Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ganasnya Serangan Jayakatwang ke Kerajaan Singasari, Tak Peduli Keluarganya Dibantai

Ganasnya Serangan Jayakatwang ke Kerajaan Singasari, Tak Peduli Keluarganya Dibantai Kerajaan Singasari. ©2018 Istimewa

Merdeka.com - Kerajaan Singasari mengalami banyak kemajuan di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara. Meski begitu tidak selamanya kemajuan tersebut berjalan penuh kedamaian.

Dalam kisah yang ditulis Kitab Pararaton, disebutkan bahwa ada seorang pejabat kerajaan yang lantang terus menentang kebijakan Kertanegara karena tidak selaras dengan pendapatnya.

Salah satunya adalah kebijakan Kertanegara mengirimkan pasukan ekspedisi ke beberapa wilayah Nusantara untuk menguatkan pengaruhnya.

Pemberontakan itu ternyata berakhir dengan kehancuran Singasari. Adalah seorang Jayakatwang yang berhasil menyerang Singasari karena ditinggal dalam keadaan kosong.

Mengutip buku 'Sejarah dan Kisah Kudeta Majapahit' karya penulis Kamil Hamid Baidawi, terbitan Araska 2022, berikut adalah kisah selengkapnya pembantaian Jayakatwang ke Kerajaan Singasari.

Sakit Hati Arya Wiraraja, Awal Kehancuran Singasari

Sosok Arya Wiraraja tampaknya menjadi aktor intelektual di balik kehancuran Kerajaan Singasari. Arya Wiraraja merupakan pribadi yang menentang kebijakan politik Kertanegara terutama terkait ekspedisinya.

Karena dianggap penentang, Arya Wiraraja akhirnya dipecat dan dimutasi ke Sumenep. Arya Wiraraja yang sakit hati berkeinginan untuk melampiaskan kemarahannya ke Kertanegara.

Arya Wiraraja pun akhirnya memerintahkan putranya yang bernama Wirondaya untuk menyampaikan sebuah surat kepada Jayakatwang.

Menurut kisahnya, Jayakatwang merupakan mantan pegawai istana yang pernah diangkat menjadi Bupati Gelang-Gelang. Jayakatwang juga memiliki perasaan benci pada Kertanegara meski masih berhubungan sebagai saudara.

Surat Kode Penyerangan Singasari

Rencana awal Arya Wiraraja adalah dengan menuliskan surat kepada Jayakatwang dengan isi gambaran keadaan Kerajaan Singasari yang kosong karena beberapa pejabat dan tentaranya diutus melakukan ekspedisi ke kerajaan di luar Jawa.

Menurut isi dari Babad Tanah Jawi karya Soedjibto Abimanyu, isi surat tersebut yaitu:

"Patik memberitahukan kepada Kanjeng sinuhun Prabu. Paduka Nata dapat disamakan dengan orang yang sedang berburu. Hendaklah waspada dan pandai memilih saat dan tempat yang sebaik baiknya. Sekarang inilah saat yang palig baik dan paling tepat. Tegal sedang tandus, tidak ada rumput, tidak ada ilalang, daun daun sedang gugur berhamburan di tanah. Bukitnya kecil kecil, jurangnya tidak berbahaya, hanya didiami harimau tua, yang sama sekali tidak menakutkan. Tidak ada kerbau, sapi, rusa yang bertanduk. Jika mereka itu sedang menyenggut rumut baiklah mereka itu diburu, pasti tidak berdaya. Satu satunya harimau yang tinggal adalah harimau guguh yang sudah tua renta yaitu Mpu Raganata."

Jayakatwang yang membaca isi surat tersebut pun memahami makna tersirat dibalik surat Arya Wiraraja. Jayakatwang menilai kondisi Singasari yang tak kondusif membuatnya memiliki kesempatan untuk menyerang pertahanan kerajaan.

Ditinggal Kertanegara, Pertahanan Singasari Lemah

Sepeninggalan Raja Kertanegara yang berekspedisi ke luar Jawa, satu-satunya pahlawan yang menjaga kerajaan hanyalah pembantu Kertanegara yaitu Mpu Raganata yang sudah tua renta.

Melihat kondisi tersebut, Jayakatwang meminta pendapat kepada patihnya, Wirondaya hingga akhirnya memantapkan niat untuk melawan Singasari.

Wirondaya memberikan pandangan kepada Jayakatwang yaitu:

"Semenjak Prabu Kertanegara memimpin pemerintahan, nasihat Mpu Raganata dan Wreda Mahamantri Agung sering diabaikan. Ia cenderung menerima nasihat dari Mahamantri Agung yang baru. Moyang paduka, Prabu Dandang Gendis (Kertajaya) binasa karena pemberontakan Ken Arok, Raja Singasari pertama. Prabu Kertajaya dan bala tentaranya musnah karena tindakan Ken Arok. Padukalah yang mempunyai kewajiban untuk membangun kembali Kerajaan Kediri dan membalas kekalahan dari Prabu Kertajaya."

Ucapan Wirondaya ternyata membuat Jayakatwang semakin yakin untuk menghancurkan Singasari. Dirinya pun menyusun kekuatan untuk menyerang Singasari di bawah pemerintahan Kertanegara.

Pembantaian Brutal Jayakatwang ke Singasari

Penyerangan Jayakatwang ke Singasari terkenal brutal karena dirinya tidak memandang siapapun yang ada di sana. Baik sanak saudara atau keluarga yang menurutnya menghalangi niatnya akan ia habisi.

Sangat brutalnya serangan tentara Jayakatwang yang tiba-tiba mampu menghancurkan kekuatan Singasari. Bahkan tak sedikit keluarga istana yang terbunuh termasuk Kertanegara sendiri.

Tentara Singasari juga kocar-kacir hingga melarikan diri. Raden Wijaya juga tidak mampu menghalau serangan Jayakatwang hingga melarikan diri ke arah timur di Sumenep dan meminta bantuan Adipati Wiraraja.

(mdk/thw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP