Ngeri, Pengakuan Uya Kuya Bongkar Ulah Dokter Senior Doyan Clubbing & Aniaya Junior saat Lapor ke Menkes
Uya Kuya, anggota Komisi XI Fraksi PAN mengadukan tindakan bullying yang dilakukan dokter senior terhadap juniornya.
Anggota Komisi IX DPR melakukan rapat kerja bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Selasa (29/4). Rapat membahas berbagai isu, salah satunya soal dokter bermasalah.
Uya Kuya, anggota Komisi XI fraksi PAN mengadukan tindakan bullying yang dilakukan dokter senior terhadap juniornya. Bahkan, dokter senior tersebut menendang testis juniornya.
Tak hanya itu saja, ada dokter yang memeras juniornya dengan meminta uang Rp500 juta dan minta dibayarkan clubbing.
Seperti apa pengakuan tak terduga dari Uya Kuya? Berikut ulasan selengkapnya, dilansir dari kanal YouTube MerdekaDotCom, Rabu (30/1).
Uya Kuya Singgung Masalah Dokter PPDS Unsri
Anggota Komisi XI Fraksi PAN, Uya Kuya saat mengikuti raker Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin angkat bicara mengenai permasalahan seputar mahasiswa peserta program pendidikan dokter spesialis alias PPDS.
Seperti yang belum lama ini terjadi, seorang peserta PPDS Universitas Sriwijaya diduga menjadi korban perundungan dari dokter senior di RSMH Palembang.
Dalam keterangannya, Uya Kuya membeberkan catatan sanksi yang rupanya pernah diterima terduga pelaku YS di tahun-tahun sebelumnya. Terungkap, pelaku pernah menerima dua kali sanksi disiplin lantaran bermasalah.
“Beberapa hari yang lalu juga kita dengar lagi di Unsri bahwa terjadi lagi kasus sampai ada dokter senior yang menendang testis dari salah satu dokter PPDS anastesi prodinya kalau enggak salah. Dan ini yang dilakukan oleh inisial YS yang ternyata YS ini bukan sekali ini saja melakukan tapi di tahun 2019 pernah ada laporan juga kalau dia diberi sanksi tidak mengajar sampai 5 tahun karena melakukan bullying lainnya. Dan di tahun 2003 juga sempat dia mendapatkan sanksi disiplin karena melakukan aksi-aksi lainnya,” terangnya.
Bongkar Ulah Dokter Senior Bermasalah
Berangkat dari isu tersebut, Uya Kuya lantas mulai membeberkan aduan sejumlah kasus serupa di lokasi berbeda. Dengan lantang, Uya mengungkap jika seorang mahasiswa PPDS di Bandung, Jawa Barat mendatanginya beberapa waktu lalu dan mengaku telah mendapat tindakan kekerasan dari dokter senior yang menjadi seharusnya bertindak sebagai konsulennya sendiri.
Mirisnya, Uya menggambarkan keterangan dari korban jika tindakan yang diterima begitu kejam. Sang dokter senior diungkapnya seringkali tak segan melayangkan pukulan hingga gemar mendatangi hiburan malam.
“Pertama, ada mantan dokter PPDS di Bandung yang sampai keluar dari dokter spesialis ortopedi karena mengalami perundungan fisik. Dia setiap malam sampai harus berdiri satu kaki tiga jam, push up, jalan jongkok, merangkak, terus mengangkat kursi lipat selama satu jam, diminta bayar servis mobil senior, diminta bayar clubbing. Biaya yang dikeluarkan korban ini sampai Rp500 juta untuk tiga semester,” kata Uya.
Usai korban melapor, Uya menyebut hingga kini belum ada tanda-tanda pengusutan yang jelas terhadap kasus tersebut.
“Saat izin untuk pulang istrinya melahirkan, sampai di rumah sakit dihukum satu bulan tidak boleh kemana-mana, didorong di toilet, ditampar, dipukul. Setelah speak up, sampai sekarang belum ada tindakan sama sekali,” terangnya.
Oleh karena itu, Uya dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya pembentukan tim Satgas Anti-bullying yang terdiri dari Polri, TNI, hingga KPK untuk mengusut tuntas perkara kekerasan di lingkungan mahasiswa PPDS di tanah air.
“Jadi menurut saya perlu adanya bentukan tim satgas anti-bullying ini untuk kita sikapi bersama dan menurut saya perkara-perkara PPDS yang berhubungan dengan kekerasan yang datanya sudah ada di Kemenkes menurut saya harus dibuka, pak. (Bisa) diserahkan ke kepolisian biar ada efek jera,” tegasnya.