Kisah Asra Pertahankan Sulam Kasab Aceh, Modal PNM Mekaar Bantu Usaha Terus Berkembang

Asra menjaga tradisi sulam kasab Aceh sejak 1990. Dukungan pembiayaan dan pendampingan membantunya mengembangkan usaha dan membuka kerja.

nofie tessar
Oleh nofie tessar - Reporter
Kisah Asra Pertahankan Sulam Kasab Aceh, Modal PNM Mekaar Bantu Usaha Terus Berkembang
Usaha sulam kasab yang dikembangkan Asra tak hanya membantu perekonomian keluarga, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. (istimewa)

Gempuran produk hasil industri menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan kerajinan tradisional. Apalagi, sejumlah kerajinan membutuhkan keterampilan khusus, ketelitian, serta waktu pengerjaan yang tidak sebentar.

Di Kuala Baru, Aceh, Asra memilih tetap bertahan menjaga salah satu warisan tersebut. Perempuan berusia 63 tahun itu telah menekuni usaha sulam kasab sejak 1990. Lebih dari tiga dekade kemudian, keterampilan yang awalnya dijalankan untuk membantu perekonomian keluarga itu berkembang menjadi usaha yang turut memberikan penghasilan bagi masyarakat di sekitarnya.

Sulam kasab merupakan kerajinan yang dikerjakan dengan tangan melalui proses cukup rumit. Di tengah perubahan zaman, Asra melihat tradisi tersebut perlu terus dipertahankan sebagai bagian dari keterampilan lokal sekaligus identitas daerah.

“Awalnya usaha ini berangkat dari budaya sulam benang kasab yang memang sudah menjadi tradisi di daerah kami. Karena proses pembuatannya cukup lama dan membutuhkan ketelitian, lambat laun banyak warga yang lebih memilih membeli sulam manik-manik kasab daripada membuatnya sendiri,” ujar Asra.

Bermula dari Pesanan Rumah ke Rumah

Kisah Asra Pertahankan Sulam Kasab Aceh, Modal PNM Mekaar Bantu Usaha Terus Berkembang
Usaha sulam kasab yang dikembangkan Asra tak hanya membantu perekonomian keluarga, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. (istimewa)

Melihat kebutuhan masyarakat, Asra kemudian mulai menawarkan keterampilan menyulamnya dengan menerima pesanan dari rumah ke rumah.

Pada awalnya, aktivitas tersebut dilakukan di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Seiring waktu, pesanan terus berdatangan hingga usaha itu berkembang dan menjadi salah satu penopang ekonomi keluarganya.

Jangkauan pasarnya pun semakin luas. Jika semula pesanan hanya berasal dari masyarakat sekitar, kini hasil sulam manik-manik kasab buatan Asra telah dipasarkan ke berbagai wilayah di Aceh.

Namun, menghasilkan satu kerajinan sulam kasab bukan pekerjaan sederhana. Setiap produk dibuat dengan tangan dan membutuhkan keterampilan khusus. Tarikan benang harus dikerjakan secara hati-hati agar pola yang terbentuk terlihat rapi.

Proses pengerjaannya juga membutuhkan kesabaran karena kesalahan pada satu bagian dapat memengaruhi keseluruhan hasil kerajinan.

“Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit. Setiap tarikan benang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra. Tidak bisa dikerjakan terburu-buru karena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus,” jelasnya.

Tambahan Modal Bantu Tingkatkan Produksi

Kisah Asra Pertahankan Sulam Kasab Aceh, Modal PNM Mekaar Bantu Usaha Terus Berkembang
Usaha sulam kasab yang dikembangkan Asra tak hanya membantu perekonomian keluarga, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. (istimewa)

Dalam perjalanan mengembangkan usahanya, Asra sempat menghadapi persoalan permodalan. Pada 2020, ia kemudian bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar untuk mendapatkan tambahan modal usaha.

Pembiayaan tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan produksi, termasuk membeli bahan dalam jumlah lebih banyak. Ketersediaan modal membuat Asra memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menerima lebih banyak pesanan.

“Alhamdulillah, tambahan modal tersebut membantu saya untuk tetap menjalankan usaha dan memenuhi kebutuhan produksi,” katanya.

Dukungan yang diterima Asra tidak berhenti pada pembiayaan. Ia juga mengikuti pendampingan berupa pelatihan mengenai benang kasab yang diselenggarakan di Kuala Baru. Pelatihan tersebut turut menambah pengetahuan dan keterampilannya dalam menjalankan usaha kerajinan.

Sejalan dengan meningkatnya kapasitas produksi, manfaat usaha tersebut mulai dirasakan masyarakat di sekitarnya. Asra mampu membuka kesempatan kerja sehingga warga lain dapat memperoleh tambahan penghasilan dari produksi sulam manik-manik kasab.

Dengan demikian, usaha yang awalnya dirintis untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga berkembang memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Aktivitas produksi tersebut pada saat bersamaan turut menjaga keterampilan menyulam tetap hidup di tengah masyarakat Kuala Baru.

Holding Ultra Mikro Dorong Pembiayaan dan PemberdayaanPerjalanan usaha Asra menjadi salah satu gambaran bagaimana akses pembiayaan yang disertai pemberdayaan dapat mendukung pelaku usaha ultra mikro.

Upaya tersebut sejalan dengan ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi), yang mengintegrasikan BRI sebagai induk holding bersama Pegadaian dan PNM.

Sejak dibentuk pada 2021, Holding UMi dirancang untuk memperluas sekaligus memperdalam akses layanan keuangan bagi masyarakat, khususnya segmen ultra mikro. Ekosistemnya mencakup pembiayaan, simpanan, transaksi, hingga pemberdayaan dan pendampingan usaha.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, pemberdayaan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem usaha ultra mikro yang berkelanjutan.

“Melalui Holding Ultra Mikro, kami ingin memastikan bahwa akses keuangan menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas. Pelaku usaha seperti Ibu Asra menunjukkan bahwa ketika akses pembiayaan dipadukan dengan pendampingan dan semangat untuk terus berkembang, usaha ultra mikro dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui pemilik usahanya sendiri,” ujar Dhanny.

Bagi Asra, dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanannya mempertahankan sulam kasab selama lebih dari 30 tahun.

Di tengah modernisasi, kerajinan yang terus diproduksinya tak hanya memberikan sumber penghidupan bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Usaha tersebut sekaligus menjadi jalan untuk menjaga keterampilan tradisional Aceh agar tetap hidup dan dapat dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Rekomendasi