Dongeng anak sebelum tidur biasanya menjadi salah satu jurus terjitu para orangtua agar membuat buah hatinya segera terlelap. Menceritakan pengantar tidur ini sudah menjadi salah satu tradisi hampir dari seluruh penjuru dunia.
Terkadang memang dongeng ini terlihat sangat sederhana dan mudah, namun apabila dicermati Anda akan sadar jika sebenarnya itu akan memiliki pengaruh kuat pada anak-anak dan memiliki beragam manfaat. Salah satu manfaat terpentingnya ialah membantu membangun rutinitas sehingga membuat mereka siap untuk segera tidur.
Perlu diketahui jika membacakan dongen anak sebelum tidur bisa memperkuat kerangka itu dengan memberi otak mereka sinyal penting untuk segera bersiap istirahat. Bagi Anda yang ingin memberikan dongen namun masih bingung, kini tak usah repot.
Berikut adalah ragam dongeng anak sebelum tidur dengan pesan bermakna di dalamnya untuk dijadikan referensi.
Advertisement
Dongeng Nelayan dan Ikan Kecil
Dongeng anak sebelum tidur yang pertama adalah kisah dari nelayan dan ikan kecil. Seorang nelayan miskin hidup berdasarkan ikan hasil yang ditangkapnya. Di suatu hari ia mengalami nasib kurang beruntung dan hampir tak mendapatkan tangkapan apapun selain seekor ikan kecil.
Nelayan itu memasukkan ikan itu ke keranjang yang dibaanya dan ikan itu berkata:
"Mohon lepaskan aku, tuan nelayan! Saya sangat kecil hingga tidak berharga untuk dibawa pulang ke rumah. Saat saya menjadi lebih besar nanti, saya akan menjadi santapan yang lebih lezat untuk tuan."
Namun nelayan kala itu tetap mengabaikan apa permohonan dari ikan kecil dan tetap meletakkannya pada keranjangnya.
"Betapa bodohnya saya jika melepaskan ikan ini." kata Nelayan. "Bagaimana kecilpun ikan yang saya tangkap, tetap lebih baik daripada tidak ada tangkapan sama sekali."
Advertisement
Dongeng Semut dan Merpati
Suatu hari, terdapat seekor semut berjalan mencari makan di tepian sungai. Ia berjalan dengan riangnya namun karena kurang hati-hati ia terjatuh ke dalam sungai. Kala itu, arus sungai amat kencang dan berhasil menghanyutkannya timbul tenggelam dan kelelahan berusaha untuk menepi, namun tak kunjung berhasil.
Seekor burung merpati kebetuan bertengger di ranting pohon melintang di atas sungai melihat sang semut yang hampir tenggelam dan ia merasa iba. Burung merpati pun akhirnya memetik sebuah daun dan menjatuhkannya di dekat semut. Akhirnya semut merayap naik ke atas daun dan berhasil menyelamatkan dirinya dengan bantun daun, ia berhasil mendarat di tepian sungai.
Tak lama setelah itu, semut melihat seorang pemburu burung sedang mengendap berusaha mendekati burung merpati yang sudah menolongnya. Semut sadar bahaya yang menghampiri merpati, kemudian ia berlari mendekat ke sang pemburu dan menggigit kakinya.
Pemburu itu kesakitan serta terkejut mengibaskan ranting yang tadinya akan digunakan untuk menangkap burung. Burung merpati pun juga sadar keberadaan pemburu yang sibuk mengibaskan ranting kesakitan dan membuatnya terbang menyelamatkan diri.
Advertisement
Dongeng Biji Pohon Oak dan Labu
Suatu hari seorang petani yang tinggal di sebuah desa berpikir tentang besarnya sebuah labu dan kecilnya batang di mana labu itu tumbuh.
"Apa yang Tuhan pikirkan kira-kira ya?" katanya pada diri sendiri. "Tuhan mungkin menumbuhkan labu tersebut di batang yang kurang sesuai. Seandainya saya yang menciptakan labu ini, saya akan menumbuhkan dan menggantungnya di pohon oak. Seharusnya di sanalah tempat yang tepat. Buah yang besar, sepantasnya berasal dari pohon yang besar! sayang sekali!" lanjut ia berbicara pada dirinya sendiri.
"Sebagai contoh, biji pohon oak ini, yang sekecil jari tangan saya, seharusnya digantungkan pada batang labu yang kurus ini," imbuh dia.
Namun karena dirinya terlalu lama berpikir dan berangan, petani itu menjandi mengantuk dan berbaring di bawah pohon Oak. Tak lama kemudian, ia tertidur dengan pulasnya.
Ketika itu pula pohon oak jatuh tepat di atas hidungnya dan membuat petani terkejut serta terbangun dari tidurnya. Ia mengusap hidungnya yang sakit dan mengeluarkan darah.
"Aduh.. aduh..!"teriaknya, "Hidungku berdarah, bagaimana seandainya sesuatu yang lebih berat jatuh dari pohon ini dan menimpa kepala saya; bagaimana seandainya biji pohon oak ini adalah sebuah labu? Saya tadinya meragukan ciptaan-Nya, sekarang saya telah mengerti semuanya dengan sempurna,".
Kemudian sang petani akhirnya memuji dan bersyukur kepada Tuhan sambil berjalan pulang ke rumah tempat di mana ia tinggal.
Advertisement
Dongeng Bangau yang Angkuh
Dongeng anak sebelum tidur selanjutnya ialah bangau yang angkuh. Seekor bangau berjalan dengan langkah anggunnya di sepanjang sungai kecil dengan mata menatap air sungai yang jernih dan leher serta paruhnya yang panjang siap untuk menangkap mangsa untuk sarapan paginya.
Ketika itu sungai memang sedang dipenuhi dengan ikan berenang, tetapi si Bangau merasa sedikit angkuh hari itu.
"Saya tak mau makan ikan-ikan yang kecil," katanya kepada diri sendiri. "Ikan yang kecil tidak pantas dimakan oleh bangau yang anggun seperti saya," kata dia.
Kemudian ada seekor ikan sedikit lebih besar di dekatnya. Akan tetapi ia tetap untuk menolaknya dan mengatakan tidak.
"Tidak," kata sang Bangau. "Saya tidak akan merepotkan diri saya untuk membuka paruh dan memakan ikan sebesar itu!,".
Ketika matahari mulai meninggi, ikan yang ada di air dangkal dekat pinggiran sungai akhirnya berenang pindah ke tengah sunai yang dalam dan dingin. Sang Bangau tak melihat ikan lagi dan terpaksa puas dengan memakan siput kecil.
Secara tidak langsung, dongeng ini mengajarkan anak agar tidak bersikap angkuh karena hanya akan merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain.