Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam budaya. Di berbagai belahan nusantara, tak jarang ditemui banyak keunikan yang telah mendarah daging di lingkungan masyarakat tertentu.
Seperti tradisi yang dimiliki masyarakat Desa Karang Wingko, Purutrejo, Purworejo, Pasuruan, Jawa Timur ini. Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, ada kerumunan warga yang siap untuk memberikan jasa mengecat makam.
Ada alasan tersendiri bagi warga untuk melakukan tradisi tahunan itu. Seperti apa ceritanya? Simak ulasan selengkapnya berikut ini, dilansir dari kanal YouTube Wartabromo TV, Kamis (5/8/2021).
Advertisement
Tradisi Unik Desa Karang Wingko
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, area pemakaman menjadi salah satu lokasi yang cukup ramai menjelang hari raya Idul Fitri. Berziarah menjadi tradisi yang hingga kini masih dilakukan masyarakat di Tanah Air.
Di balik tradisi besar itu, masih ada tradisi unik lainnya yang jarang diketahui. Mujianto (40) merupakan salah satu warga Kota Pasuruan yang masih melestarikan tradisi cat makam sejak usia 7 tahun.
"Sejak dari umur 7 tahun sampai sekarang sudah umur 40 tahun," terangnya.
"Sudah tradisi Kampung Karang Wingko sini," ujarnya.
Advertisement
Makam Diibaratkan Rumah
Ada alasan tersendiri bagi warga Desa Karang Wingko untuk terus melestarikan tradisi. Makam justru diibaratkan sebagai rumah yang tetap membutuhkan perbaikan. Mempercantik makam dengan mengecat nisan dengan warna-warni merupakan salah satunya.
"Kalau itu waktunya biasanya memang pas musim mau lebaran, Hari Raya. Ya diibaratkan rumah, dicat baru lagi, ya seperti itu. Makam juga seperti itu, sama saja seperti rumah sendiri," katanya.
Kendati telah menjadi tradisi, tak sembarang makam bisa dicat. Melainkan hanya sebagian makam yang diberi izin oleh keluarga bersangkutan.
"Diminta tolong sama yang punya makam, kalau gak ya gak berani (cat)" tambah Mujianto.
Advertisement
Tak Ada Tarif Pasti
Tak ada tarif yang berlaku pasti saat sejumlah warga memutuskan untuk memperbarui makam. Mujianto mengungkapkan, ia mengaku ikhlas dengan tarif yang diberikan oleh keluarga pemilik makam.
Ia sama sekali tak menolak dengan beragam tarif yang diberikan. Mujianto pun masih sering berbagi tarif dengan sejumlah anak-anak di sekitar lokasi yang membantunya untuk mengecat makam.
"Tidak ada tarif. Itu keikhlasan yang punya makam atau yang menyuruh membersihkan makam, ya istilahnya sukarela. Meski diberi berapa pun juga gak menolak, seikhlasnya," katanya.