10 Gejala Depresi pada Fisik dan Psikis, Patut Diketahui Sebagai Pencegahan

Lebih dari sekadar serangan sedih, depresi tetap membutuhkan perawatan jangka panjang. Tanda tekanan psikologis ini akan mulai nampak pada kesehatan mental, efek emosional dan gejala fisik tertentu. Mengenali setiap gejala depresi akan membantu seseorang untuk mencegah.

Kurnia Azizah
Oleh Kurnia Azizah - Reporter
10 Gejala Depresi pada Fisik dan Psikis, Patut Diketahui Sebagai Pencegahan
Ilustrasi depresi saat hamil. ©shutterstock.com/Zametalov

Gejala depresi bisa dialami oleh siapa pun dengan berbagai keluhan yang hampir sama. Stres yang tak kunjung ditangani, bisa menyebabkan depresi. Kondisi gangguan suasana hati (mood) yang memengaruhi perasaan, pemikiran, dan perilaku.

Berdasar Data Riset Kesehatan yang dipublikasikan Kemenkes 2018, menunjukkan jumlah penderita depresi di Indonesia terus meningkat, sekitar lebih dari 11 juta. Depresi akan menyebabkan berbagai masalah emosional dan fisik. Hingga penderita kesulitan melakukan aktivitas normal sehari-hari.

Lebih dari sekadar serangan sedih, depresi tetap membutuhkan perawatan jangka panjang. Tanda tekanan psikologis ini akan mulai nampak pada kesehatan mental, efek emosional dan gejala fisik tertentu.

Mengenali setiap gejala depresi akan membantu seseorang untuk mencegah. Serta memulai langkah tertentu untuk menenangkan diri, supaya tetap bisa beraktivitas normal tanpa tekanan.

Berikut beberapa gejala depresi pada fisik dan psikis yang kemungkinan mengganggu, patut diketahui.

Gejala depresi pada fisik yang pertama ialah kelelahan. Penderita akan merasakan tingkat energi yang kian merendah secara konsisten. Contohnya merasa lesu usai bangun pagi hari, berharap untuk tetap di tempat tidur dan menonton TV daripada bekerja.

Melansir dari Healthline, tidak seperti kelelahan sehari-hari. Kelelahan yang berhubungan dengan depresi juga dapat menyebabkan masalah konsentrasi, perasaan mudah tersinggung, dan apatis.

Gejala depresi dengan kelelahan disertai kesedihan, perasaan putus asa, dan anhedonia atau kurangnya kebahagiaan dalam aktivitas sehari-hari.

2. Masalah Seksual

Gejala depresi selanjutnya bisa dirasakan pada masalah seksual, seperti disfungsi ereksi (DE) atau ketidakmampuan untuk orgasme. Mengapa demikian? Sebab otak sebagai organ seks yang sangat sensitif. Hasrat seksual dimulai di otak dan turun ke bawah.

Dilansir dari WebMD, karena bahan kimia otak khusus yang disebut neurotransmitter. Bahan kimia ini meningkatkan komunikasi antar sel otak dan memicu lebih banyak aliran darah ke organ seks.

Masalahnya, saat depresi dan gangguan mood lain, sirkuit otak yang berkomunikasi menggunakan neurotransmitter tidak berfungsi dengan baik. Banyak pria dan wanita dengan depresi mengatakan memiliki hasrat seksual rendah atau tidak ada sama sekali.

3. Pandangan Tanpa Harapan

Memiliki pandangan hidup tanpa harapan atau ketidakberdayaan adalah gejala depresi yang paling umum. Perasaan lain seperti tidak berharga, membenci diri sendiri, atau rasa bersalah yang tidak pantas.

Dikutip dari artikel Healthline yang lain, penderita depresi secara tidak sadar akan mengulang kalimat dalam benaknya, seperti "Ini semua salahku," atau "Apa gunanya?" dan sebagainya.

Anda mungkin merasa baik-baik saja di pagi hari, tapi begitu sampai di tempat kerja atau duduk di meja sekolah, punggung mulai sakit. Bisa jadi stres, atau bisa jadi depresi. Meskipun sering dikaitkan dengan postur tubuh yang buruk atau cedera, sakit punggung juga bisa menjadi gejala tekanan psikologis.

Sebuah studi tahun 2017 yang dirilis oleh The National Center for Biotechnology Information (NCBI), menemukan ada hubungan langsung antara depresi dan sakit punggung. Psikolog dan psikiater telah lama percaya bahwa masalah emosional dapat menyebabkan sakit dan nyeri kronis.

Studi yang lebih baru menunjukkan bahwa peradangan di tubuh mungkin ada hubungannya dengan sirkuit saraf di otak. Diperkirakan bahwa peradangan bisa mengganggu sinyal otak, tergantung dari gejala depresi dan penanganannya.

5. Sakit Kepala

Rasa sakit kepala acap kali tak dianggap serius oleh sebagian orang. Tidak seperti sakit kepala migrain yang menyiksa, sakit kepala terkait depresi tidak serta merta mengganggu fungsi seseorang.

Dijelaskan oleh National Headache Foundation, jenis sakit kepala ini mungkin terasa seperti sensasi berdenyut ringan, terutama di sekitar alis. Bila minum obat sakit kepala atau pereda nyeri, mungkin akan ringan sesaat. Kemudian muncul kembali secara teratur.

Selain sakit kepala, orang dengan depresi sering kali mengalami gejala tambahan seperti kesedihan, perasaan mudah marah, dan penurunan energi.

Gejala depresi yang dikeluhkan oleh sebagian penderita, bisa dengan rasa cemas berlebih, atau kegelisahan berkepanjangan. Gejala kecemasan bisa meliputi:

  • Gugup, gelisah, atau merasa tegang.
  • Perasaan bahaya, panik, atau takut.
  • Detak jantung cepat.
  • Pernapasan cepat.
  • Keringat berlebih.
  • Gemetar atau otot berkedut.
  • Kesulitan fokus atau berpikir jernih tentang apa pun selain hal yang Anda khawatirkan.

7. Perubahan Nafsu Makan dan Berat Badan

Berat badan dan nafsu makan dapat berfluktuasi pada penderita depresi. Kondisi ini mungkin berbeda untuk setiap orang, ada yang mengalami peningkatan nafsu makan dan berat badan, sementara yang lain tidak akan lapar dan menurunkan beratnya.

Salah satu indikasi apakah perubahan pola makan terkait dengan depresi adalah apakah itu disengaja atau tidak.

8. Iritabilitas pada Pria

Gejala depresi pada pria ada yang berbeda. Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Mayoclinic, menunjukkan bahwa pria dengan depresi mungkin memiliki gejala seperti mudah tersinggung, pelarian atau perilaku berisiko, penyalahgunaan zat, hingga kemarahan salah tempat.

Pria juga lebih kecil kemungkinannya dibandingkan wanita, untuk mengenali depresi atau mencari pengobatan sendiri.

Sebuah penelitian tahun 2010 di Jerman, dirilis oleh Health.harvard, menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental atau depresi sebenarnya mampu memengaruhi penglihatan seseorang.

Dikenal oleh para peneliti sebagai "persepsi kontras", ini mungkin menjelaskan mengapa depresi dapat membuat dunia terlihat kabur.

10. Sakit Perut

Nyeri yang semakin parah, terutama saat stres muncul, bisa jadi merupakan gejala depresi. Faktanya, peneliti Harvard Medical School menunjukkan bahwa ketidaknyamanan perut seperti kram, kembung, dan mual mungkin merupakan tanda kesehatan mental yang buruk.

Menurut para peneliti Harvard tersebut, depresi bisa menyebabkan sistem pencernaan meradang. Rasa sakit yang mudah disalahartikan sebagai penyakit radang usus atau sindrom iritasi usus besar.

Itulah beberapa geajala depresi, baik dari fisik hingga psikis yang bisa menimpa siapa saja. Sebaiknya kenali sejak dini dan ditangani sesuai pribadi masing-masing. Salam sehat dan semoga bermanfaat.

Rekomendasi