Melihat Pasar Tradisional Bergaya Eropa di Trenggalek, tapi Kok Sepi?
Merdeka.com - Pasar tradisional memang sudah sejak lama menjadi salah satu tempat perputaran ekonomi masyarakat. Berbagai barang hingga jasa sering ditemukan di pasar tradisional.
Seperti yang ada di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Trenggalek mempunyai pasar tradisional dengan arsitektur bangunan bergaya eropa.
Selayaknya bangunan klasik di Inggris, pasar ini mempunyai sisi eksotis sebagai sebuah bangunan publik. Namun para pedagang justru malah mengeluh karena pasca direnovasi, pendapatan mereka menurun karena pengunjung yang sedikit.
Sebuah video yang diunggah di kanal Youtube Jejak Richard menggambarkan suasana di pasar tradisional ini. Simak selengkapnya.
Pasar Pon Trenggalek, Ikon Baru Kabupaten Trenggalek

Youtube Jejak Richard ©2022 Merdeka.com
Menurut beberapa sumber, Pasar Pon Trenggalek dibangun sejak Januari-Desember 2020 dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 senilai Rp 73,8 miliar.
Pasar ini mengalami renovasi bear-besaran karena insiden kebakaran hebat pada 2018 silam.
Apabila melihat dari luar, pasar ini tampak megah dan tidak tampak wujud pasar pada umumnya. Ide arsitektur di Pasar Pon Trenggalek berasal dari Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak.
Pasar Pon Trenggalek menjadi ikon baru di Kabupaten Trenggalek karena bentuknya yang diadopsi dari bangunan dengan gaya arsitektur klasik victorian. Presiden Jokowi meresmikan pasar ini pada 30 November 2021 sekaligus membuka pasar ini untuk beroperasi.
Mengadopsi Desain Bangunan di Inggris

Youtube Jejak Richard ©2022 Merdeka.com
Melansir unggahan video di kanal Youtube Jejak Richard Jumat (14/10), bangunan ini mengadopsi arsitektur dua bangunan bersejarah di London, yakni Covent Garden Market dan Royal Opera House.
Pasar dengan luas bangunan 11.900 meter persegi, dapat menampung 479 kios dan 319 los. Pasar ini memiliki dua lantai dengan lantai dasar diisi oleh para pedagang makanan dan oleh-oleh khas Trenggalek. Sementara lantai dua diisi oleh pedagang pakaian.
Secara bentuk bangunan, pasar tradisional ini berbentuk memanjang dan sepintas tampak seperti stasiun. Terlihat juga kerapian dan tata letak pedagang yang diatur sedemikian rupa.
Meski Bergaya Inggris, Tapi Sepi Pengunjung
Rosmiati adalah salah satu pedagang yang telah lama menempati pasar ini, bahkan sebelum pasar ini direnovasi. Dia telah 25 tahun berjualan di Pasar Pon Trenggalek.

Youtube Jejak Richard ©2022 Merdeka.com
Rosmiati mengaku jika dibandingkan dengan sebelum dibangun, pengunjung saat ini jauh lebih sedikit. Menurutnya, dahulu pengunjung sangat ramai. Dia menilai bahwa sepinya pengunjung karena faktor masih perkenalan ke publik.
"Perbandingannya ya lebih ramai yang dulu mas, ramai yang dulu kan masih perkenalan. Cuma ya dibandingkan yang lama itu kan, semua itu kan berkumpul dari yang palen (barang kelontong), kalo yang ini kan khusus kering," imbuh Rosmiati di video.
"Oh ini khusus kering, berarti yang dulu pada berkumpul gitu ya?," tanya host kepada Rosmiati.
"Dulu berkumpul, sekarang sendiri-sendiri," ujar Rosmiati.
Pedagang Lebih Suka Saat Sebelum Direnovasi

Youtube Jejak Richard ©2022 Merdeka.com
Meski bangunan pasar saat ini tampak lebih modern dan eksotis, namun pedagang tidaklah memperhitungkan hal itu. Menurut mereka, meski jauh lebih bagus namun pengunjung malah menjadi berkurang.
Salah seorang pedagang bernama Meni memberikan keterangan lain. Menurutnya dia lebih nyaman dengan kondisi sebelum pasar direnovasi. Meni sudah ada di Pasar Pon Trenggalek sejak tahun 1977.
"Kalau dibandingkan dengan yang dulu itu, enak yang mana pak?," tanya host.
"Tetap enak yang dulu mas, semenjak dibangun ini malah mati pasarnya," ujar Meni menjawab.
"Dulu kan tidak tingkat seperti ini. Ini aja lagi ramai, kalau sepi ya sepi sekali. Beda jauh dari dulu," lanjut Meni.
Beberapa kios memang terlihat masih banyak yang belum terisi karena khawatir sepi pembeli akan berpengaruh pada pengeluaran pedagang.
Video Lengkap
(mdk/thw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya