
Penasaran dengan sepak terjang Marsma Wastum? Simak kisah inspiratifnya berikut ini, dikutip dari kanal YouTube Jenderal TNI Andika Perkasa, Rabu (13/7).
Advertisement
Kisah unik datang dari Marsma Wastum. Pria asal Dusun Ujunggebang, Susukan, Cirebon, Jawa Barat, ini pernah mengungkapkan desanya cukup terpencil.
Tempat tinggalnya bahkan baru mendapatkan listrik, tepatnya setelah dirinya lulus dari penerbangan.
Wastum pernah mengaku tak layak menerbang pesawat tempur karena tangannya kasar.
"Karena tangan saya ini kasar. Saya itu pencangkul ulung. Saya hanya membantu bapak saya di sawah, menyiapkan ladang, ibu saya mengantar se-simple itu kehidupan saya. Sampai saya taruna, saya masih nyangkul," kata Wastum.
Advertisement
Dalam aturannya, seorang Taruna dilarang melepas atribut. Tapi sebagai anak laki satu-satunya, Wastum tentu tak ingin membebani orangtua.
Alhasil, Wastum terpaksa melanggar aturan dan mengenakan pakaian sipil untuk menyusul ayahnya menyangkul di sawah.
"Kalau boleh dikatakan, saya dulu pernah melanggar aturan Taruna. Kalau pulang ke kampung, tidak boleh pakai baju sipil. Tapi saya langgar itu," papar Wastum.
kanal YouTube Jenderal TNI Andika Perkasa ©2022 Merdeka.com
Sebagai anak petani, Wastum tak sanggup melepaskan tanggung jawabnya dalam membantu orangtua di sawah.
"Karena saya tidak mungkin di kampung sementara saya pakai baju Taruna, bapak saya ke sawah nyangkul. Saya anak cowok satu-satunya. Saya lepaskan semua atribut itu," imbuhnya.
Advertisement
Setiap momen kepulangan atau libur dari AAU, Wastum akan menyempatkan diri untuk menyangkul di ladang bersama orangtuanya.
"Saya menggunakan (celana) training, walaupun saya tidak melanggar betul karena saya masih pakai training, tapi saya nyangkul sama bapak saya menyiapkan ladang untuk ditanami padi," tutur Wastum.
Hal itu dilakukannya terus sampai di tingkat tiga. Bahkan saat dirinya sudah berpangkat komandan kala itu, Wastum melarang pada adik tingkatnya untuk bertandang ke rumah.
"Sampai tingkat tiga, saya sebagai Komandan Kopral Taruna kan adik-adik suka datang ke rumah. Saya sudah wanti-wanti, jangan datang ke rumah saya, enggak boleh. Itu perintah dari saya," ujarnya.
Advertisement
Lantaran merasa kasihan dengan para adik tingkatnya, Wastum lantas melarang mereka untuk datang ke desanya.
"Komandan kamu sudah memerintahkan kamu jangan ke rumah saya. Karena jalan ke rumah saya itu masih makadam pak. Jadi kasihan kalau mereka datang ke rumah saya pakai mobil," tegas Wastum.
kanal YouTube Jenderal TNI Andika Perkasa ©2022 Merdeka.com
Kendati demikian, tak disangka adik-adik tingkat di Taruna datang ke rumah mengendarai mobil.
"Ternyata betul saja, adik-adik kami datang pakai mobil sedan pula. Adik (kandung) saya ke sawah, 'Kang ada temannya datang'," cerita Wastum menirukan sang adik.
Advertisement
Posisi Wastum kala itu masih menyangkul di sawah, akhirnya terpaksa pulang ke rumah karena dipanggil sang adik.
Sama-sama terkejut. Wastum tak menyangka akan kehadiran adik-adik Taruna, sama halnya dengan mereka yang kaget dengan penampilan Wastum.
"Ngapain ini bocah-bocah. Akhirnya saya masih pakai cangkul, kirain teman saya. Rupanya adik-adik saya. Dia lihat saya, 'Ini senior saya apa bukan. Selamat siang Mayor Taruna'," ungkap Wastum.
Karena tak mengenakan seragam dan atribut Taruna, Wastum pun menolak untuk diberi hormat komando dari adik-adik tingkatnya itu.
"Sudah-sudah jangan hormat ini saya lagi pakai ini (baju sipil dan caping). Nasib itu kita tidak tahu ya. Begitu ada pemilihan, dari bakat saya, nilai terbang saya. Saya masuk jadi penerbang tempur, F16 pula. Waktu itu F16 yang tertinggi," pungkasnya.