Perwira TNI Amuk Kepala Desa, Emosi Lihat Bendera Merah Putih Rusak Tak Diganti

Seorang perwira TNI marah dan tegur Kepala Desa akibat kondisi bendera merah putih.

Tantiya Nimas Nuraini
Oleh Tantiya Nimas Nuraini - Reporter
Perwira TNI Amuk Kepala Desa, Emosi Lihat Bendera Merah Putih Rusak Tak Diganti
Perwira TNI Amuk Kepala Desa. Instagram @patriotnusantara_ ©2020 Merdeka.com

Beredar sebuah video seorang anggota TNI marah dan menegur Kepala Desa. Bukan tanpa alasan, sebab sang Kepala Desa tersebut tampak tidak peduli dengan kondisi bendera merah putih di kantornya.

Bagaimana tidak, bendera Indonesia itu terlihat lusuh hingga robek tak berbentuk. Video berdurasi 3 menit 32 detik ini sontak viral di media sosial.

Melansir dari akun Instagram patriotnusantara_, Selasa (7/7/2020), simak informasinya berikut ini.

Beredar sebuah video yang memperlihatkan seorang TNI yang marah dan menegur Kepala Desa. Hal ini lantaran, sang Kepala Desa tidak peduli dengan kondisi bendera merah putih yang terpasang di tiang kantornya. Tampak bendera Tanah Air itu begitu lusuh hingga ada sobekan tak terbentuk.

"Kenapa begini bendera Indonesia ini. Sudah ratusan juta dana Desa, Rp100 ribu tak bisa dibeli," kata personel TNI sembari menurunkan bendera merah putih.

"Allahu akbar hancur ini, hancur ini. Enggak ada kepeduliannya ini," sambungnya tak percaya.

Personel TNI yang diduga merupakan Danramil ini menyebutkan Kepala Desa telah menerima dana Desa. Tidak tanggung-tanggung, Kepala Desa telah menerima dana Desa sekitar Rp1 miliar.

"Dana Desa ada Rp1 miliar ini," ujarnya.

Bukan hanya bendera, personel TNI ini juga merasa tiang bendera di kantor Kepala Desa sudah tidak layak di pakai. Terlebih tali pengikat bendera terbuat dari karet ban.

"Kenapa begini nih? Nyata ini nyata. ini (tiang bendera) juga Ya Rob Ya Tuhan. (harga) tiang paling Rp100 ribu atau Rp200 ribu. Bukan saya provokator, saya ini TNI ini," ujar Danramil masih tak habis pikir.

Masih tak menyangka sama sekali. Dana Desa yang dianggarkan hingga Rp1 miliar tidak digunakan untuk memperbaiki tiang serta bendera merah putih. Saking kesalnya, personel TNI ini berniat membelikan tiang serta bendera bila Kepala Desa tak mampu.

"Paling harganya (tiang) Rp200 ribu, ini (bendera) paling Rp100 ribu. Cuma Rp300 ribu. Kalau tidak mampu, saya yang belikan," sembari merogoh sakunya untuk mengeluarkan dompet."Kalau tidak mampu bilang, saya belikan. Saya belikan," bentak Danramil.

Danramil lebih lanjut memaparkan sikap Kepala Desa terkait dana desa. Dikatakan bila dana desa terlambat sedikit saja, pihak mereka sudah berteriak. Namun, saat sudah cair mereka tidak peduli dengan kondisi bendera merah putih. Padahal, gara-gara bendera itu mereka bisa bekerja.

"Lambat sedikit dana desa berteriak, sudah cair tetapi tidak peduli dengan ini (bendera). Kau bisa bekerja gara-gara ini (bendera) sudah merdeka di atas, sudah bisa berkibar ini," marahnya.

Danramil kemudian memanggil Kepala Desa yang bertanggung jawab. Setelah bertemu, personel TNI ini menanyakan apakah pria tersebut masih mampu jadi Kepala Desa. Danramil juga mengingatkan jika sang Kepala Desa dulunya dipilih oleh rakyat.

"Pak Kades sini kau, mampu enggak jadi Kepala Desa? Mampu tidak? Kalau tidak mampu bilang, Anda dipilih oleh rakyat. Sekarang nyatanya begini (kondisi bendera) mau nangis saya," ujarnya.

Personel TNI ini menyatakan ini merupakan peringatan pertama dan terakhir. Bila tidak mampu membeli, Danramil rela memberikan uangnya untuk memenuhi kebutuhan pembelian tiang dan bendera. Danramil juga mengingatkan perjuangan para pahlawan nasional dalam mengibarkan bendera merah putih untuk kebebasan bangsa.

"Jangan terulang lagi. Pertama dan terakhir ini, saya lihat ini. Pertama dan terakhir ini, saya mau nangis ini. Korban (pahlawan nasional) banyak gara-gara ini (bendera)," tutupnya.

Rekomendasi