Potret Lawas Ki Hadjar Dewantara Dijenguk Bung Karno saat Sakit, Beri Pesan Terakhir

Jumat, 14 Januari 2022 07:42 Reporter : Kurnia Azizah
Potret Lawas Ki Hadjar Dewantara Dijenguk Bung Karno saat Sakit, Beri Pesan Terakhir Potret Lawas Ki Hadjar Dewantara Dijenguk Bung Karno. Instagram @reuninostalgia ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Sosok pahlawan nasional, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara merupakan salah satu mentor bagi Presiden RI pertama, Soekarno.

Sebelum meninggal, pahlawan Nasional bidang Pendidikan ini sempat jatuh sakit. Kala itu Bung Karno menjenguk sang guru, dan rupanya terdapat pesan terakhir sebelum berpulang ke Pangkuan Ilahi.

Kisah haru kepergiannya cukup menyayat hati. Konsep pendidikan, hingga semboyan ciptaannya 'tut wuri handayani' masih tersemat indah sampai saat ini. Bahkan diabadikan sebagai slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.

Simak selengkapnya berikut ini, seperti dihimpun dari berbagai sumber, Jumat (14/1).

2 dari 5 halaman

Profil Singkat Ki Hadjar Dewantara

ilustrasi ki hajar dewantara
ilustrasi ki Hajar Dewantara, liputan6.com

Ki Hadjar Dewantara terlahir dari keluarga Kadipaten Paku Alam Yogyakarta, dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Dia merupakan putra dari GPH Soerjaningrat, serta cucu dari Pakualam III.

Ki Hadjar Dewantara terkenal sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan, kolumnis, politisi, serta pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di masa penjajahan Belanda.

Sebagai bentuk penghormatan, tanggal kelahiran beliau diperingati di Indonesia menjadi Hari Pendidikan Nasional. Semboyan ciptaannya menjadi slogan bagi Kemdikbudristek. Kemudian namanya diabadikan di sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara.

"Ki Hadjar Dewantoro sendiri adalah seorang Pangeran dari Kadipaten Paku Alam Yogyakarta, dengan nama Suwardi Suryoningrat, kakak kandungnya adalah Surjopranoto yang amat dikenal aktif dalam gerakan buruh, dan kerap memimpin pemogokan di masa masa pergerakan Indonesia 1920-1935," tulis dalam keterangan foto akun Instagram @reuninostalgia.

Ki Hadjar Dewantara dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden Soekarno pada 28 November 1959. Hal itu tertuang dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959. [kur]

Baca juga:
Potret Lawas Ki Hadjar Dewantara Bareng Keluarga, Diambil di Tanah Minang
Kisah Romantis Percintaan Para Pahlawan Indonesia Tak Terhalang Medan Perang

3 dari 5 halaman

Sepak Terjang di Dunia Pendidikan

Ki Hadjar menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Hebatnya lagi, ia melanjutkan studi di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputera, tapi tidak sampai tamat.

Sebagai bentuk pengabdian bagi RI, beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa, lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi supaya bisa memperoleh hak sekolah, layaknya para priyayi maupun orang-orang Belanda di masa itu.

"Ki Hadjar mendirikan Sekolah Taman Siswa, yang oleh Bung Karno dijadikan rujukan Sekolah Berkepribadian Nasional," sambungnya dalam caption.

Sejumlah tokoh kenamaan lulusan Taman Siswa di antaranya Benyamin S, Ateng, Sutradara besar Sjumandjaja, Rano Karno, SM Ardan dan masih banyak lagi.

"Para lulusan Taman Siswa dididik rasa cinta tanah airnya kepada bangsa dan negara. Dikenalkan kepribadian bangsa, dan bagaimana cara mencintai Indonesia dengan tulus, hasilnya banyak dari mereka yang mampu berkarya besar dan memberikan warna khas Indonesia," imbuhnya.

Baca juga:
Potret Lawas Ki Hadjar Dewantara Bareng Keluarga, Diambil di Tanah Minang
Kisah Romantis Percintaan Para Pahlawan Indonesia Tak Terhalang Medan Perang

4 dari 5 halaman

Sahabat Aktivis

ki hajar dewantaraKi Hajar Dewantara 2.bp.blogspot.com

Ki Hadjar Dewantara memiliki sahabat di bidang pendidikan, yakni Tjipto Mangoenkoesoemo dan Setiabudi Douwes Dekker. Bahkan mereka sempat mendirikan surat kabar bernama De Expres yang pertama kali rilis di Bandung, 1 Maret 1912.

Ketiga tokoh hebat ini kerap disebut sebagai Tiga Serangkai. Isi surat kabarnya begitu komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial. Mengusung ide-ide tentang nasionalisme dan masalah politik di Hindia Belanda.

Selain itu, konsep pendidikan yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara masih terjaga hingga saat ini. Kerap digaungkan dalam segala kegiatan pendidikan dan bentuk kerja sama.

"Ki Hadjar Dewantoro juga mengenalkan konsep pendidikan "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa , Tut Wuri Handayani ". Yang artinya : Di depan memberikan teladan, di tengah-tengah memberikan semangat dan gagasan, di belakang mendorong," paparnya.

5 dari 5 halaman

Pesan Terakhir Sang Pelopor Pendidikan

potret lawas ki hadjar dewantara dijenguk bung karnoInstagram @reuninostalgia ©2022 Merdeka.com

Di tahun 1959, Ki Hadjar Dewantara sakit keras dan Bung Karno menjenguknya sekira di bulan April. Dalam sebuah foto, dia terus menerus melihat wajah Bung Karno.

"Pelan pelan air mata meleleh dari dua matanya. Dan memegang tangan Bung Karno," terangnya.

Sebuah pesan yang teramat dalam dari Ki Hadjar Dewantara untuk menitipkan Indonesia, melalui dunia pendidikan.

"Seolah olah ia menitipkan Indonesia pada Bung Karno, sebuah bangsa yang larut dalam gelombang sejarahnya, dimana pendidikan yang selalu jadi pusat perhatiannya : 'Mencerdaskan Kehidupan Bangsa'," pungkasnya.

Baca juga:
Potret Lawas Ki Hadjar Dewantara Bareng Keluarga, Diambil di Tanah Minang
Kisah Romantis Percintaan Para Pahlawan Indonesia Tak Terhalang Medan Perang

Baca juga:
Potret Lawas Ki Hadjar Dewantara Bareng Keluarga, Diambil di Tanah Minang
Kisah Romantis Percintaan Para Pahlawan Indonesia Tak Terhalang Medan Perang

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini