Kemarahan Warga Amerika Usai US Bombardir Situs Nuklir Iran, 'Trump Harus Pergi, Tak Ada Perang Atas Nama Kami

Berikut video kemarahan warga Amerika usai US bombardir situs nuklir Iran.

Tantiya Nimas Nuraini
Oleh Tantiya Nimas Nuraini - Reporter
Kemarahan Warga Amerika Usai US Bombardir Situs Nuklir Iran, 'Trump Harus Pergi, Tak Ada Perang Atas Nama Kami
Presiden Donald Trump saat berbicara kepada para wartawan di Ruang James Brady Press Briefing di Gedung Putih, Washington, DC pada Senin (11/8/2025). (Dok. AP/Alex Brandon) (© 2025 Liputan6.com)

Di tengah perang Israel-Iran yang kian memanas, Amerika Serikat secara mengejutkan membombardir situs nuklir Iran. Melalui pernyataan resminya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengklaim telah menghancurkan tiga situs nuklir Iran.

Tindakan Amerika Serikat ini tentu langsung menjadi perhatian publik. Apalagi sebelumnya pihak mereka mengatakan membutuhkan waktu dua minggu untuk membuat keputusan atas perang Israel-Iran.

Bukan hanya masyarakat dunia saja, warga Amerika Serikat juga dibuat terkejut akan tindakan mendadak Trump. Mengetahui serangan tersebut, warga Amerika langsung turun ke jalan menunjukkan kemarahannya kepada Trump.

Lantas bagaimana video kemarahan warga Amerika usai US bombardir situs nuklir Iran? Melansir dari akun Instagram sahabatsurga, Senin (23/6), simak ulasan informasinya berikut ini.

Sebuah video yang memperlihatkan kondisi Amerika Serikat setelah Trump mengklaim telah menyerang tiga situs nuklir Iran, viral di media sosial. Alih-alih diam saja, warga Amerika Serikat justru beramai-ramai turun ke jalanan sembari menunjukkan kemarahannya.

"Selamat pagi, San Diego. Amerika sedang marah, kawan. Ini Waterfront Park di gedung daerah di San Diego, California," ujar pria ini dari lantai atas.

Terlihat, ada begitu banyak warga San Diego yang berkumpul dan melakukan demo terhadap keputusan Trump. Saking banyaknya, dalam video tampak orang-orang memadati Waterfront Park. 

Dalam video terlihat pria ini menunjukkan warga Amerika Serikat yang terus berdatangan dan berkumpul di Waterfront Park. Dijelaskan bahwa mereka berkumpul untuk memprotes Donald Trump dan pemerintahannya.

"Kami di sini untuk memprotes Donald Trump dan pemerintahannya," lanjut pria ini menjelaskan sambil masih merekam kondisi di San Diego, California.

Belum berhenti di sana, pria ini juga meminta Presiden Amerika Serikat, Donal Trump untuk pergi. Ia juga menekankan bahwa jangan membawa nama Amerika Serikat saat ikut campur dalam konflik Israel-Iran.

"Trump harus pergi. Tidak ada perang atas nama kami," tutupnya.

Bukan hanya di San Diego saja, unjuk rasa juga meletus di New York dan di luar Gedung Putih pada Minggu (22/6). Bahkan, diperkirakan unjuk rasa akan terus berlanjut sepanjang minggu di berbagai komunitas di seluruh negeri.

Warga Amerika melakukan unjuk rasa terhadap keterlibatan militer US di Iran, seperti dilansir dari USA Today. Sebagaimana diketahui, Trump mengklaim telah memerintahkan dan menghancurkan tiga fasilitas nuklir di Iran di tengah panasnya konflik Israel-Iran.

"Rakyat Amerika Serikat tidak menginginkan perang abadi lainnya. Rakyat Amerika Serikat menginginkan uang untuk memenuhi kebutuhan rakyat!" tulis Partai Sosialisme dan Pembebasan di X.

Protes tersebut, sebagian diorganisir oleh Koalisi ANSWER (Bertindak Sekarang untuk Menghentikan Perang dan Mengakhiri Rasisme), sebuah kelompok antiperang, menyerukan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menghentikan perang terhadap Iran.

Protes lainnya direncanakan dalam minggu mendatang, termasuk pawai nasional "Hentikan Perang terhadap Iran" yang dijadwalkan pada tanggal 28 Juni di Washington, D.C. Selain itu, lainnya melakukan protes di seluruh dunia, termasuk di Jepang dan Iran.

Kongres dijadwakan kembali ke Washington minggu ini. Akan tetapi, banyak dari anggota Parlemen Republik yang memuji langkah Trump.

"Presiden Trump telah konsisten dan jelas bahwa Iran yang bersenjata nuklir tidak akan ditoleransi. Sikap itu kini telah ditegakkan dengan kekuatan, ketepatan, dan kejelasan," kata Ketua DPR Mike Johnson, seorang Republikan dari Louisiana, dalam sebuah pernyataan.

Di samping itu, beberapa anggota Demokrat mengecam 'keputusan sepihak' Trump untuk menyerang Iran tanpa persetujuan kongres. Pihaknya pun menyebut bahwa keputusan tersebut adalah ilegal.

"Langkah ini, yang merupakan kelanjutan gegabah dari penarikannya dari kesepakatan nuklir, menempatkan negara kita, pasukan kita, dan orang-orang tak berdosa pada risiko besar," kata Rep. James Clyburn, seorang Demokrat dari Carolina Selatan, dalam sebuah pernyataan.

"Trump berjanji untuk menjadi pembawa damai dan bersumpah untuk menghindari menjerumuskan AS ke dalam lebih banyak perang di Timur Tengah. Serangan ini tidak konsisten dengan janjinya kepada rakyat Amerika," tutupnya.

Rekomendasi