WNI Kisahkan Warga di Mekkah Banyak Pindah Rumah saat Musim Haji, Ini Sebabnya

Harga sewa rumah bisa menanjak drastis Rp34 juta per bulan saat Ramadan.

Kurnia Azizah
Oleh Kurnia Azizah - Reporter
WNI Kisahkan Warga di Mekkah Banyak Pindah Rumah saat Musim Haji, Ini Sebabnya
Hidup di Mekkah Jangan Dekat Masjidil Haram. Kanal YouTube Alman Mulyana ©2022 Merdeka.com

Sejumlah warga negara Indonesia banyak bekerja di Mekkah. Mereka mengadu nasib karena berharap mendapat gaji besar.

Namun, biaya hidup di sana terbilang tinggi. Seperti dikisahkan Kang Irlan dan Kang Alman yang sudah mengenal situasi di Mekkah.

Keduanya menceritakan, terkadang warga asli berpindah rumah saat bulan Ramadan dan musim haji tiba. Lantaran harga sewa rumah bisa menanjak drastis.

Simak informasi dihimpun dari kanal YouTube Alman Mulyana, Rabu (13/4).

Kang Alman kali ini berkesempatan bertandang ke kediaman rekan sesama YouTuber, Kang Irlan. Diketahui keduanya merupakan WNI yang telah lama bekerja di Mekkah dan memboyong serta keluarganya.

"Di sini kalau harga kontrakan berapa?" tanya Kang Alman.

"Kalau biasanya musim sekarang kan ya, belum Ramadan atau belum haji. Satu kamarnya ini dihitung 500 riyal, saya ambil dua kamar berarti 1.000 riyal per bulan. Sudah plus listriknya," ungkap Kang Irlan.

Kang Irlan menceritakan untuk biaya sewa apartemen atau tempat tinggal di sana, bisa mencapai Rp4 juta per bulan. Ini sudah termasuk harga yang cukup terjangkau atau murah di sana.

"Murah guys, apartemen sebagus ini, sebersih ini ya kalau di kurs Indonesia sekitar Rp3.800 juta atau Rp4 juta tergantung penukaran," ujarnya.

Sementara untuk biaya hidup istri dan anak bisa mencapai lebih dari Rp2 juta. Sehingga dapat diperkirakan, jika hidup bersama keluarga kecil di Mekkah. Maka harus merogoh kocek di kisaran Rp5 juta ke atas.

"Untuk biaya hidup kang Irlan itu bersama keluarga punya anak, bisa ngabisin berapa kang?" tanya Alman.

Apalagi jika apartemen atau rumah yang disewa harus membebankan biaya fasilitas listrik secara terpisah.

"Satu bulan, Aulan saja seorang kalau dijumlahkan sekitar 700 riyal. Aulan saja, sekitar Rp2 juta. Kemudian ditambah yang lainnya. Tapi kalau misal rumah lain biasanya listrik bayar," imbuhnya.

Kanal YouTube Alman Mulyana ©2022 Merdeka.com

Tantangan untuk bisa hidup di Mekkah tak berhenti di situ. Kang Irlan mengaku jika mendekati musim Ramadan dan Haji, biasanya ia akan diminta untuk pindah.

Karena apartemen yang disewanya akan dihuni oleh para jamaah dari negara lain. Tapi semenjak pandemi Covid-19 dan penundaan pemberangkatan haji, kondisi jumlah jamaah jadi lebih kondusif.

"Kalau pas musim haji, biasanya rumah ini diisi oleh para jamaah haji, dari Singapura, dari India. Saya sudah tanya penanggung jawab, untuk haji musim ini tidak ada jadi kami bisa tetap tinggal di sini. Tapi mungkin enggak tahu ke depannya," kata Irlan.

Kanal YouTube Alman Mulyana ©2022 Merdeka.com

Seakan sudah menjadi rahasia umum bagi para WNI yang tinggal di Mekkah, untuk tidak menyewa rumah dekat dengan Masjidil Haram.

"Kalau yang saya perhatikan, kalau sewa rumah di Mekkah itu, jangan dekat Masjidil Haram. Tahu enggak alasannya Kang Irlan?" tanya Alman.

Karena biasanya, harga sewa bisa melonjak drastis. Dari yang awalnya 1.000 real atau Rp4 juta bisa naik beberapa kali lipat menjadi 9.000 riyal atau setara Rp34 juta.

"Jangan sewa rumah di Mekkah itu yang dekat dengan Masjidil Haram. Alasannya kalau saat musim Ramadan, musim haji, itu kan banyak jamaah. Harganya pasti mahal. Bisa 3 atau 4 kali lipat. Yang biasanya ini 1.000 riyal nanti bisa jadi 9.000 riyal per bulan,"

"Kalau hidup di Mekkah, saran dari saya, jangan dekat dengan Masjidil Haram. Toh naik taksi di sini juga murah," tukas Alman.


Kang Alman mengingatkan bagi yang hendak ke Mekkah, sebaiknya sudah mempersiapkan dana besar. Apalagi bagi yang baru pertama kali pindah.

Agar tidak terkejut dengan kenaikan harga, terutama saat musim liburan atau Ramadan dan haji tiba.

"Buat yang selalu bertanya, 'Kang kalau saya hidup di Mekkah bagaimana?' Jadi kalau hidup di Mekkah, ya kalau orang yang belum pernah tinggal sama sekali di sini harus bawa uang banyak. Karena sewa rumah mendekati bulan Ramadan dan haji itu fantastis harganya," ujar Alman.

Hal serupa terjadi pada hotel dan penginapan dekat dengan Masjidil Haram. Apalagi Kang Alman dan istri kerap tinggal di hotel selama di Mekkah. Karena belum menemukan rumah yang tepat ditinggali.

Umumnya warga asli Mekkah akan memilih untuk mengosongkan rumah atau apartemennya untuk disewakan. Khususnya di saat musim Ramadan dan haji.

"Kebanyakan warga sini saja keluar dari kota Mekkah untuk mengosongkan rumahnya. Kalau misal hotel dalam sehari semalam Rp10 juta itu bisa jadi puluhan bahkan ratusan ribu riyal. Naiknya itu bukan Rp3 juta jadi Rp5 juta. Tapi di sini naiknya Rp3 juta jadi puluhan, bisa Rp50 atau Rp100 juta. Karena Kota Mekkah ini memang menjadi tujuan utama, khususnya orang Indonesia," pungkas Alman.

Rekomendasi