Politisi Wanita Irlandia Bongkar Beda Perlakuan Eropa soal Pengungsi, Sedih Banget

Clare berharap, dalam sidang paripurna juga fokus memerhatikan para pengungsi dari negara lain tanpa pilih kasih.

Kurnia Azizah
Oleh Kurnia Azizah - Reporter
Politisi Wanita Irlandia Bongkar Beda Perlakuan Eropa soal Pengungsi, Sedih Banget
Politisi Wanita Irlandia Bongkar Beda Perlakuan Eropa soal Pengungsi. Instagram @cordova.media ©2022 Merdeka.com

Aksi berani dan tegas seorang politisi wanita dari Irlandia tengah ramai jadi sorotan media dunia. Ia membongkar perlakuan Eropa yang tak memberikan hak bagi para pengungsi, perlakuan beda terhadap Ukraina dengan Afghanistan dan sejumlah negara konflik lain.

Wanita itu bernama Clare Daly. Clare merupakan seorang politikus yang telah menjadi Anggota Parlemen Eropa (MEP) dari Irlandia untuk daerah pemilihan Dublin sejak Juli 2019.

Bahkan ia menyebutkan betapa zalimnya Presiden Amerika yang tega menginvasi, serta merampok kekayaan negara lain. Clare berharap, dalam sidang paripurna juga fokus memerhatikan para pengungsi dari negara lain tanpa pilih kasih atau diskriminasi.

Simak ulasan selengkapnya berikut ini, seperti dihimpun dari laman Instagram akun @cordova.media, Senin (14/3).

Clare Daly membuka aksinya dengan menghormati para pimpinan, sekaligus memuji aksi Eropa yang bertindak cepat terhadap para pengungsi Ukraina.

"Saya dengan sepenuh hati menyambut upaya bantuan yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh UE (Uni Eropa), berupa perlindungan segera terhadap pengungsi Ukraina yang menyelamatkan diri dari perang. Hal ini untuk menghormati hak-hak mendasar bagi mereka yang memasuki teritori kita," kata Clare.

Dia mengaku miris dan sedih mengetahui belum lama ini ada kasus dari Polandia yang meninggal akibat kedinginan. Bahkan seakan terkurung dengan adanya pembatas dengan kawat berduri.

"Tapi bagaimana kita menjelaskan solidaritas itu dengan contoh kasus di mana Polandia, kurang dari 3 bulan lalu. Pada faktanya 19 orang meninggal dunia karena kedinginan di perbatasan kita, dihalangi dengan kawat berduri dan water cannon," imbuhnya.

Seperti diketahui, sebelumnya beredar kabar bahwa Polandia sempat menutup perbatasan dengan Belarus. Setelah sekelompok pengungsi mencoba menerobos paksa pagar pembatas. Meski ada di perbatasan Polandia-Ukraina, sejumlah sukarelawan menawarkan tumpangan gratis.

Kian pilu dengan adanya fakta bahwa para pengungsi Afghanistan, sebagian mengalami penindasan dengan di penjara di Yunani. Bahkan ada yang mengalami pelecehan seksual dan perampokan.

"Bagaimana kita menjelaskan solidaritas itu, melihat fakta adanya pengungsi Afghanistan di penjara Yunani. Dituduh menyelundupkan orang-orang, atau ada orang yang dipukul mundur dari perbatasan Kroasia dengan keadaan yang begitu mengerikan, mereka disodomi dan dirampok," ujar Clare.

Sebuah harapan besar disampaikan oleh Clare. Ia ingin adanya bukti nyata pelaksanaan Undang-Undang Suaka Internasional. Dengan tidak adanya sikap diskriminatif atau membeda-bedakan.

"Didasarkan pada asal dan ras mereka. Kita harus memastikan penerapan Undang-Undang Suaka Internasional yang konsisten dan tidak diskriminatif. Semua orang mempunyai hak untuk mendapatkan standar internasional yang tinggi," tegasnya.

Tak sedikit nyawa penduduk sipil menjadi korban dari konflik yang melanda. Seperti yang dialami oleh Afghanistan. Banyak kasus yang diungkap Clare, dari yang mati karena kelaparan, disiksa, hingga aksi penjualan anak.

"Tak perlu diragukan lagi, kita hidup di masa-masa krisis. Di mana nyawa penduduk sipil dikorbankan dalam peperangan para penguasa mereka. Iya di Ukraina, tapi bukan itu saja. Sejak sidang paripurna terakhir, 10.000 warga Afghanistan terpaksa mengungsi. 5 juta anak mengalami kelaparan, kematian yang menyiksa dan menyakitkan, 500% peningkatan pernikahan anak dan anak-anak dijual," tegas Clare.

Bahkan mirisnya lagi, tak banyak media yang mengekspos kebenaran tersebut. Termasuk dalam sidang paripurna seolah mengabaikan penderitaan para pengungsi.

"Tidak di sini, tidak dimana pun. Tidak ada liputan televisi, tidak ada respon darurat kemanusiaan. Tidak ada sidang paripurna istimewa, bahkan tidak disebutkan di sidang ini. Tidak diundang delegasi Afghanistan dan tidak ada pernyataan," ungkapnya.

Clare tampak tegas menyuarakan aspirasinya, bahkan tak segan menyebutkan adanya diskriminatif terhadap perbedaan ras.

Seperti sudah menjadi rahasia umum, bahwa Amerika acap kali menjadi dalang atau mungkin terlibat secara halus dalam sejumlah konflik. Hal itu pula yang disampaikan oleh Clare, betapa zalimnya sang pemimpin dengan menginvasi dan merampok.

"Apakah karena warna kulit mereka? Karena tidak berkulit putih? Mereka bukan orang Eropa? Permasalahan itu datangnya dari senjata dan invasi Amerika. Apa karena keputusan untuk merampok kekayaan negara yang dilakukan oleh presiden Amerika yang zalim? Semua peperangan adalah kejahatan dan semua korban membutuhkan dukungan. Jika belum sampai lembaran itu, kita tak punya kredibilitas," pungkasnya.

Sebuah aksi yang patut diacungi jempol, seorang politisi wanita dari Irlandia, Clare Daly. Ia berani menunjukkan bukti ketidakadilan sikap Eropa terhadap pengungsi dari Ukraina dengan negara lain.

Berikut ini videonya.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Cordova Media (@cordova.media)

Halaman Berikutnya Bikin Halaman Rumah Kampung Lebih Hidup: 11 Inspirasi Kebun Bunga
Rekomendasi