7 Gangguan Makan Eating Disorder, Kenali Gejala Psikis & Fisik yang Patut Diwaspadai

Perilaku yang terkait dengan gangguan makan termasuk membatasi atau menghindari makanan tertentu, makan berlebihan, sengaja memuntahkan makanan, penyalahgunaan pencahar atau olahraga kompulsif. Beragam tanda ini didorong dengan cara yang tampak mirip kecanduan.

Kurnia Azizah
Oleh Kurnia Azizah - Reporter
7 Gangguan Makan Eating Disorder, Kenali Gejala Psikis & Fisik yang Patut Diwaspadai
Ilustrasi makan berlebihan. ©Shutterstock/jayfish

Gangguan makan adalah kondisi perilaku yang melibatkan gangguan parah dan terus-menerus dalam perilaku makan serta pikiran, bahkan menyusahkan emosi.

Tak sedikit pengidap gangguan makan dengan kondisi serius terpengaruhi fungsi fisik, psikologis dan sosialnya. Meski paling sering dialami oleh wanita berusia antara 12 dan 35 tahun. Tapi tak jarang dialami oleh para pria.

Banyak orang dengan gangguan makan eating disorder tak menyadari bahwa mereka memiliki masalah. Atau mereka mungkin berusaha keras untuk menyembunyikan tanda-tanda gangguan tersebut.

Perilaku yang terkait dengan gangguan makan termasuk membatasi atau menghindari makanan tertentu, makan berlebihan, sengaja memuntahkan makanan, penyalahgunaan pencahar atau olahraga kompulsif. Beragam tanda ini didorong dengan cara yang tampak mirip kecanduan.

Melalui perawatan medis yang tepat pengidap eating disorder dapat melanjutkan kebiasaan makan yang sehat, serta memulihkan emosional dan psikologisnya.

Berikut ini beberapa gangguan makan eating disorder, beserta gejala yang menyertainya, seperti dihimpun dari laman resmi Eating Disorders dan Psychiatry, Senin (23/8).

Anoreksia Nervosa

Anoreksia nervosa adalah penyakit psikologis yang begitu memengaruhi kondisi fisik seseorang. Perilaku diet pada anoreksia nervosa didorong oleh rasa takut yang berlebihan terhadap kenaikan berat badan atau menjadi gemuk.

Anoreksia nervosa biasanya berkembang selama masa remaja. Namun, seperti semua gangguan makan, anoreksia dapat berkembang pada usia atau tahap kehidupan baik bagi pria dan wanita. Ada dua tipe anoreksia nervosa, yakni:

1. Tipe Pembatasan

Menurunkan berat badan dengan berdiet, berpuasa atau berolahraga berlebihan. Contoh lain, mempertahankan jumlah kalori yang sangat rendah, membatasi jenis makanan yang dimakan, dan hanya makan satu kali sehari.

2. Tipe Binge-eating/Purging Intermiten

Jenis anoreksia nervosa ini terbentuk saat seseorang membatasi asupannya seperti di atas. Tapi dalam kurun waktu tertentu akan makan berlebihan. Atau membersihkan dengan sengaja memuntahkan, olahraga berlebihan, dan penyalahgunaan pencahar.

Gejala Anoreksia Nervosa yang Patut Diwaspadai

- Periode menstruasi berhenti
- Pusing atau pingsan karena dehidrasi
- Rambut atau kuku rapuh
- Mulas dan refluks, pada mereka yang memuntahkan makanan
- Sembelit parah
- Kembung dan kenyang setelah makan
- Fraktur stres akibat latihan,
- Pengeroposan tulang yang mengakibatkan osteopenia atau osteoporosis
- Depresi, lekas marah, kecemasan, konsentrasi yang buruk dan kelelahan
- Sensitif terhadap komentar atau kritik tentang bentuk tubuh, berat badan, penampilan, kebiasaan makan atau olahraga
- Pikiran atau perilaku bunuh diri atau menyakiti diri sendiri
- Penarikan sosial yang melibatkan makanan

Bulimia Nervosa

Bulimia nervosa adalah eating disorder yang termasuk penyakit kejiwaan serius yang ditandai dengan episode makan berlebihan berulang.

Mereka akan mengonsumsi makanan dalam jumlah besar yang tidak normal dalam waktu singkat.

Bulimia nervosa sering dimulai dengan diet penurunan berat badan. Kekurangan makanan dan nutrisi yang tidak memadai akan memicu reaksi kelaparan.
Begitu orang tersebut menyerah pada lapar berlebihan, keinginan untuk makan pun tak terkendali.

Selain itu, ada cara mereka dengan melakukan diet alternatif, atau hanya makan makanan rendah kalori. Tapi secara berlebihan.

Gejala Bulimia Nervosa yang Patut Diwaspadai

- Perubahan suasana hati, perubahan kepribadian, ledakan emosi atau depresi

- Kesulitan dengan aktivitas yang melibatkan makanan

- Pembengkakan kelenjar ludah di pipi

- Kerusakan gigi akibat erosi email gigi oleh asam lambung

- Mulas dan refluks

- Penyalahgunaan pil diet

- Diare berulang yang tidak dapat dijelaskan

- Merasa pusing atau pingsan karena perilaku diet tak seimbang

- Sering ke kamar mandi, terutama setelah makan

Tanda-Tanda Fisik Efek Bulimia Nervosa

- Otak: harga diri rendah, kecemasan, depresi

- Mulut: erosi email gigi, rahang bengkak, bau mulut, penyakit gusi, kerusakan gigi

- Tenggorokan: sakit tenggorokan kronis, gangguan pencernaan, mulas, refluks, meradang atau pecahnya kerongkongan

- Jantung: detak jantung tidak teratur atau lambat, henti jantung, gagal jantung, tekanan darah rendah, pingsan, pusing

- Perut dan usus: nyeri perut masalah usus, sembelit, diare, kram

- Hormon: menstruasi tidak teratur atau tidak ada, kehilangan libido, infertilitas

- Kulit: kapalan pada jari, kulit kering

- Otot: kelelahan, kram yang disebabkan oleh ketidakseimbangan elektrolit, kelelahan, kelesuan

Binge Eating Disorder

Gangguan makan eating disorder selanjutnya hampir sama dengan bulimia nervosa. Orang dengan gangguan makan berlebihan atau binge eating disorder ini mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

Kemudian mengalami rasa kehilangan kendali dengan perilaku pesta. Perbedaan dengan bulimia nervosa, mereka tak secara teratur menggunakan perilaku kompensasi untuk menghilangkan makanan dengan memaksa muntah, puasa dan olahraga berlebihan atau penyalahgunaan pencahar.

Makan berlebihan ini bersifat kronis dan dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang serius, termasuk obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Tanda-Tanda Binge Eating Disorder

- Kurangnya kontrol yang luar biasa dengan perilaku makan.
- Makan lebih cepat dari biasanya
- Pola makan yang kacau dan tidak terduga
- Periode makan yang tidak terkendali, impulsif atau terus-menerus, sering kali sampai merasa tidak nyaman dengan kekenyangan
- Makan makanan apa pun yang tersedia secara kompulsif
- Makan saat tidak lapar secara fisik
- Kekhawatiran tentang penambahan berat badan setelah periode pesta makan
- Episode pesta makan yang berulang, yang sering mengakibatkan perasaan malu atau bersalah
- Harga diri rendah dan rasa malu atas penampilan fisik
- Merasa sangat tertekan, kesal serta cemas, baik selama dan setelah episode pesta makan
- Terlalu sensitif terhadap referensi tentang berat badan atau penampilan

Eating Disorder: ARFID

Gangguan makan dengan menghindari atau membatasi. Didefinisikan oleh DSM-5 sebagai eating disorder ditandai dengan pola makan yang terus-menerus yang mengarah pada kegagalan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi. Diagnosis yang diakitkan:

1. Penurunan berat badan yang signifikan atau kegagalan untuk mencapai penambahan berat badan.

2. Kekurangan gizi yang signifikan

3. Ketergantungan pada pemberian makanan melalui selang. Cara untuk memasok nutrisi langsung ke saluran pencernaan atau suplemen nutrisi oral.

4. Gangguan nyata pada fungsi psikososial individu.

Penghindaran dan pembatasan makanan yang mendefinisikan ARFID, menyebabkan konsekuensi medis atau kesehatan mental. ARFID bersifat persisten, dan memiliki konsekuensi kesehatan fisik serta mental yang signifikan.

Gangguan Makan dan Makan Tertentu Lainnya

Dalam beberapa kasus, 'gangguan makan dan makan tertentu lainnya' ini karena frekuensi dosis perilaku tidak memenuhi ambang diagnostik. Misalnya, frekuensi makan berlebihan pada bulimia atau gangguan makan berlebihan, atau kriteria berat untuk anoreksia nervosa tidak terpenuhi.

Contoh gangguan makan ini adalah "anorexia nervosa atipikal". Kategori ini mencakup individu yang mungkin telah kehilangan banyak berat badan. Lalu perilaku dan tingkat ketakutannya terhadap kegemukan.

Karena kecepatan penurunan berat badan terkait komplikasi medis, individu yang kehilangan banyak berat badan dengan cepat ini berisiko tinggi mengalami komplikasi medis.

Eating Disorder: Pica

Gangguan makan eating disorder berikutnya ialah pica. Di mana seseorang berulang kali makan hal-hal yang tanpa nilai gizi. Zat khas yang tertelan bervariasi menurut usia dan ketersediaan, ini mungkin termasuk:

  • kertas,
  • serpihan cat,
  • sabun,
  • kain,
  • rambut,
  • tali,
  • kapur,
  • logam,
  • kerikil,
  • arang atau batu bara,
  • tanah liat

Hal ini tidak didiagnosis pada anak di bawah usia 2 tahun, yang normal dari perkembangannya. Pica sering terjadi bersamaan dengan gangguan spektrum autisme dan cacat intelektual.

Seseorang yang didiagnosis dengan pica berisiko mengalami penyumbatan usus potensial atau efek toksik dari zat yang dikonsumsi.

Gangguan Ruminasi

Rumination disorder atau gangguan ruminasi melibatkan cara mengunyah kembali makanan setelah dimakan. Makanan yang tertelan dibawa kembali ke dalam mulut secara sengaja dan dikunyah kembali, lalu ditelan atau diludahkan.

Gangguan makan ini dapat terjadi pada masa bayi, masa kanak-kanak dan remaja atau pada masa dewasa.

Gejala Gangguan Ruminasi

- Terjadi berulang kali selama setidaknya periode satu bulan
- Bukan karena masalah gastrointestinal atau medis
- Tidak terjadi sebagai bagian dari salah satu gangguan perilaku makan seperti disebutkan sebelumnya.
- Gangguan ruminasi dapat terjadi pada gangguan mental lain, misalnya cacat intelektual.

Rekomendasi